Masa Kecil yang Tak Mudah Membentuk Pribadiku jadi Perempuan Tegar

Endah Wijayanti18 Agu 2021, 13:45 WIB
Diperbarui 18 Agu 2021, 13:45 WIB
mengakhiri cinta sepihak

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Netty

Berbicara menenai pengalaman masa kecil maka akan ada banyak kenangan yang berlomba muncul di ingatan. Aku, seorang anak kecil di masa itu yang penuh dengan mimpi dan harapan. Anak dari seorang prajurit angkatan darat yang biasa didik dengan disiplin dan keras.

Pernah satu masa aku melakukan kenakalan yang tak patut dicontoh tentunya. Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang ulet. Tiap pagi sampai tengah hari ia akan membawa ayam kampung dan sayuran hasil tanam sendiri di tanah sepetak samping rumah ke pasar. Hasilnya dipakai untuk membantu perekonomian keluarga.

Ibu terbiasa menyisihkan sebagian hasil penjualan dan memasukkannya ke celengan ayam yang terbuat dari tanah liat. Aku yang saat itu tahu tempat ibu menyimpan celengannya, setiap pagi sebelum sekolah akan mencungkil lubang pada celengan dengan menggunakan sebatang lidi. Entah untuk apa kugunakan uang itu, aku pun tak ingat lagi.

Gongnya tentu pada akhir tahun ketika ibu ingin membongkar celengannya. Celengan ayam diangkat dan terasa melayang karena ringannya. Ibu langsung melempar celengan ke lantai. Tanpa perlu membongkar celengan pun ibu tahu ada salah satu anaknya yang rajin mencuri uangnya.

Ayah langsung meminta kami berdiri berjejer di ruang tamu, kami diminta untuk membelakangi ayah, tanpa babibu ayah langsung melibas betis kami dengan ekor ikan pari. Rasanya perih dan nyeri sekali. Malamnya aku langsung demam dan menggigil, butuh waktu beberapa hari untuk kembali sehat. Satu hal yang aku baru tahu ternyata dalam hatinya ayah berjanji semenjak itu ia tidak pernah lagi melibas kami dengan ekor ikan pari tersebut, benda itu pun dibuangnya tanpa kami tahu.

Orangtuaku tak pernah melarang anak perempuannya untuk melakukan aktivitas laki-laki, untuk menambah keterampilan kata mereka. Anak perempuan pun harus bisa mandiri dan tidak selalu bergantung pada laki-laki. Karena itulah aku kecil seringkali memanjat pohon buah-buahan di depan kantor ayahku.

Pembentukan Pribadi

childhood dan masa panen
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/chanchai+duangdoosan

Suatu hari aku mengutip buah mangga udang yang matang pohon, namun seorang rekan ayah berteriak, “Pak Sembiring, anakmu ini manjat pohon, pakai rok pula." Ayah hanya tertawa sambil menyuruhku untuk turun.

Dari kecil aku senang berdagang, padahal orangtuaku tak pernah meyuruhku untuk membantu cari uang dengan menjual sesuatu. Waktu kelas 3 SD aku bersama seorang temanku menenteng gelas dan seceret air putih pergi ke stasiun kereta api dekat rumah.

Pada waktu itu stasiun hanya sebuah tempat pemberhentian kecil dengan bangunan bersifat terbuka, jadi semua orang bebas untuk datang ke stasiun itu. Kami menjajakan air putih kami kepada tiap orang di sana. Uang yang kami hasilkan juga lumayan untuk seukuran anak SD.

Kelas 5 SD aku sering tertarik untuk membantu saudara ayah untuk menjual pisang goreng di pasar tradisional. Upah yang kudapat mulai kutabung. Setelah kurasa banyak yang terkumpul, tabunganku kubongkar. Aku meminta ayah untuk menambahi sebagian karena ingin kubelikan cincin emas ukuran orang dewasa. Cincin kenang-kenangan itu bahkan masih kusimpan sampai sekarang.

Memasuki masa dewasa aku menyadari bahwa hidup tak sesimpel yang kubayangkan saat masa kanak-kanak, terutama sepeninggal ayah. Aku bagai tertampar keras dengan realita di depan mata.

Ibu mulai sakit-sakitan dan saudaraku tidak ada yang bisa diandalkan. Namun aku bersyukur karena sedari kecil aku sudah diajarkan untuk mandiri sehingga aku menekuni berdagang dan bisa menghidupi diriku walau tanpa suami.

Ya aku memilih untuk tidak menikah untuk fokus menyekolahkan adik dan merawat ibu yang sakit bertahun. Cincin yang kuperoleh dari menggoreng pisang saat SD kugadaikan untuk menjadi modal berdagang. Berkat pendampingan Tuhan, apa yang kukerjakan berjalan lancar, ibu pun bisa memperoleh perawatan yang baik walaupun akhirnya harus mengembuskan nafas terakhirnya di hadapanku.

Tidak ada yang perlu kusesali dalam hidup, terutama bagaimana orangtuaku membentukku dari aku kecil. Sifat dan apa yang kuraih sekarang pun tentu merupakan hasil bentukan dari berbagai pengalaman yang kualami waktu aku kecil dan aku bersyukur untuk itu.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela