Kisah Inspiratif Para Guru Mengatasi Pembelajaran di Masa Pandemi

Iwan Tantomi16 Agu 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 16 Agu 2021, 08:30 WIB
Kisah Inspiratif Para Guru Mengatasi Pembelajaran di Masa Pandemi

Fimela.com, Jakarta Kondisi yang belum sepenuhnya kondusif akibat pandemi, membuat sistem pendidikan di Indonesia turut terkena dampaknya. Meski pembelajaran dari rumah atau daring akhirnya dipilih sebagai solusi, kenyataannya hal tersebut belum berhasil diadaptasi setiap guru di negeri ini.

Namun, demi melihat anak bangsa merdeka dari kebodohan, para guru ini buktikan perjuangannya, jika minimnya sarana dan prasarana, bukan halangan untuk tetap membagikan ilmu kepada para anak didiknya.

Hal ini semata-mata dilakukan para guru sebagai dedikasinya mendidik anak bangsa di tengah keterbatasan akibat pandemi. Tujuannya tak lain adalah untuk mewujudkan Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Berikut beberapa kisah inspiratifnya.

Kisah Guru di Sumenep yang Rela Mendatangi Rumah Murid Karena Tak Punya HP

Kisah Inspiratif Para Guru Mengatasi Pembelajaran di Masa Pandemi (1)
(c) Shutterstock

Pembelajaran jarak jauh memerlukan gawai yang memadai, minimal adanya HP. Namun, bagi beberapa siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, hal ini tentu sangat memberatkan. Tak mau melihat siswanya ketinggalan pelajaran, seorang guru di SDN Batuputih Laok 3 Sumenep, Madura, Jawa Timur bernama Pak Avan, rela menyambangi rumah muridnya satu per satu. Dengan semangat kemerdekaan yang dikobarkannya, Pak Avan pun berjuang menjadi pahlawan pendidikan di tengah keterbatasan teknologi.

Keliling Rumah Siswa Juga Rela Dilakukan Guru Honorer di Perbatasan Jateng-Jatim

Semangat kemerdekaan yang ditunjukkan dalam perjuangan mengajar anak-anak bangsa ini juga ditunjukkan oleh Puji Lestari. Statusnya sebagai guru honorer di SDN 2 Tambakromo, Cepu, Blora, tak memupuskan tekadnya untuk tetap membagikan ilmu di tengah keterbatasan teknologi dan pandemi. Meski penuh perjuangan, tapi Puji tetap menyambangi rumah-rumah siswanya untuk belajar, terutama bagi yang tak punya gawai. Ia pun mengaku meski metode ini tak efektif, setidaknya komunikasi antara guru dan siswa tetap terjalin.

Minim Internet, Guru Honorer di Selatan Cianjur, Jawa Barat Rutin Datangi 10 Rumah Siswa Setiap Hari

Kisah Inspiratif Para Guru Mengatasi Pembelajaran di Masa Pandemi (2)
(c) Shutterstock

Hal serupa juga ditunjukkan oleh Dodi Riana, seorang guru honorer di SDN Jaya Mekar, Cikadu, Sindangbarang, Cianjur. Di wilayah tersebut akses internet begitu buruk, sehingga penerapan belajar daring dari rumah tak bisa dijalankan maksimal. Hal ini belum ditambah, beberapa siswa yang tak punya gawai layak untuk belajar. Tak patah arang, Dodi pun menunjukkan kobaran semangat kemerdekaan dalam dirinya, dengan langsung mendatangi 10 rumah siswa yang kesulitan sarana dan pra-sarana belajar daring. Bahkan, ia rela berjuang menerobos jalan rusak sejauh 10km setiap hari, agar semua siswanya benar-benar merdeka dari kebodohan di masa pandemi.

Perjuangan Berat Mengajar di Pedalaman Papua Kala Pandemi

Kisah lebih haru datang dari Tarmin. Ia merupakan guru asal Bima, NTB yang ditempatkan di SMPN 1 Kpudori, Kampung Puweri, Distrik Supiori Utara, Papua. Sudah 15 tahun ia mengabdi di sana. Di masa-masa normal saja, ia harus menempuh 3 jam dari Biak lewat jalur darat, agar bisa sampai ke sekolah. Belum lagi listrik di sana juga kerap padam. Bahkan, ia juga kadang kesulitan mencari beras. Perjuangannya berlipat kerasnya, kala pandemi melanda. Namun, Tarmin tak menyerah, ia tetap mengajar para muridnya dengan sarana dan pra-sarana seadanya selama pandemi. Semua demi melihat anak-anak Papua merdeka dari kebodohan.

Dulu Kuli, Sekarang Jadi Pegiat Literasi di Masa Pandemi

Kisah Inspiratif Para Guru Mengatasi Pembelajaran di Masa Pandemi (3)
(c) Shutterstock

Rohman Gumilar, boleh dibilang ia bukan guru formal pun honorer. Tapi, ia punya jiwa pendidik dalam dirinya. Meski hanya mengenyam pendidikan SD saja, Rohman tak tinggal diam melihat anak-anak di daerahnya yang terganggu sekolahnya akibat pandemi. Sebaliknya, ia sampai rela banting profesi, dari kuli menjadi pegiat literasi. Lewat Taman Baca Masyarakat (TBM), Rohman menyisihkan gaji terbatasnya untuk membeli beberapa buku bekas. Tempat baca ini pun kerap didatangi anak muda untuk memperkaya literasi, bahkan sampai mampu berkarya dan bekreasi.

Apa yang dilakukan oleh para pejuang pendidikan tersebut hanyalah secuil kisah para guru maupun pegiat literasi di negeri ini. Keterbatasan yang ada tak membuat mereka menyerah, tapi justru melecut semangat kemerdekaan dalam diri, agar lebih berjuang keras dalam mendidik anak bangsa apapun kondisinya. Kisah mereka pun patut diteladani dan mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. 

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela