25 Kutipan Terbaik Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari

Imelda Rahma28 Sep 2021, 13:17 WIB
Diperbarui 28 Sep 2021, 13:38 WIB
Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Fimela.com, Jakarta Supernova adalah sebuah novel karya dari Dee Lestari, yang memiliki beberapa seri untuk dibaca, yaitu buku pertama Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, buku kedua Akar, buku ketiga Petir, buku keempat Partikel, buku kelima Gelombang, dan buku keenam Intelegensi Embun Pagi.

Novel dengan genre science fiction ini, mengisahkan tentang perjalanan dan petualangan manusia sebagai peretas, untuk melindungi kelompok tertentu dalam dunia dimensi lain, agar dunia nyata lebih seimbang, menciptakan kedamaian manusia dan fungsi bumi menjadi stabil.

Setiap kalimat dalam paragrafnya ditulis dengan kalimat puitis yang penuh makna, dengan deskripsi penokohan dan latar cerita yang penuh imajinasi, sehingga para pembacanya bisa ikut berimajinasi dan berkhayal saat membaca novel ini.

Saah satu seri novel yang paling terkenal ialah seri pertamanya yakni, Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Karya seri buku pertamanya ini sampai diangkat ke layar lebar menjadi sebuah suguhan film yang memanjakan emosi penontonnya. Dibalik itu semua, terdapat kutipan-kutipan yang penuh makna tentang kehidupan. 

Untuk itu, berikut Fimela.com telah merangkum 25 kutipan terbaik novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dilansir dari goodreads.com, simak semua kutipan inspiratifnya di bawah ini. 

 

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari
Ilustrasi Membaca Novel Credit: pexels.com/Nataliya

1. “Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

2. “Kamu benar, Puteri. Perasan itu sudah mengkristal.Dan akan kusimpan. Selamanya.”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

3. “Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yg paling hina?”― dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

4. “karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastiaan manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi”― dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

5. “Berhenti memilah antara apa yang diinginkan dan tidak, lalu stagnasi hanya karena anda berkeras atas sesuatu yang sebenarnya harus berubah. Berhenti juga menilai baik buruk dari apapun. Bahkan untuk itu anda hidup. Anda adalah pengamat dan penikmat. Bukan Hakim”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari
Ilustrasi Membaca Novel Credit: pexels.com/Thought

6. “perasaan ini, cukup besar untukku kuat berjalan sendirian tanpa harus kamu ada”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

7. “Saya percaya setiap manusia dapat mewujudkan surga, neraka, berlaku seperti malaikat, dan menjadi iblis itu sendiri.”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

8. “Segalanya terjadi tak terduga-duga. Hanya ada satu yang pasti dalam hidup, yaitu ketidakpastian. Hanya ada satu yang patut Anda harapkan datang, yaitu yang tidak diharapkan.”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

9. “Telepati itu bualan, umpatnya, makanya Alexander Graham Bell ditakdirkan jadi penemu telepon.”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

10. “Menertawakan hidup. Tak ada lagi momen yang lebih menyenangkan. Salah satu kapabilitas agung milik manusia dari Sang Penciptanya yang Maha Humoris.”― Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari
Ilustrasi Membaca Novel Credit: pexels.com/Enzo

11. “Ketika kita balikan cara pandang kita, kenyataan pun berubah. Ternyata, pelacuran terjadi di mana-mana. Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran bahkan jiwanya. Dan bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yang paling hina?”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

12. “Well, semua peristiwa hanyalah semata-mata peristiwa, tapi cara kita menyikapinyalah yang memberi label, kan? Entah itu diberi judul tragedi atau keberuntungan.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

13. “Jakarta. Aku setuju. Kota ini biangnya dualisme. Antara ingin Timur dan berlagak Timur, sembari terdesak habis oleh Barat sekaligus paling keras mengutuk-ngutuk.”― Dewi 'Dee' Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

14. “Untuk itulah ia membutuhkan teknologi, sekadar jadi pembatas buku dari halaman-halaman waktu.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

15. “Semua peristiwa hanyalah semata-mata peristiwa, tapi cara kita menyikapinyalah yang memberi label, kan? Entah itu diberi judul tragedi atau keberuntungan. Dia bisa melihat dirinya sebagai korban atau sebaliknya. Semoga saja dia sadar kalau dia sedang berpijak di semesta yang serbarelatif.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari
Ilustrasi Membaca Novel Credit: pexels.com/Lilartsy

16. “Cinta yang sampai di titik tertentu akan mengaburkan ego. Kebahagiaan istrinya berarti kebahagiaannya. Begitu pun dengan kesengsaraan.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

17. “Ketika anda melepaskan keterikatan pada sesuatu, anda semakin dekat dengan keutuhan.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

18. “Semakin banyak yang anda relakan, semakin besar keluasan diri yang anda rasakan.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

19. “Hidup memang aneh. Banyak penjelasan dalam ketidakjelasannya.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

20. “Sepuluh tahun berlalu, dan senyum itu tetap sama.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari

Kutipan Novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Karya Dee Lestari
Ilustrasi Membaca Novel Credit: pexels.com/Lisa

21. “Sarana kita boleh sama, tapi tidak menjadikan ini ikut tipikal.' Reuben menunjuk kepalanya dengan penuh percaya diri.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

22. “Di sanalah misteri cinta, bukan? Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

23. “Reuben, kalau kemerdekaan yang kamu maksud sejenis keinginan anak kecil yang ingin memberontak kepada ibunya untuk bisa makan es krim waktu sakit flu, itu memang omong kosong. Aku rasa, Tuhan atau kekuatan agung apapun itu, nggak akan memberi hadiah yang dangkal begitu. Menurutku, free will adalah kebebasan manusia untuk mengubah perspektif. Kamu jatuh miskin besok, apakah itu bencana atau berkat yang tersembunyi? Semuanya ada di tanganmu. Free will adalah kemampuan manusia mengubah konteks.” ― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

24. “Tak ada yang lebih menarik daripada menyaksikan seseorang menyelam ke septic tank kotorannya sendiri.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

25. “Mungkin itu salah satu alasan kenapa saya tidak pernah mau serius berkomitmen. Kompromi di pekerjaan bisa dihitung harganya. Tapi, untuk urusan hati, saya pikir siapapun setuju harganya tidak ternilai.”― Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela