Aku Bersyukur Menghabiskan Masa Kecil di Jayapura

Endah Wijayanti18 Agu 2021, 11:45 WIB
Diperbarui 18 Agu 2021, 11:45 WIB
childhood dan jayapura

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Rahmi Fazriah

“Irian, Irian,” begitu panggilan menggoda beberapa temanku di salah satu universitas swasta di Bandung tempatku berkuliah setelah aku memperkenalkan diri di muka kelas kala itu.  Aku senang dengan panggilan itu karena kebanggaanku telah dilahirkan di kota Jayapura, ibu kota provinsi Irian Jaya. Panggilan itu menjadi identitasku di kampus.

Kini, provinsi Irian Jaya telah berubah nama menjadi provinsi Papua di era pemerintahan Presiden Gus Dur pada tahun 1999. Namun ada yang kusesali saat ada beberapa temanku yang bertanya kala itu: apakah kamu naik perahu saat akan ke sekolah? Apakah masih ada yang tidak memakai baju? Apakah kamu tidak makan nasi? Hello! Aku menepuk jidatku. Apakah sedangkal itu pemikiran anak-anak kota besar kepadaku saat itu? Padahal aku dan teman-temanku yang tinggal di ujung timur Indonesia, selalu mempelajari kemajuan anak-anak di kota besar.

Ingin sekali aku berteriak bahwa aku tinggal di ibukota provinsi Papua, Jayapura, bukan di pedalaman Papua. Semua fasilitas sekolah dan transportasi disediakan untuk kami di era pemerintahan Presiden Soeharto kala itu.

Bahkan Sekolah Dasar kami dari pemerintah ada dua, yaitu Sekolah Dasar Negeri dan Sekolah Dasar Inpres (Instruksi Presisden). Fasilitasnya pun memadai. Kami tidak terbelakang.

Masa Kecil yang Indah

childhood dan majalah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KiattisakLamchan

Ingin sekali aku beberkan bila Jayapura telah menyimpan banyak kenangan manis masa kecilku dengan alam yang masih perawan dan dikelilingi oleh orang-orang yang baik dari beragam suku. Orang tuaku pun selalu menanamkan sifat rukun, tak boleh bersiteru tentang perbedaan agama, suku, ras dan warna kulit sejak aku masih kecil. Aku, si gadis cilik yang mulai belajar menghargai arti perbedaan dan mengasihi di kota kelahiranku, Jayapura.

Walaupun aku lahir di ujung timur Indonesia, aku selalu ingin maju agar tidak ketinggalan dengan kemajuan anak-anak di pulau Jawa. Dahulu ada seorang gadis cilik yang menarik perhatianku kala aku duduk di bangku Taman Kanak-Kanak karena kepercayaan diri dan kecerdasannya.

Sapaanku untuknya adalah Tata. Gadis cilik dari Medan yang berkulit putih dan selalu menjadi nomor satu dalam hal apa pun. Aku terinspirasi pada kerajinannya. Ia pun sosok yang baik hati dan tidak sombong. Dia selalu menyemangatiku dengan satu kata, “Ayo!” Akhirnya, sejak saat itu kami bersahabat.

Tata menghapus rasa minderku karena postur tubuhku yang kurus, berkulit hitam, sakit-sakitan dan hidup lagi. Ups! Lama kelamaan bertumbuh rasa percaya diriku sejak bersahabat dengan Tata, walaupun aku tak pernah berniat untuk melampauinya. Namun secara tak sadar Tata telah mendorongku menjadi seseorang yang mau menggali potensiku sendiri.

Akhirnya, aku menemukan potensiku dalam bidang tari Bali, menyanyi, dan berpuisi. Aku pun mengikuti kursus bahasa Inggris, karate, madrasah setelah ikut sekolah dasar formal dan ikut mengaji, semua karena ajakan Tata kecil.

Aku memiliki rasa suka cita akan masa kecilku yang lain. Masih terpatri di ingatan, di setiap terang bulan di kompleksku kerap mati lampu. Betapa bahagianya hatiku bila saat mati lampu tiba, karena aku akan terbebas dari kewajiban belajar dan bebas pula  bermain bersama teman-teman di depan rumah.

Aku, tiga saudara laki-lakiku, dan teman-temanku berkumpul di jalanan aspal di depan rumah kami dan berdiskusi memikirkan permainan apa yang seru untuk dimainkan beramai-ramai. Kadang kami bermain tali, engklek, sembunyi batu dan membuat layang-layang dari koran yang bisa diterbangkan dengan api. Lalu saat layang-layang mulai terbang, kami akan memekikkan cita-cita kami menembus langit hingga layang-layang hangus berkeping-keping di udara.

Aku baru menyadari bahwa permainan tradisional itu telah mengajarkanku arti sportivitas, kejujuran, kelincahan dan kemampuan kerja sama dengan tim. Sangat mengasyikkan dan bermanfaat untuk pembentukan jiwa kanak-kanakku, jiwa kanak-kanak kami. Apalagi bila ketahuan ada yang bermain curang, wah... bisa dihukum oleh wasit.  Setelah bermain biasanya kami akan saling bertukar mob-mob Papua sebelum menutup malam kami.

Ah, indahnya mengingat semua itu. Kenangan yang tidak akan pernah mengabur di ingatan. Di dalam hati, aku bersyukur telah melewati masa kecil hingga sekolah menengah atasku di Jayapura. Kota yang telah membentuk karakterku, yang masih menghargai arti ketulusan murni. “Irian, Irian!” Sungguh panggilan yang manis untukku.

 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela