Terwujudnya Impian Jalan-Jalan ke Luar Negeri, dan Keberanian Bermimpi Lagi

Endah Wijayanti14 Agu 2021, 11:30 WIB
Diperbarui 14 Agu 2021, 11:30 WIB
berdamai introver

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Sari Handayani

Sewaktu SD, guru kami Ibu Tres bertanya, "Siapa yang sudah pernah traveling ke luar negeri?" Mata kecilku sibuk memperhatikan beberapa tangan terangkat setinggi-tingginya. Aku mendengarkan mereka cerita dengan mata berbinar-binar penuh bangga.

Di masa itu jalan-jalan ke luar negeri hanyalah impian bagiku. Kedua orangtua hanya bekerja sebagai polisi dan PNS. Setiap mereka bercerita tentang negara destinasi liburan mereka aku dalam hati berkata amin dan membayangkan kota-kota yang mereka sebut seperti cerita mereka. "Sari mau nabung ah, nanti kalau sudah besar, punya uang sendiri, Sari mau jalan-jalan ke Eropa, ke Australia dan banyak negara," kataku bergumam dalam hati sambil senyum-senyum. 

Waktu berlalu hingga suatu hari di akhir Mei 2006 aku berhasil menjejakkan kaki mungilku di Bandara Amsterdam, Belanda. Akhirnya aku bisa traveling ala backpacker ke beberapa negara, setelah berbulan-bulan riset bagaimana cara mengurus visa Schengen, membuat rencana perjalanan sedetil mungkin karena aku menggunakan kereta untuk menjelajah kota-kota di Eropa Barat dan banyak hal lainnya.

Perjalananku ke Eropa bukanlah perjalanan fisik semata, tapi juga perjalanan mewujudkan impian masa kecilku. Aku juga memberanikan diri menulis buku dari kisah perjalananku yang membuat aku, seorang praktisi manajemen SDM (Sumber Daya Manusia) dikenal juga menjadi penulis.

Aku menghasilkan satu buku panduan traveling ke Eropa dan satu novel laris Cinderella In Paris. Pengalaman traveling membawaku ke stasiun radio dan televisi serta koran nasional. Pengalaman yang membuat aku berani bicara di depan umum, karena aku juga diundang ke acara-acara pameran buku untuk bicara di panggung. 

 

Berani Bermimpi Lagi seperti Masa Kanak-Kanak

childhood dan sari
Ceritaku./Copyright Sari Handayani

Ternyata semua ini berkaitan. Pada saat aku memutuskan untuk alih profesi dari seorang Praktisi SDM atau orang kantoran menjadi Coach Pengembangan Diri dengan Bazi (Metafisika Tionghoa), aku sudah disiapkan oleh Tuhan untuk mengasah kemampuan bicara di depan umum (public speaking).

Teringat masa kecilku tentang kekuatan mimpi atau kalau sekarang disebut manifestasi keinginan dengan visualisasi, aku kembali manifestasi untuk cepat dikenal khalayak sebagai Bazi Coach. Yang aku bayangkan adalah aku sedang bicara di sebuat stasiun Televisi nasional sedang diwawancara. Tak berapa lama, impianku terwujud, aku diundang Kompas TV untuk bicara tentang Bazi dengan aktor dan istrinya di Tahun Baru Tionghoa 2021!

Kadang seiring dengan bertambahnya usia, kita mulai dibatasi keraguan tentang kemampuan kita, dibatasi apakah mimpi kita terlalu berlebihan, atau kita tergantung validasi orang-orang, terutama teman-teman seumuran. Kita juga dibatasi usia untuk berani punya impian dan kebahagiaan sesuai standar kita, bukan standar orang lain. 

Aku belajar dari pengalamanku untuk mempunyai jiwa kanak-kanak saat melakukan manifestasi, tetap cerita menikmati perjalanan hidupku, tapi juga didukung dengan strategi dan kerja keras. Itu kenapa aku tidak ragu untuk alih profesi menjadi Bazi Coach di usia yang menurut orang tidak muda lagi. Hidup adalah tempat bermain kita, nikmati permainan dengan ceria!

 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela