Kisah Anak Petani Asal Sulawesi Tenggara yang Sukses Sabet 3 Medali Emas di PON Papua

Hilda Irach15 Okt 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 15 Okt 2021, 15:00 WIB
Kisah Anak Petani Asal Sulawesi Tenggara yang Sukses Sabet 3 Medali Emas di PON Papua

Fimela.com, Jakarta Sosok Julianti, atlet dayung asal Sulawesi Tenggara menjadi inspirasi bagi 97 atlet Sultra yang berlaga di PON Papua 2021. Pasalnya, wanita 28 tahun ini berhasil menyabet 3 medali emas pada nomor rowing cabang olahraga dayung.

Julianti, merupakan anak petani di Desa Landawe, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara. Dari tujuh bersaudara, hanya dia yang berkiprah di dunia olahraga.

Julianti telah melalui perjalanan panjang sebelum sukses menjadi atlet dayung dan mencetak prestasi di PON Papua 2021. Sang pelatih, M Hadris bercerita bahwa ia bertemu dengan Julianti sekitar 15 tahun lalu. Saat itu, Julianti masih duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Remaja itu, dianggap layak setelah berdiri paling tinggi diantara seluruh rekan-rekannya di sekolah. M Hadris lalu meminta izin guru, kepala sekolah dan orangtua untuk membawanya latihan di Kota Kendari.

Namun, orang tuanya tidak langsung setuju. Ibu Julianti, sempat mengira M Hadris dan seorang rekannya yang berasal dari Dinas Pemuda dan Olahraga Sulawesi Tenggara, sebagai pagere-gere. Sebutan warga lokal kepada orang yang dipercaya berkeliaran sebagai tukang potong kepala.

 

Awal mula berkarier sebagai atlet dayung

Julianti, atlet dayung Sulawesi Tenggara peraih 3 medali emas PON Papua 2021.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)
Julianti, atlet dayung Sulawesi Tenggara peraih 3 medali emas PON Papua 2021.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Setelah melalui proses administrasi, Julianti kemudian resmi berlatih di Pusat Pendidikan dan latihan Latihan Pelajar (PPLP) Sulawesi Tenggara. Sejak saat itu, dia memiliki beberapa partner asal Sulawesi tenggara yang mengantarkan dia merebut gelar di level nasional dan internasional.

Pertama kali masuk di PPLP, anak keenam dari tujuh bersaudara ini berusia sekitar umur 13 tahun. Dia masuk melalui tes singkat di kampungnya, lalu berangkat menuju Kota Kendari.

Julianti mengaku, sebelumnya tidak pernah bercita-cita menjadi pedayung professional. Saat itu, dia hanya ingin belajar dan lulus dengan nilai terbaik, kemudian membahagiakan orangtuanya.

“Belum pernah berpikir mau kerja apa, masih SMP, sampai saya ditemukan pelatih M Hadris dan pak Ahmad, mereka yang datangi saya di sekolah,” ujar atlet kelahiran 1993 itu.

"Saya hanya bersyukur saat itu, orang tua, apalagi ibu tak menolak. Hanya mereka sempat khawatir, kan saya anak perempuan," kenang Julianti.

Prestasi lainnya

Atlet Sulawesi Tenggara peraih emas di rowing 4 min, (kiri ke kanan), Aulia Ghalib, Nevy Lasmin, Julianti dan Ambarani).(Liputan6.com/istimewa)
Atlet Sulawesi Tenggara peraih emas di rowing 4 min, (kiri ke kanan), Aulia Ghalib, Nevy Lasmin, Julianti dan Ambarani).(Liputan6.com/istimewa)

Saat sudah berada di PPLP Sulawesi Tenggara, dia mulai aktif ikut kejuaraan lokal dan nasional. Sampai suatu saat, dia mengikuti seleksi pada saat kejuaraan nasional.

Sebelum PON Papua, Julianti pernah merebut 1 medali emas dan 1 perak d PON XIX Jawa Barat. Pada PON XVIII Riau, dia merebut 3 Medali emas.

Untuk event asia, pada Asian games 2018 Julianti 2 perunggu. Lalu, merebut medali emas pada SEA Games Filipina 2019. Dia juga bersama rekannya, pernah merebut 1 medali emas dan 1 perak pada Asian Championship Thailand 2019.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela