Aku, Kantong Plastik, dan Garam Dapur

Endah Wijayanti18 Agu 2021, 08:15 WIB
Diperbarui 18 Agu 2021, 08:15 WIB
menjalani hidup

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Liana Purba

Perjalanan hidupku dimulai sejak ayahku pergi untuk selamanya. Kerangka pikiranku berubah semenjak kesulitan ekonomi melanda keluargaku, yaitu aku, ibu, dan adikku.

Sebagai anak sulung dari dua orang bersaudara, mau tidak mau suka tidak suka aku harus bisa mandiri. Sepeninggal ayahku, kami terlilit banyak utang untuk biaya perobatan selama beliau sakit dan semua aset keluarga terpaksa tergadai ke bank. Bangkrut, itu kata yang paling tepat. Mulai dari rumah dengan assistennya, kendaraan, bahkan teman-teman semuanya hilang.

Jangankan untuk sekadar menghabiskan akhir pekan bersama keluarga seperti saat masih ada ayah, untuk istirahat di akhir pekan saja susah rasanya, karena aku, ibu, dan adikku harus menghabiskan waktu di pasar sebagai pedagang yang fokus utamanya adalah mencari pelanggan baru. Saat itu kami pindah ke sebuah desa dari yang sebelumnya tinggal di kota besar dengan nama besar usaha orangtuaku.

Namun, hidup harus terus berjalan. Tujuh tahun kuhabiskan waktu terhitung kelas 3 SD menjadi seorang penjual garam dan kantong plastik untuk membantu keberlangsungan hidupku, ibu, dan adikku. Hidup di rumah kontrakan, mau ke mana-mana jalan kaki, bertemankan keringat terik matahari kala siang melanda para pedagang pasar.

Semua Pengalaman Itu Mendewasakanku

menikah sebagai solusi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/chungyam

Ibuku menyewa toko kecil di dalam pasar dan setiap harinya dibantu oleh adikku, sedangkan aku menjual garam dan kantong plastik yang merupakan barang dagangan ibuku, pada saat itu aku berpikir agar garam dan kantong plastik ibuku cepat habis, jadi aku berdagang keliling mencari pembeli.

Betapa senangnya hatiku, saat itu aku ingat betul penjualan hari pertamaku adalah Rp15. 000,- dimana aku selalu membawa 10 tumpuk garam yang masing-masing seharga Rp2.000 dan Rp500,- untuk harga kantong plastik. Jadi saat itu 5 tumpuk garam dan 10 kantong plastikku laku terjual.

Aku belum mengerti apa arti laba dagangan, yang aku tahu saat itu adalah bagaimana agar ibuku senang dan barang ditokonya sedikit demi sedikit laku terjual. Dan di hari pertama pula ibuku menitikan air mata, karena anaknya yang dulu manja ternyata memiliki kesadaran untuk bangkit dari keadaan dan memulai hidup baru sebagai yatim yang sadar akan dirinya.

Aku sempat dirundung disekolah, karena saat itu aku baru pindah sekolah dari kota ke desa. Banyak sekali aku dengar cemoohan teman-teman, tapi aku tidak malu bahkan aku tawarkan toko mamaku kalau orang tua mereka ingin belanja. Dan aku tentunya akan dengan senang hati membawa barang belanjaan dengan kantong plastikku.

Singkat cerita, Tuhan memang Maha Baik. Dia bisa berkehendak sesuai apa yang Dia mau. Tadinya aku tidak berpikir bisa kuliah. Alhamdulillah aku lulusan kebidanan dan adikku lulusan dari PTN ternama di Sumatera Utara. Aku bersyukur untuk semua perjalanan hidupku di masa kecil.

Aku sangat beruntung menjadi anak pilihan-Nya yang dituntut tangguh dalam menjalani proses kehidupan. Sekarang aku sudah menjadi ibu dari satu anak lelaki, aku berharap anakku bisa mengambil hikmah dari ceritaku ini nantinya, bahwa mereka bangga punya ibu dengan cerita manis bersama tumpukan garam dan kantong plastiknya.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela