Sekeping Kenangan Masa Kecil di Tanah Kaki Gunung Merapi

Endah Wijayanti16 Agu 2021, 11:35 WIB
Diperbarui 16 Agu 2021, 11:35 WIB
keindahan dieng

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Oktorini Rahmadina Tyasti

Sembilan tahun yang lalu, di usiaku yang menginjak 8 tahun, ada kenyataan bahwa aku harus pindah ke kota lain. Pindah ke bagian dari Kota Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Kabupaten Sleman Sembada. Tidak bisa mengelak lagi, aku berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru yang berupa alam pedesaan, yang lumayan jauh dari pusat kota Yogyakarta.

Awalnya malu-malu. Lama-kelamaan malah memalukan orang tua. Pernah terjelungup saat bersepeda; benjol di kepala, ditertawakan teman-teman, pulang menangis seraya dimarahi. Wajar aku dimarahi karena tidak mendengarkan perintah ibu yang melarangku bermain ketika azan berkumandang. Akhirnya celakalah yang kudapatkan. Firasat ibu memang tak ada duanya. 

Tahun demi tahun berlalu. Aku tidak menyadari satu hal, yaitu aku bertambah dewasa. Usiaku mulai berkurang, tanggung jawabku semakin besar. Mulai pusing dengan matematika, mulai berani mengemukakan pendapat, mulai berani bermain jauh. Melewati pematang sawah dengan berani, mencari ikan di kali, memasak daun dan pasir di samping rumah teman tak peduli dimarahi. Tanpa sadar, semua itu cepat berlalu oleh waktu yang memburu. 

Masa yang Takkan Pernah Kulupakan

childhood dan desa
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Danai+J

Akhirnya tiba di suatu masa ketika aku tidak percaya bahwa kenyataan itu terjadi lagi. Pindah. Pindah. Pindah. Sampai kapan aku harus pindah sebenarnya? Aku mulai tidak ikhlas sembari berdiri di depan rumah yang bukan milikku ini. Ah, memang ini bukan rumahku, tetapi tidak bisakah kesempatan itu ditambah lagi? Namun, apa daya. Aku hanya anak kelas 4 SD yang sebentar lagi sudah bukan anak SD lagi. Kuucapkan selamat tinggal pada tanah kaki Gunung Merapi yang pernah disapa abu vulkanik kawannya, si Gunung Kelud.

Satu hal yang kusesali dari ceritaku ini adalah pada sikapku di mana aku tidak mengabadikan cerita yang ada. Aku terlalu fokus pada masa depan, tetapi aku tidak mengingat masa lalu yang membentukku menjadi seperti sekarang. Jadi, inti dan pesan moral dari cerita ini ialah arahan untuk menghargai waktu dan momen yang ada bersama orang-orang terdekat. Jangan sampai jika hal itu tidak bisa dirasakan lagi, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Waktu adalah emas yang paling berharga. Mendapatkan waktu yang baik sama sulitnya dengan mendapatkan sebuah emas murni yang harganya fantastis. Semua dari kita yang awalnya hanya seorang bocah kecil akan menjadi seorang dewasa yang penuh dengan kenangan. Jangan biarkan kenangan itu menguap oleh waktu yang terus menghanguskan kisah-kisah di dunia. Ia berharga.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela