Pengalaman Berjualan saat Masih Kecil Memberiku Pelajaran Penting

Endah Wijayanti25 Sep 2021, 07:15 WIB
Diperbarui 25 Sep 2021, 07:15 WIB
menulis jurnal

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

***

Oleh: Silmi Sabila Ghasani

Dimulai dari uang jajan sejumlah Rp.1.500, tidak pernah terpikirkan olehku untuk belajar mengatur keuangan dan berwirausaha di usia yang sangat belia yakni 7 tahun.  Dalam benakku, saat itu hanya berpikir, "Bagaimana ya caranya supaya aku bisa membeli 3 buah jepitan rambut seharga Rp2.500, sedangkan aku hanya mempunyai uang sebesar Rp1.500?" Tapi, siapa sangka pada akhirnya hal itulah yang membuatku menjadi kreatif dalam berwirausaha dan mengatur keuangan sehingga membuka peluang lebih banyak.

Pada awalnya aku tidak mengerti apa pun soal mengatur keuangan dan tidak ada pikiran untuk berwirausaha. Sementara di usiaku saat itu hanya mengerti bagaimana caranya menghabiskan uang dengan membeli barang-barang yang menarik dan makanan yang enak bersama teman-temanku. 

Aku memulai dengan uang bekal sekolahku sebesar Rp1.500. Kemudian aku sisihkan selama seminggu hingga uangnya terkumpul dan aku bisa membeli 8 buah jepitan rambut. Saat itu aku senang sekali, mempunyai banyak jepitan rambut. Ternyata mendapatkan sesuatu yang diinginkan dari hasil jeripayah sendiri membuat perasaan jauh lebih bahagia ketimbang meminta langsung kepada orang lain. 

Sejak itu pula, aku mulai menyisihkan 30% dari uang jajanku untuk ditabung. Lalu setelah uang tersebut terkumpul, aku membeli banyak jepitan untuk dijual kembali. Karena ketika aku memakai jepitan, teman-temanku tertarik dengan jepitan di rambutku sehingga aku berpikir untuk menjual jepitan rambut di sekolah. 

Ada Kebahagiaan Tersendiri

menulis jurnal
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Vanatchanan+Buahom

Selama tiga bulan, dari setiap penjualan aku memperoleh keuntungan besar dari menjual jepitan rambut, karena aku menjualnya dengan harga dua kali lipat dari harga awal kepada teman-temanku.

Tidak lupa juga, aku belajar menabung dan mengatur keuangan khususnya agar aku tidak boros dalam membeli sesuatu serta belajar memberi kepada orang yang membutuhkan, berapa pun jumlahnya jika dilakukan dengan ikhlas maka akan selalu ada kebaikan yang datang kepada kita. 

Hari berlalu dan keuntungan dari menjual jepitan rambut semakin meningkat. Akhirnya aku menambah barang yang akan aku jual berupa alat tulis, camilan, lotre hingga benda-benda yang menarik seperti pensil raksasa berukuran satu meter dan lainnya. Tidak hanya di sekolah saja, di rumah pun aku menjual makanan "Telur Puyuh" sejenis Takoyaki yang berasal dari Jepang. Aku menjualnya seharga Rp1.000/ 7 buah. Dengan dukungan dari nenekku, aku sangat bersemangat untuk berjualan.

Untuk pertama kalinya aku bisa memberikan uang sebesar Rp100.000 kepada nenekku.  Memang tidak banyak, tapi itu membuatku bahagia. Sampai akhirnya aku harus berhenti berjualan karena sakit dan semua tabungan beserta modal harus aku gunakan untuk berobat.

Meskipun terhenti, aku belajar hubunganku dengan uang, bukan hanya sebatas mengatur kebutuhanku, mencoba berjualan kecil-kecilan tetapi juga pengorbanan dan berbagi kepada sesama. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela