33 Kutipan Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye yang Menginspirasi

Kezia Prasetya Christvidya18 Okt 2021, 10:17 WIB
Diperbarui 18 Okt 2021, 10:41 WIB
membaca-kezo

Fimela.com, Jakarta Ayahku (Bukan) Pembohong adalah sebuah novel karya Tere Liye, yang diterbitkan pada tahun 2011. Novel ini menceritakan tentang kisah seorang ayah, yang memiliki sebuah pengalaman dalam perjalanan hidup pada saat muda.

Dalam kisahnya, seorang ayah ini memiliki anak bernama Dam, yang menyukai sepakbola dan mengidolakan kapten dari salah satu klub bola di luar negeri. Ayah Dam sering menceritakan banyak hal kepada Dam, namun cerita tersebut tidak hanya sekedar dongeng sebelum tidur saja. Ayah Dam bercerita kalau pernah bertemu dengan kapten sepak bola tersebut, menceritakan tentang Lembah Bukhara dan juga suku penguasa Angin.

Sebenarnya cerita ayah Dam ini tidak bisa diketahui kebenarannya. Tetapi dari setiap kisah yang diceritakan oleh ayah Dam, bisa membentuk karakter Dam menjadi lebih baik, suka menolong orang laing, menjadi pekerja keras, dan memiliki ide yang cemerlang.

Novel ini cocok dibaca oleh kalangan orang tua dan guru. Terdapat banyak sekali pesan moral yang disampaikan di setiap kisahnya, yang bisa menginspirasi para orang tua dalam mendidik anaknya. Berikut kutipan novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye, yang sangat menginspirasi:

Kutipan Novel Ayahku (Bukan) Pembohong yang Penuh Makna

membaca-kezo
ilustrasi membaca/ready made/pexels

1. Suku (Penguasa Angin) itu paham, terkadang cara membalas terbaik justru dengan tidak membalas.

2. Dam, tidakkah cerita-cerita ayah kau membuat kau mengerti bahwa hidup ini harus bisa mengendalikan diri?

3. Ah, yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bukankah Ayah sudah berkali-kali bilang, bahkan kebanyakan orang justru menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain.

4. Mereka siap dengan kekalahan—sama siapnya dengan sebuah kemenangan.

5. Kau tahu, Dam, Laksamana Andalas terkenal di seluruh dunia, dihormati anak buah, teman-temannya, disegani musuh-musuhnya karena disiplin dan selalu tepat waktu.

6. Tidak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan Alim Khan. Dia yakin, siapa yang terus berjuang mengubah nasib, maka alam semesta akan mengirimkan bantuan, terlihat ataupun tidak terlihat.

7. Alim Khan menjelaskan pemahaman hidup yang sederhana, kerja keras, selalu pandai bersyukur, saling membantu.

8. Mereka bukan suku pengecut, Dam. Mereka tidak takut mati demi membela kehormatan, tetapi buat apa? Suku Penguasa Angin terlalu bijak untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Membalas penghinaan dengan penghinaan.

9. Apa bedanya kau dengan penjajah, jika sama-sama saling menzalimi, saling merendahkan? Leluhur Tutekong memutuskan akan menjaga kebijakan hidup mereka selama mungkin. Mendidik anak-anak mereka untuk mencintai alam, hidup bersahaja, dan membenci ladang-ladang tembakau itu.

10. Rasa benci yang tidak harus berubah menjadi perlawanan. Rasa benci yang justru menjadi penyemangat, menjadi keyakinan bahwa mereka akan bertahan lebih lama dibandingkan keserakahan penjajah. Kau ingat itu, Dam, keyakinan bahwa suku mereka akan bertahan lebih lama dibandingkan rasa tamak dan bengis.

Kutipan Novel Ayahku (Bukan) Pembohong yang Memotivasi

membaca-kezo
ilustrasi novel/Aline Viana Prado/pexels

11. Dam, kesombongan dan keserakahan berusia dua ratus tahun itu musnah dalam sekejap. Kepala suku benar, tidak perlu sebutir peluru, juga tidak perlu meneteskan darah anggota klannya untuk memenangkan perang. Yang dibutuhkan hanya kesabaran dan keteguhan hati yang panjang.

12. Mereka memenangkan pertempuran melawan diri mereka sendiri, melawan rasa tidak sabar, menundukkan marah dan kekerasan hati.

13. Ketika kita tidak tahu, bukan berarti kita buru-buru menyimpulkan tidak mungkin. Kita saja yang tidak tahu.

14. Cerita ini bukan tentang betapa dinginnya si Raja Tidur memimpin sidang, Dam. Cerita ini sesungguhnya tentang pengorbanan, keteguhan hati.

15. Kisah ketika kau tetap mendayung sampan sendirian di tengah sungai, yang dipenuhi beban kesedihan, tangis, dan darah bercecer di mana-mana, ketika kau terus maju mendayung bukan karena tidak bisa kembali, tapi meyakini itu akan membawa janji masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya apa pun harganya.

16. Dan kau tahu, Dam, hukum itu sejatinya adalah akal sehat, bukan debat kusir, bukan mulut pintar bicara.

17. Kekuasaan itu cenderung jahat dan kekuasaan yang terlalu lama cenderung lebih jahat lagi.

18. Semua orang cenderung pembantah, bahkan untuk sebuah kritikan yang positif, apalagi sebuah tuduhan yang berimplikasi hukum, lebih keras lagi bantahannya.

19. Bangsa yang korup bukan karena pendidikan formal anak-anaknya yang rendah, tetapi karena pendidikan moralnya tertinggal, dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pintar yang tumbuh jahat.

20. Orang-orang dewasa yang jahat sulit diperbaiki meski dihukum seratus tahun, jadi berharaplah dari generasi berikutnya perbaikan akan datang. Istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya bisa menjadi penyebab sebuah kejahatan, dan sebaliknya juga bisa menjadi motivasi besar kebaikan.

Kutipan Novel Ayahku (Bukan) Pembohong yang Menginspirasi

membaca-kezo
ilustrasi membaca novel/Ekrulila/pexels

21. Cerita-cerita Ayah adalah cara ia mendidikku agar tumbuh menjadi anak yang baik, memiliki pemahaman hidup yang berbeda. Cerita Ayah adalah hadiah, hiburan, dan permainan terbaik yang bisa diberikan Ayah, karena hidup kami sederhana apa adanya.

22. Definisi kebahagiaan ibu kau berbeda, Dam. Keluarga kita amat berbahagia.

23. Apa kata pepatah, hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biar waktu yang menjadi obat.

24. Itu benar, terkadang bagi pasangan yang saling mencintai, kepergian salah satunya bisa berarti kehilangan separuh jiwa—termasuk kehilangan separuh kesegaran fisik.

25. Kau seharusnya memeluk Ayah kau, Dam. Kau tahu, sembilan puluh sembilan persen anak laki-laki tidak pernah lagi mau memeluk ayah mereka sendiri setelah tumbuh dewasa. Padahal sebaliknya, sembilan puluh sembilan persen dari ungkapan hati terdalamnya, seorang ayah selalu ingin memeluk anak-anaknya.

26. Menatap bunga indah ini tentu tidak kau berumur panjang, tetapi menatapnya bisa membuat lapang hati yang sesak, memberikan energi untuk melakukan kebaikan, tidak peduli seberapa sederhana hidup kita.

27. Taani benar, kebencian itu membuatku tidak adil. Kebencian itu membuatku menutup mata atas banyak hal.

28. Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan atau sekedar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati?

29. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia.

30. Ayah sudah menduga, definisi kebahagiaan sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian paling tinggi seorang sufi, dan sepertinya tidak akan diperoleh hanya dengan membaca buku atau bertanya.

31. Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih.

32. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar.

33. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga berasal dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela