Tinggal di Bali dengan Ayah Nelayan, Ada Momen Masa Kecil yang Begitu Hangat

Endah Wijayanti16 Agu 2021, 14:05 WIB
Diperbarui 16 Agu 2021, 14:05 WIB
sunset di pantai

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Komang Ayu Astrini

Sejak kecil keluargaku selalu berpindah-pindah rumah dengan jarak yang cukup jauh. Pertama kali dengan jarak 5 km, selanjutnya kurang lebih 10 km, dan terakhir 7 km. Alhasil jarak yang harus kutempuh ke sekolah dengan jalan kaki sangat melelahkan. Terlebih, letak rumah yang terpencil membuatku harus ekstra pagi berangkat ke sekolah agar tidak terlambat.

Kami tinggal di desa kecil bagian timur Bali. Desa Tianyar, dari sanalah asalku. Ayahku seorang nelayan. Aku menyukai kegiatan berpetualang yang sering ayah dan ibu ajarkan untukku. Karena di zamannya, anak seusiaku menghibur diri hanya dengan memanjat pohon untuk memetik buah-buahan di ladang.

Kecintaanku berlayar ke tengah laut dengan ayah di musim libur sekolah tak pernah berhenti. Meski tak selalu mendapat ikan yang cukup untuk dijual, aku bersyukur hasil tangkapan yang ada, digunakan untuk lauk pauk kami sehari-hari.

Setiap hari pukul 04.30 aku harus bersiap membawa 2 ember berisi 3-4 liter air dan 2 ember pakan ternak ayam yang nantinya kuberikan di setiap kandang ayam. Tak hanya itu, ayah dan kakak membagi area kandang yang masing-masing dari kami harus bersihkan agar pukul 6 pagi aku sudah kembali ke rumah untuk bersiap ke sekolah.

Memang awalnya terasa melelahkan, tapi sangat seru bagiku karenanya aku bisa menghirup udara yang begitu segar dan menyaksikan matahari pagi yang hendak terbit di sebelah timur Pantai Tianyar.

Bahagia dan Senantiasa Bersyukur

indahnya bali
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/oneinchpunch

Setiap kali ada upacara persembahyangan di rumah kami, sarananya pun sederhana.  Persembahan yang kami dapatkan hasil dari ladang adalah sumbernya. Sehari-hari bahkan aku hanya makan singkong atau ubi karena tak mampu membeli beras. Segala sumber makanan sebisa mungkin kami dapatkan dengan mencari sendiri di alam atau ladang kami.

Keterbatasan yang kami miliki tak membuatku patah semangat dan melatihku memiliki kemauan yang keras untuk berprestasi, agar setiap aku bersekolah bisa dibiayai dengan beasiswa. Memang, semua yang kuinginkan tak dapat dipenuhi oleh orang tuaku. Namun, tumbuh di tengah-tengah keluarga ini tetaplah karunia Tuhan.

Mereka mungkin tak mengabulkan apa yang kuinginkan, tapi berkat keadaan keluargaku yang seperti ini hidupku selalu mengarah pada hal yang baik. Aku tumbuh menjadi anak yang kuat dan tidak mudah menyerah.

Rasa percaya diri dan mandiri terus bertumbuh dalam diriku. Semua yang aku jalani selama ini hanya mengajarkanku apa arti bersyukur yang sebenarnya. Semua hal terasa nikmat, jika dijalani bersama orang-orang tercinta, yaitu keluarga.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
What's On Fimela