Tetap Membiayai Kebutuhan Adik Meskipun Terjerat Utang Membuatku Lebih Kuat

Endah Wijayanti28 Sep 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 28 Sep 2021, 12:45 WIB
Keuangan

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

Oleh:  Fuatuttaqwiyah

“Ya Allah, panjangkan umurku agar bisa membayar utang. Aku tidak mau meninggal dunia dalam keadaan berutang. Kasihan keluargaku menanggung utangku, sementara kehidupan yang dijalani oleh keluargaku begitu sulit. Tuhan, ampuni dosaku, bimbing hamba agar bisa menyelesaikan tanggungan utang tanpa keluargaku tahu. Amin.”

Itu doa yang kuucapkan di tahun 2010. Kala itu aku benar-benar terpuruk. Bisnisku gagal dan aku terjebak dalam kubangan utang dengan nominal sangat besar, berpuluh-puluh kali dari gaji bulananku. Hari-hari kulalui dengan gelisah. Akankah aku bisa membayar utang sebelum ajal menjemput?

Tubuhku kurus kering. Wajahku pucat. Gairah hidupku amblas. Aku seperti layang-layang putus. Nafsu makanku pun turun drastis. Aku hidup, tetapi pikiranku entah ke mana. Kujalani hari seperti adanya. Satu hal yang ada di benakku, dengan cara apa aku bisa membayar utang yang menumpuk?

Gali Lubang Tutup Lubang

Ternyata syair lagu dari Sang Raja Dangdut itu kualami juga. Gali lubang tutup lubang pinjam uang bayar utang. Itu yang kulakukan. Aku berusaha menutupi utang dengan meminjam beberapa teman. Sayangnya dari yang kupinjami, rata-rata menolak. Hanya 3 orang yang mau meminjamiku.

Uang dari 3 teman itu memang tidak bisa menutupi semua utangku. Namun, sangat membantu mengurangi jumlah utangku. Akan tetapi, bayarannya sangat mahal. Gaji bulananku menjadi jaminan untuk pembayaran utang tersebut. Begitu menerima gaji bulanan, aku langsung membayar utang kepada temanku. Ada yang kucicil per bulan dan ada yang kubayar lunas. Minimal mereka tahu komitmenku untuk membayar utang.

Mencoba untuk Mencairkan Tabungan

aku uang dan menabung gaji suami
Ilustrasi./copyright shutterstock.com/id/g/narith

Rezeki yang tak terduga. Karena aku tidak bisa menabung tabungan rencana, otomatis tabungan rencanaku kembali ke rekening asal. Aku menganggap itu sebagai pertolongan dari Allah. Pas kebetulan aku ditagih utang dengan nominal banyak. Aku bersyukur, utang itu pun lunas. Aku tinggal membayar utang dengan nominal kecil.

Usaha Membayar Utang

Hanya mengandalkan uang gaji, otomatis masa pembayaran utangku berjalan sangat lambat. Aku sampai malu kepada pemberi utang karena belum bisa mencicil. Metode gali lubang tutup lubang sudah tidak kulakukan.  Aku kapok karena tidak banyak membantu. Aku lebih memilih mencicil dengan gaji bulananku.

Kala itu aku memang tidak ada pikiran menambah penghasilan. Tinggal di daerah terpencil dan harus mengurus sekolah berasrama membuatku tidak punya pilihan lain. Mungkin karena aku sudah pusing dengan utang sehingga tidak ada ide untuk mencari tambahan penghasilan.

Tetap Membiayai Adik-adik Meski Kondisiku tak Baik

aku uang dan rasa syukur
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Sirilukok

Walau kondisiku sedang tidak bagus, aku tetap membiayai sekolah dan kuliah adik-adikku. Setengah gajiku habis untuk keperluan adik-adik. Setengahnya untuk membayar utang dan memenuhi kebutuhan dasar harian yang kubuat seminimalis mungkin. Mereka tidak perlu tahu kesulitanku mengirim uang. Cukup aku saja yang menanggungnya.

Demi membayar idup Mutang, hidup minimalis kuberlakukan. Tidak ada jajan, jalan-jalan, beli baju, atau hiburan lainnya. Semua hal yang berbau senang-senang kuhentikan. Fokus pada membayar utang. Liburan semester pun aku tidak berani pulang, demi menghemat pengeluaran. Kebayang kan berapa biaya yang kuperlukan untuk sekali mudik ke kampung halaman? Nilainya bisa untuk mencicil utangku.

Terkadang ada rasa iri melihat teman yang bebas menggunakan uangnya. Aku kapan? Itu pertanyaan yang selalu muncul di benakku.

Akhirnya Aku Terbebas dari Utang

perempuan uang
Ilustrasi/Shutterstock.com/Photo_imagery

Hampir 2 tahun aku terjerat utang dengan nominal besar. Oktober 2012 menjadi momen yang paling membahagiakan bagiku. Aku bisa berteriak lantang. Aku bebas utang. Hidupku menjadi merdeka. Senangnya enggak terkira. Keluargaku pun hingga tulisan ini kutulis tidak ada yang tahu nominal utangku.

Lunas utang membuatku hidup dengan tenang. Badanku kembali seperti semula. Enggak ada lagi mendung di wajahku. Aku bisa tersenyum lebar. Aku bsia tertawa terbahak-bahak. Aku bisa melangkah dengan gagah. Tidak ada beban utang di pikiranku. Aku bisa fokus menabung untuk masa depanku.

Terima kasih ya Allah yang telah memberiku umur panjang sehingga bisa menyelesaikan kewajiban membayar utang. Pelajaran berharga untukku agar tidak mudah percaya pada teman, terutama soal keuangan dan bisnis. Kalau tidak paham betul, mending tidak usah bekerja sama.

Sejak itu aku sangat berhati-hati dalam mengatur keuangan. Prinsip tidak utang kepada siapa pun terus kulakukan hingga kini. Hasilnya, keuangan keluarga cukup, bahkan bisa menabung sedikit demi sedikit.

Ketika akhirnya aku tidak bekerja di perantauan lagi karena satu dan lain hal, aku tidak meninggalkan utang di sana. Jadi, aku meninggalkan kesan baik di perantauan.

Uang itu bagaikan dua mata pisau. Ada sisi positif dan sisi negatif tergantung bagaimana kita menggunakannya. Satu prinsip yang kupegang hingga kini. “Jangan utang.” Bagiku utang adalah jebakan batman. Hati-hatilah dengan utang. Hiduplah dengan sederhana agar keuanganmu terjaga.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela