Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

Endah Wijayanti14 Okt 2021, 12:35 WIB
Diperbarui 14 Okt 2021, 12:35 WIB
ibu kerja dari rumah

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Deka

Banyak orang bilang bahwa uang suami adalah uangnya istri, sedangkan uang istri adalah milik istri itu sendiri. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk saya saat ini, dimana uang saya adalah uang suami dan juga anak-anak kami. Mengapa demikian?

Sebabnya, saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus tulang punggung bagi keluarga kecil kami. Mungkin banyak perempuan di luar sana yang bernasib sama. Ikhlas tidak ikhlas, mau tidak mau, keadaan ini harus tetap dijalani.

Tepat satu tahun yang lalu, saya lulus tes sebagai calon pegawai negeri sipil di Kabupaten yang letaknya kurang lebih 3 jam dari rumah mertua yang kami tempati waktu itu. Hal ini mengharuskan saya, suami, dan anak-anak pindah ke Kabupaten tersebut.

Sejak pindah rumah untuk menjalankan tugas, kami pun memulai hidup dari nol. Meskipun sudah ada beberapa barang yang kami bawa dari rumah mertua untuk kebutuhan sehari-hari, tetap saja masih ada barang lain yang harus melengkapi. 

Kebetulan rumah kontrakan yang kami tempati saat ini jauh dari pusat perbelanjaan dan pertokoan. Transportasi umum pun amat jarang ditemukan, sehingga mengharuskan warga di sini memiliki kendaraan sendiri untuk bepergian. 

Awal yang Terasa Berat

ibu rumah tangga bekerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/chomplearn

Awal yang terasa berat, ketika terpaksa menggadaikan SK CPNS untuk membeli motor bekas. Dan ini juga terpaksa dilakukan untuk melunasi iuran jaminan sosial. Sebab, untuk masuk menjadi pegawai yang jaminan sosialnya ditanggung pemerintah, sebelumnya harus melunasi jaminan sosial yang dibayarkan secara mandiri terlebih dahulu.

Otomatis, gaji saya pun sudah tidak utuh lagi. Kami pun harus memutar otak agar uang yang saya dapatkan tiap bulan tersebut mencukupi kebutuhan sehari-hari. Suami pun merelakan diri sementara waktu menjadi pengasuh bagi anak-anak kami yang masih balita, karena belum mampu membeli jasa pengasuh. Sampai saat ini, semua kebutuhan hidup kami bergantung pada gaji saya sebagai seorang CPNS.

Setelah 3 bulan bekerja sebagai seorang CPNS, saya pun mendapati angin segar. Di samping gaji, pemerintah juga memberi uang tunjangan penghasilan yang mampu menutupi kekurangan masalah keuangan kami setiap bulannya.

Uang tunjangan tersebut dirapel dari bulan pertama menjadi pegawai hingga bulan-bulan berikutnya. Kami pun bisa sedikit bernafas lega. Namun, saya tidak boleh lengah, karena keuangan harus tetap diatur dengan sebaik-baiknya, mengingat suami belum bekerja dan masih ada uang pinjaman di bank yang harus dicicil selama 2 tahun ke depan.

Baiklah, apa pun kondisinya, uang yang saya dapatkan untuk keluarga saat ini, menjadi suatu kebahagiaan yang luar biasa. Karena, untuk mendapatkan kehidupan kami yang sekarang tidaklah mudah dan butuh perjuangan.

Berjuang dan Bertahan

menjadi ibu rumah tangga penuh
Ilustrasi/Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Selain itu, saya juga bersyukur karena sudah tidak merepotkan mertua yang tadinya turut menanggung biaya hidup saya, suami, dan anak-anak. Oleh karenanya, suami saya saat itu berstatus sebagai pekerja serabutan, sehingga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari saya dan anak-anak.

Rencana saya dan suami untuk satu tahun ke depan adalah mengumpulkan uang alias menabung agar suami bisa mengikuti pelatihan dan pendidikan dasar sebagai seorang satpam mengikuti jejak adik saya yang sebelumnya sudah menjadi seorang satpam di salah satu perusahaan. Setelah mengikuti pelatihan dan diksar tersebut, suami saya akan disalurkan oleh pihak outsourching untuk bekerja di suatu perusahaan, bank, rumah sakit ataupun tempat-tempat lainnya yang membutuhkan.

Saya pikir, waktu satu tahun cukup untuk mengumpulkan biaya untuk mengikuti pelatihan ini. Selain itu, kami juga akan mencari jasa pengasuh profesional untuk anak-anak kami, apabila saya dan suami nantinya sudah sama-sama bekerja.

Lalu, kami pun akan membuat rencana masa depan yang lain-lainnya. Tentu saja dimulai dengan mengelola keuangan keluarga lebih baik lagi, dan membaginya ke dalam pos-pos yang sudah disiapkan dalam rencana masa depan.

Satu prinsip saya, untuk yang pertama dan utama adalah berbagi dengan sesama. Karena, berapap un uang yang kita dapatkan, ada sebagian di dalamnya hak saudara-saudara kita di luar sana. Semoga Allah selalu mencukupkan kita, dengan rezeki yang kita dapatkan. Aamiin.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela