Berawal dari Kertas Kado, Kini Punya 4 Toko Cabang dan Menggaji 5 Pegawai

Endah Wijayanti16 Okt 2021, 10:35 WIB
Diperbarui 16 Okt 2021, 10:42 WIB
ranah profesional

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Viena Wirianto

Selama puluhan tahun saya hidup dengan sebagai pekerja kantoran, tidak pernah terbesit di otak saya untuk menjadi seorang pengusaha. Namun 2019 menjadi tahun yang membuat saya untuk belajar menjadi seorang wiraswasta. Setelah mengalami PHK dari perusahaan tempat saya bekerja, saya bingung harus bagaimana melanjutkan hidup. Melamar pekerjaan karena faktor umur, faktor perekonomian di Indonesia yang sulit membuat saya tidak diterima di mana–mana. Namun, hidup harus tetap dijalani.

Awalnya saya hanya ikut–ikutan berjualanan online, tapi saya bingung  harus berjualan apa. Karena ikut–ikutan orang,  uang tabungan hampir habis untuk membeli barang–barang yang saya ingin jual di toko saya sekali lagi tidak laku. Malah menjadi sampah, semakin bingung saya.

Saya meremehkan saya berpikir hanya bermodal foto tidak perlu stok maka saya bisa berjualan, ternyata saya salah karena jika ada peminat mau beli barang saya maka saya harus mengambil ke supplier saya, akibatnya untung saya habis untuk di ongkos.

Hingga suatu saat uang modal saya tinggal 500 ribu rupiah, saya tampak termenung di depan kios supplier saya. Saya mau beli apa untuk jualan? Kemudian supplier saya memanggil saya dan menawarkan saya untuk berjualan kertas kado yang murah untuk Natal.

Saya pasrah saat itu hanya mampu membeli 200 lembar dan mampu membeli kertas kado bermerek hanya 200 lembar, saking saya “pelit” saya tidak mau memakai jasa angkut , saya bawa sendiri, walaupun itu berat.

Hasil yang Didapat Berasal dari Kerja Keras dan Perjuangan

usaha kertas kado
Usaha kertas kado./Copyright Viena Wirianto

Ketika saya mengatakan kepada keluarga dan sahabat saya saya bahwa saya mau mencoba berjualan kertas kado, mereka heran. Ada yang meremehkan bahkan ada yang mengatakan seperti ini, "Jika kamu berjualan kertas kado kapan kamu cepat kaya? Profitnya berapa sih? Hanya 200 perak." Ada yang berkata lagi "entar jadi sampah lagi" atau "untuk bungkus kamu saya rasa sudah cukup sih." Namun, saya diam saja.

Saya pun terkejut sendiri, toko saya mulai banyak memesan kertas kado yang saya jual. Saya beranikan diri untuk pinjam uang kepada mama saya. Saya katakan bahwa saya harus mengambil barang secara tunai dan pembayaran terjadi setelah barang itu diterima. Mama saya meminjamkan modal 10 juta rupiah. Saya belikan kertas kado .

Saya tidak berani memboroskan uang pinjaman. Saya pun harus berhemat bahkan saya bawa air minum sendiri bahkan beli barang, angkut, melayanin pembeli, packing barang, mengantar kan barang ke jasa pengiriman semuanya sendirian demi menghemat saya harus berjalan kaki, itu pun saya lakukan. Belum lagi saya harus berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan pembeli.

Bahkan saya ditertawai oleh orang–orang di pasar karena harus berbagi kursi dengan tukang bajaj, karena belakang penuh barang saya sekali lagi saya harus menahan malu dan berusaha saya tidak peduli. Belum lagi omelan pembeli. Namun, saya terus berusaha untuk memperbaikinya semua.

Ruang keluarga dipakai untuk taruh kertas kado. Saya bahkan tidur jam 4 pagi karena untuk packing pemesanan yang masuk. Mama saya tidak tega melihat saya seperti itu, dia mulai membantu saya packing sampai jam 1 malam.

Entah berapa banyak air mata saya keluar untuk merintis usaha ini. Tanpa terasa setahun berjalan sendirian, akhirnya saya mampu menpekerjakan pegawai. Pembeli saya mulai banyak  dan sekali lagi saya harus merelakan kamar saya dijadikan gudang kertas kado. Saya terus belajar memperbaiki kesalahan dari yang saya lakukan .

Tiga tahun berjalan toko saya telah memiliki 4 cabang, sekarang saya telah memiliki 5 pegawai. Stok kertas kado saya telah mencapai 800 ribu lembar, dan saya telah mampu menyewa sebuah ruko. Berawal dari sebuah ruang keluarga yang sempit, saya telah pindah ke ruko 4 lantai.

Orang–orang yang dulu menghina saya, sekarang sangat terkaget–kaget dengan usaha saya. Mereka tidak sangka bahwa kertas kado yang dianggap remeh dan receh tapi berhasil menghidupkan 5 pegawai.

Saya yakin dan percaya jika kita berani menahan malu dihina, lebih baik diam menerima menghina dari mereka tapi kita tetap bekerja keras pasti ada hasilnya.

Jangan menyerah di awal perjuangan hidup kita, karena saya percaya bahwa kita akan menikmati hasilnya. Namun kita tidak boleh malu untuk mengakui kesalahan kita, memperbaiki kesalahan kita.

Saya berpikir memperbaiki kesalahan itu memang sulit, tapi jauh lebih sulit ketika kita mengakui kesalahan yang telah kita lakukan, karena kita merasa diri kita yang paling hebat dan arogan. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela