Meski Tidak Hidup Berlimpah Harta, Masa Kecilku Bahagia

Endah Wijayanti18 Agu 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 18 Agu 2021, 12:45 WIB
perempuan di taman

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh:  Annisa Nurrahmah

Tumbuh menjadi perempuan dewasa yang kini sering gagal mengelola emosi, membuatku mengurai waktu kembali ke masa kecil. Adakah yang salah dalam pengalaman yang telah kulalui? Apakah ada sesuatu di masa lalu yang mempengaruhi keadaanku kini?

Pada saat itu sedang ramai perbincangan mengenai inner child, yang kutangkap sebagai masa lalu yang penuh luka. Seseorang menjadi pemarah di saat dewasa karena masa kecilnya yang penuh dengan pengalaman buruk. Ternyata aku salah mengartikan. 

Inner child adalah sosok anak-anak yang melekat pada diri kita ketika dewasa dan tanpa disadari dapat muncul ketika mengalami masalah. Inner child tak melulu muncul dalam bentuk luka, tidak selalu berbentuk negatif, tetapi ada juga yang positif misalnya perasaan aman.

Luka yang terbentuk di masa kecil dari pengalaman buruk di masa kecil harus dapat dimaafkan, dibasuh, sehingga dapat menjadi pribadi yang merespon kehidupan dengan baik. Sedangkan mereka yang melalui masa kecil dengan penuh kasih sayang, kehangatan, dan kenyamanan, akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan dan pandai mengelola emosi dengan baik.

Bisa dibilang masa kecilku sangat indah, kalau diibaratkan sebuah jalan maka jalan yang kulalui lurus tanpa hambatan. Aku memang tidak dilahirkan sebagai orang kaya yang selalu dipenuhi keinginannya dan aku sangat yakin  jika harta bukanlah tolak ukur kebahagiaan.

Aku lahir dari Ibu dan Bapak yang penuh kasih sayang, tidak berambisi melainkan memotivasi, memfasilitasi sesuai kesanggupannya, dan mengapresiasi setiap hasil usaha anak-anaknya. Aku tidak hidup di bawah tekanan, masa kecilku dilalui sebagaimana seharusnya anak-anak pada umumnya. Bermain, bermain, dan bermain, sebagai sarana belajar tentunya. Kita memang tidak pernah menyadari bahwa dalam bermainnya seorang anak ada proses belajar.

Menjadi Perempuan yang Kuat

belajar dengan anak
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/ANURAK+PONGPATIMET

Kalau beberapa temanku mengeluh karena ibunya super cerewet, tidak dengan ibuku. Aku termasuk anak yang diberikan kebebasan berekspresi, diberikan kesempatan menyampaikan keinginan, lalu berdiskusi untuk menentukan keputusan.

Aku bisa melakukan kegiatan yang kusuka selama masih berada dalam koridor syariat agama kami. Selain mengikuti kegiatan sekolah yang di dalamnya juga ada berbagai ekstrakurikuler, di akhir pekan aku bersama dua adikku selalu memiliki kegiatan bersama keluarga yang rutin. Misalnya mengunjungi rumah nenek, ikut kegiatan tambahan untuk menambah pengalaman ragam aktivitas, atau hanya berkunjung ke tempat seperti pasar, taman, dan museum. Terkadang kami menghabiskan banyak waktu di rumah pada hari libur. Bangun subuh, main sepeda saat langit masih gelap, dilanjut main badminton, sambil memotong rumput. Selalu ada kegiatan yang kami kerjakan bersama untuk mempererat kedekatan.

Bapak dan Ibu adalah orang tua yang bekerja, mereka pergi ke kantor setelah mengantarku ke sekolah dan pulang di sore hari. Tapi aku merasa mereka berhasil membangun kelekatan dengan anak-anaknya. Oh ya, aku memiliki dua adik.

Adikku yang pertama hanya berbeda 14 bulan denganku, jarak yang dekat menjadikan kami teman main yang saling menemani. Kalau temanku bilang seringkali berantem dengan adiknya, maka aku dan adik pertamaku pantas mendapatkan award adik kakak paling akur. Mereka sering memuji betapa adikku adalah adik yang baik. Ya, dia adik laki-laki yang sangat melindungi kakak perempuannya. Aku pernah dijahili oleh teman lelaki saat TK dulu, dan dengan lantang adikku berkata, “Hei! Jangan ganggu! Itu kakak aku!” 

Menjelang usia delapan tahun, lahir adik bungusuku, anak perempuan yang banyak memberikan warna dalam keluargaku. Masa kecilku semakin seru karena kami bertiga selalu melakukan aktivitas bersama, saling melindungi dan menjaga, merasa ada yang kurang ketika salah satu dari kami tidak ada. Ya, hingga usia dewasa kini kami masih kompak.

Kini aku sudah memiliki tiga anak, aku berharap, anak-anak pun dapat menjalani kehidupan masa kecil dengan penuh suka cita. Inner child yang positif telah mengalahkan pengalaman buruk di masa laluku dan menjadikan aku tumbuh menjadi perempun yang kuat.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela