Saat Nasib Buah Hatinya jadi Taruhan, Seorang Ibu Rela Berjuang Lebih Keras

Endah Wijayanti16 Okt 2021, 08:16 WIB
Diperbarui 16 Okt 2021, 08:16 WIB
suami cerai

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Mutiara Edy

Aku tidak pernah menduga sama sekali jika cobaan maha berat itu terjadi pada keluarga kami. Sebelumnya kami adalah keluarga yang berkecukupan. Anak-anakku  dapat menikmati pendidikan di salah satu universitas dan sekolah terbaik yang ada.

Hingga malapetaka itu terjadi. Kami ditipu oleh rekan bisnis hingga kerugian yang kami harus tanggung miliaran rupiah. Saat itu saya benar-benar berada di titik paling bawah hingga rasanya dunia ini begitu sempit hingga bernapaspun rasanya aku sudah tidak kuat lagi.

Saat itu aku hanya dapat menangisi kebodohanku. Penyesalanku rasanya tidak bertepi. Air mata terus saja mengalir. Di saat itu suamiku pun terkena stroke. Suami hanya bisa berbaring lemah di tempat tidurnya.

Aku tersadar bahwa saatnya kini aku harus kuat. Aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak lemah. Nasib anak-anakku kini tergantung pada kekuatan seorang ibu.

Naluriku mulai mencari apa yang dapat kuperbuat dengan segala keterbatasan yang kumiliki terumata di segi finansial. Rasa malu kusingkirkan jauh-jauh.

Menjemput Rezeki

bercerai dengan suami
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku memulai membuka warung kecil. Keberanian untuk belajar memulai hal yang baru tidaklah membuatku takut. Sebab yang ada hanyalah ketakutan jika anak-anakku tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka.

Aku mulai mengajak anak-anakku untuk mulai hidup prihatin. Aku selalu menguatkan mereka untuk tetap tenang. Fokus saja untuk secepatnya bisa selesai.

Aku selalu berupaya untuk tidak kelihatan cemas di depan mereka. Pertanyaan demi pertanyaan yang mereka ajukan selalu kujawab, "Insyaallah kita tidak sendiri, Nak. Allah akan selalu bersama kita. Mama hanya perlu berusaha. Selebihnya biar Allah yang atur."

Meski aku paham betul putraku kadang tidak puas dengan penjelasanku tapi aku selalu saja berhasil untuk membujuknya tetap tenang. Warung kecilku mulai ramai.

Kini aku mempunyai 3 karyawan. Dari warung ini kebutuhan sehari-hari hingga biaya sekolah anak-anakkuku tertutupi. Alhamdulillah tidak terasa air mataku mengalir kembali mengenang saat-saat aku haru bangun ketika orang lain masih terbuai dengan mimpinya.

Aku hanya ingin mengatakan kekuatan seorang ibu akan berlipat ganda ketika taruhannya adalah nasib anak-anaknya. Kini putriku telah menjelma menjadi wanita mandiri dan kuat, gelar S.Ak telah disandangnya dan telah bekerja di sebuah perusahaan dan kini adiknya sebentar lagi selesai dgn IPK rata-rata per semester 3,8.

Ya Rabb, aku tidak pernah ragu akan pertolongan-Mu. Jika Engkau menutup pintu rezekiku hari ini maka hamba-Mu ini yakin pasti Engkau akan membuka pintu rezeki lainnya untukku. Aamiin YRA. Salam penuh kekuatan untuk para bunda yang tengah berjuang demi menopang kehidupan keluarga.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela