Diary Fimela: Lezatnya Bakmi Jogja Sundoro yang Bikin Korban PHK Punya Penghasilan Sendiri

Vinsensia Dianawanti21 Sep 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 21 Sep 2021, 07:30 WIB
Diary Fimela: Lezatnya Bakmi Jogja Sundoro yang Bikin Korban PHK Punya Penghasilan Sendiri

Fimela.com, Jakarta Bagi kamu pecinta mi, pasti tahu bakmi Jogja. Bakmi dengan ciri khas mi tebal dan cita rasa yang gurih membuat semua penikmatnya jatuh cinta. Namun siapa sangka jika dari sepiring bakmi Jogja bisa membuat sebagian masyarakat bisa memiliki penghasilan.

Cerita ini berawal dari Bintari Saptanti atau akrab yang disapa Bu Tanti yang ingin membuka kedai bakmi bersama sang anak. Menilai bakmi Jogja buatan Bu Tanti ini sangat lezat tanpa bahan pengawet dan pewarna, akhirnya Bu Tanti memberanikan diri untuk membuka bisnis Bakmi Jogja Sundoro.

Melihat kedai Bu Tanti yang selalu ramai tak jarang membuat orang berdatangan untuk mencari pekerjaan. Hal ini membuat hati Bu Tanti tergerak dan bertekad untuk merangkul masyarakat sekitar untuk menjadi karyawan di kedainya. Tekad tersebut kemudian terwujud saat Bu Tanti berhasil memperluas bisnisnya dengan menambah cabang berupa gerobak yang tersebar di 8 cabang di Semarang. Bakmi Sundoro pun mulai dijual di beberapa rest area di Ungaran Salatiga.

Namun di tengah angin segar yang sedang dirasakan bisnis Bakmi Sundoro, tiba-tiba terjadi pandemi pada Maret 2020 dan aturan PSBB pun mulai diberlakukan. Semua kedai Bakmi Sundoro terpaksa ditutup. hal ini tidak membuat Bu Tanti patah arang. Dirinya mulai berpikir bagaimana caranyamengalihkan penjualan Bakmi Sundoro dari offline menjadi online.

 

Gagap teknologi

Diary Fimela: Lezatnya Bakmi Jogja Sundoro yang Bikin Korban PHK Punya Penghasilan Sendiri
Simak cerita sukses Bakmi Jogja Sundoro yang sukses membuka lapangan pekerjaan bagi korban PHK (Blibli)

Sebagai perempuan yang biasa melakukan banyak aktifitas di dapur, Bu Tanti mengaku tidak terbiasa menggunakan teknologi dan bingung caranya memulai bisnis online. Hal senada juga terungkap dalam riset yang sama, dimana 74% UMKM sudah memahami pentingnya teknologi digital, namun hanya 20% yang memiliki literasi digital memadai untuk memanfaatkan teknologi secara optimal.

“Saya gaptek (gagap teknologi) dan sama sekali tidak mengerti tentang media sosial. Bahkan buat email pun, saya ndak bisa,” aku Bu Tanti.

Meski demikian, Bu Tanti tetap berusaha mencari tahu, salah satunya belajar menggunakan Instagram dari anaknya. Bu Tanti mulai mencoba menggunakan jasa endorsement di Instagram untuk memasarkan Bakmi Sundoro.

 

Mendapat respon positif

Setelah mendapat respon positif dari endorsement, Bu Tanti melihat potensi untuk menjual produk Bakmi Sundoro ke pelanggan secara lebih luas. Bu Tanti mulai melirik e-commerce sebagai tempat berjualan selanjutnya. Setelah bertanya kepada teman dan kerabat, Bu Tanti memutuskan untuk mendaftarkan bisnisnya di Blibli karena prosesnya yang mudah dan platformnya yang terpercaya. Tak lama kemudian, Bu Tanti dikontak oleh tim Blibli Seller Centre dan langsung dibuatkan toko online Bakmi Sundoro Official Store yang hadir di kategori khusus produk lokal Blibli, Galeri Indonesia.

Berbekal pengetahuan tentang e-commerce yang terbatas, Bu Tanti mengandalkan pendampingan dari tim Blibli secara penuh untuk memanfaatkan fitur-fitur penjualan yang ada. Mulai dari pengetahuan dasar digital marketing, hingga pembuatan konten untuk berjualan, seperti foto yang tepat, deskripsi produk yang informatif, dan video tutorial yang menarik. Dalam waktu kurang dari empat bulan, Bu Tanti telah berhasil meningkatkan order bakminya hingga 100%.

 

Selamatkan banyak keluarga

Semua perjuangan Bu Tanti tersebut tidak sia-sia. Kini, Bakmi Sundoro bukan hanya berhasil menjangkau pasar nasional, tapi juga internasional dan sudah dikirim ke Malaysia, Singapura, Jepang, serta Kanada. Jumlah karyawan Bakmi Sundoro pun kini sudah lebih dari 30 orang dan didominasi oleh perempuan di lingkungan sekitar Bu Tanti.

Tekad menolong yang sejak awal tertanam di hati Bu Tanti akhirnya terwujud, bahkan karyawan saat ini kebanyakan adalah korban PHK akibat pandemi. Tak sekadar membuka lapangan kerja, Bakmi Sundoro telah menyelamatkan kehidupan banyak keluarga. Terjual lebih dari 25.000 bungkus sebulan, bisnis Bakmi Sundoro berhasil memperoleh omzet hingga ratusan juta.

Simak video berikut ini

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela