27 Kutipan Novel Kau, Aku & Sepucuk Angpao Merah Karya Tere Liye

Kezia Prasetya Christvidya15 Okt 2021, 11:47 WIB
Diperbarui 15 Okt 2021, 14:09 WIB
membaca-kezo

Fimela.com, Jakarta Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah adalah buku novel karya Tere Liye, yang diterbitkan ditahun 2012. Novel ini mengisahkan tentang sebuah cinta sederhana, dengan banyak perjuangan dan kejutan.

Dalam novel ini, para pembaca tidak akan mudah menebak alur ceritanya. Ada banyak kisah misterius di dalam novel ini. Mulai dari kisah amplop merah, kehidupan Mei yang harus dijauhkan dari Borno, tentang ketidak sukaannya Papa Mei, dan lain sebagainya.

Novel ini juga menceritakan tentang perjuangan Borno yang mengejar Mei, hingga akhirnya mengetahui nama Mei. Namun tiba-tiba Mei kembali ke Surabaya untuk menyelesaikan studinya. Lalu Borno memiliki kesempatan untuk pergi ke Surabaya, dan mencari tahu tentang Mei.

Tere Liye menuliskan banyak sekali pelajaran hidup di dalam novel ini, yang ditulis dengan kata-kata penuh makna. Berikut kutipan novel Kau, Aku & Sepucuk Angpao Merah, karya Tere Liye:

Kutipan Novel Kau, Aku & Sepucuk Angpao Merah

membaca-kezo
ilustrasi novel/Karolina Grabowska/pexels

1. Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong.

2. Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan.

3. Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gilau kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita bersarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.

4. Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.

5. Nak, perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.

6. Jika dia memutuskan untuk pergi menjauh, itu berarti sudah saatnya kau memulai kesempatan baru. Percayalah, jika dia memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus dilalui, dia tetap akan bersama kau kelak, suatu saat nanti. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang.

7. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat, hebat sekali benda bernama perasaan itu, dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.

Kutipan Novel Kau, Aku & Sepucuk Angpao Merah

membaca-kezo
ilustrasi membaca/ready made/pexels

8. Ibu, usiaku dua puluh dua, selama ini tidak ada yang mengajariku tentang perasaan-perasaan, tentang salah paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seorang yang diam-diam kau kagumi.

9. Meski dengan menyisakan banyak pertanyaan, aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan.

10. Sayangnya, sore itu juga menjadi sore perpisahanku, persis ketika perasaan itu mulai muncul kecambahnya.

11. Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya.

12. Orang-orang yang mengaku sedang dirudung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya.

13. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya.

14. Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan.

15. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan itu semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.

16. Aku hanya berani bermimpi, sungguh tidak terhitung berapa kali aku bermimpi tentang kau.

Kutipan Novel Kau, Aku & Sepucuk Angpao Merah

membaca-kezo
ilustrasi novel/lilartsy/pexels

17. Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri.

18. Tidak ada kesalahan, kekeliruan, apalagi dosa dalam sebuah perasaan, bukan?

19. Perasaan adalah perasaan, Borno. Orang seperti kau, lebih suka rusuh dengan perasaan itu sendiri.

20. Rusuh dengan harapan, semoga besok bertemu, semoga besok ada penjelasan baiknya. Semoga. Semoga.

21. Nah, walau tiga suku bangsa ini punya kampung sendiri, kampung Cina, kampung Dayak, dan kampung Melayu, kehidupan di Pontianak berjalan damai.

22. Cobalah datang ke salah satu rumah makan terkenal di kota Pontianak, kalian dengan mudah akan menemukan tiga suku ini sibuk berbual, berdebat, lantas tertawa bersama—bahkan saling traktir.

23. Siapa di sini yang berani bilang Koh Acong bukan penduduk asli Pontianak?

24. Apakah sekarang semuanya mulai jelas? Apakah sekarang kau mulai yakin atas hubungan ini? Apakah kau sudah punya jawabannya? Kalau sudah, bisakah kau segera memberitahuku?

25. Kemajuan sedikit saja di hati kau akan memberikan rasa tenteram yang luar biasa bagiku. Bukan sebaliknya, hingga hari ini aku hanya berkutat dengan harapa-harapan---karena itulah yang tersisa.

26. Urusan perasaan itu ajaib sekali, bahkan bisa membuat merasa sepi di tengah keramaian, ramai di tengah kesepian.

27. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela