Tanpa Boneka dan Taman Bermain, Masa Kecilku Bisa Menyenangkan Seperti Itu

Endah Wijayanti18 Agu 2021, 10:15 WIB
Diperbarui 18 Agu 2021, 10:20 WIB
seribu cinta dan cinta tak berbalas

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Kotak Isti

Saya sering membaca kehidupan masa kecil seseorang dipenuhi dengan hal indah. Misalnya kamar penuh boneka kesayangan hingga liburan seru ke taman bermain paling populer di kotanya. Tapi, saya tidak merasakan hal itu. Kamar tidur semasa kecil hanya satu, dan diisi oleh dua orang dewasa dan dua anak-anak, salah satunya saya. Apakah saya sedih dengan tempat tinggal ini? Tentu saja tidak. 

Taman bermain pun bukanlah tempat yang biasa saya kunjungi. Bahkan, saya beranjak remaja tidak pernah mengenal taman bermain. Ya, hanya pasar malam yang datangnya hanya satu tahun sekali. Tapi, saya tetap bahagia dan menjalani kehidupan yang menyenangkan. 

Lebih Suka Uang Dibanding Main

Masih ingat saat duduk di kelas 3 SD, saya sudah bisa menggunakan setrika dengan baik. Karena melihat keahlian tersebut, ada tetangga yang meminta cuciannya disetrika. Beliau memberi beberapa lembar uang karena bersedia membantunya menyetrika. Dari situ, saya lebih suka membantu orang menyetrika dari pada bermain. Yah, tentu saja karena dapat uang.

Tidak hanya menyetrika, terkadang ketika libur sekolah saya juga diminta untuk menjaga toko tetangga. Tentu saja saya luar biasa gembira. Tidak hanya menjaga, terkadang saya juga membersihkan setiap rak-rak etalase barang agar pemiliknya senang. Tentunya, saya lebih senang ketika mendapatkan uang.

Meskti tidak setiap hari, saya lebih suka untuk mengumpulkan uang dari pada bermain. Apalagi mengingat sebagian besar teman sebaya di sekitar rumah adalah laki-laki. 

Katanya Hemat Pangkal Kaya

Ilustrasi keuangan
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

Dari sekolah dini saya selalu terngiang-ngiang dengan istilah "Hemat Pangkal Kaya". Mengingat lahir di keluarga yang pas-pasan, saya mencoba untuk berhemat agar cepat kaya. Setiap pundi-pundi rupiah dari hasil membantu tetangga terkumpul dengan baik di kaleng wafer sisa lebaran. Tidak ada istilah beli jajan atau mainan. Saya kira setelah menabung, akan cepat kaya. Tentu saja tidak seindah angan-angan.

Meski tidak kaya seperti impian masa kecil, saya sangat puas dengan kehidupan masa kecil menyenangkan itu. Di usia dewasa ini, saya masih tahu batasan untuk menggunakan uang dan mengelolanya. 

Satu hal lagi yang masih saya pegang dari pengalaman semasa kecil. Apa pun yang kita inginkan perlu usaha. Dan untuk mendapatkan uang secara instan bukanlah dengan meminjam atau meminta uang. Namun, bekerja. Jika tidak ada pekerjaan, cari lowongan dan tidak sungkan untuk meminta bantuan orang untuk mencarikan pekerjaan. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela