31 Kutipan Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer

Kezia Prasetya Christvidya19 Okt 2021, 09:00 WIB
Diperbarui 19 Okt 2021, 09:00 WIB
membaca-kezo

Fimela.com, Jakarta Arok Dedes adalah novel karya Pramoedya Ananta Toer, yang diterbitkan tahun 1999. Novel ini menceritakan tentang kondisi sosial politik yang ada di masa tersebut, dengan perspektif baru terhadap sejarah Ken Arok.

Dalam buku sejarah, Ken Arok diceritakan sebagai seorang pemberontak. Namun dalam buku milik Pram ini, Ken Arok digambarkan sebagai pemimpin rakyat, yang memberontak dan tidak terima akan perlakukan pemerintah, yang suka menindas rakyat di masa itu.

 

Ada banyak pesan moral yang disampaikan oleh penulis dalam novel ini. Sehingga para pembaca bisa memahami tentang sejarah di masa lalu, dan mendapatkan pandangan baru tentang kehidupan di masa itu. Berikut kutipan novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer:

Kutipan Novel Arok Dedes

membaca-kezo
ilustrasi novel/lilartsy/pexels

1. Lihat, ini Arok, yang tetap mempertahankan Tumapel. Dia dan pasukannya akan mempertahankannya sampai titik darah terakhir. Bukan karena imbalan uang, emas dan perak dan singgasana. Hanya karena kesetiaan pada janji.

2. Tak ada brahmana angkuh. Mereka hanya lebih mengerti, lebih tahu daripada orang yang menganggap pengetahuan dan ilmu sebagai keangkuhan.

3. Dia yang terlalu tinggi di atas singgasana tidak pernah melihat telapak kakinya. Dia tak pernah ingat, pada tubuhnya ada bagian yang bernama telapak kaki.

4. Pendengarannya tidak untuk menangkap suara dewa, juga tidak suara segala yang di bawah telapak kaki. Ia hanya dengarkan diri sendiri. Suara murid Bapa ini takkan sampai kepadanya. Untuknya yang paling tepat hanya dijolok.

5. Ada diajarkan oleh kaum Brahmana, orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah berani terkesan dewa di mata si pengecut.

6.  Orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus mengenal mereka lebih dahulu.

7. Ya, Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat?

8. Tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu dikatan pada seseorang atau pada siapapun.

9. Pada dasarnya manusia adalah hewan yang paling membutuhkan ampun.

10. Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa dipercaya.

Kutipan Novel Arok Dedes

membaca-kezo
ilustrasi membaca/Vincenzo Malagoli/pexels

11. Tanpa keberanian hidup adalah tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat.

12. Wanita itu Dewa. Wanita itu Kehidupan. Wanita itu Perhiasan.

13. Tak ada yang bisa bantah Sri Erlangga seorang pembangun besar. Satu yang pada waktunya akan Bapa Mahaguru katakan: hanya satu yang tidak pernah dibangunkannya kedudukan kaum brahmana.

14. Apakah gunanya pendapat kalau hanya untuk diketahui sendiri?

15. Adakah Arok dan semua temannya pernah menghinakan orang? Mengapa kau takut dihinakan? Kau adalah semua yang pernah kau lakukan terhadap kita. Maju!

16. Makin jauh dari Mahadewa dia (manusia) makin kejam.

17. Siapakah yang tahu rahasia para dewa kalau bukan kaum brahmana?

18. Ada diajarkan oleh kaum brahmana: orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah-berani terkesam dewa di mata si pengecut, juga sebaliknya Kakanda, orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah-berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus mengenal mereka lebih dahulu.

19. Orang berilmu, berpengetahuan, dan berbakat itu tak boleh punah.

20. Kalau hati sendiri pun tidak menjawab, itu lah tanda ketidakmampuan, dan ketidakmampuan itu memanggil kerusuhan.

Kutipan Novel Arok Dedes

membaca-kezo
ilustrasi membaca/Sincerely Media/unsplash

21. Kesalahan tindakan tidak pernah terampuni, kecuali hanya oleh Hyang Mahadewa. Untuk itu aďa Mahadewa, karena manusia tidak bersikap pengampun.

22. Mereka (brahmana) tidak perlu takut pada kedunguan. Mereka belajar setiap hari untuk tidak jadi dungu.

23. Tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu dikatakan pada seseorang atau pada siapapun.

24. Setiap kerusuhan di sesuatu negeri, bukan hanya Tumampel, adalah cerminan dari ketidakmampuan yang memerintah.

25. Apakah yang bisa diperbuat oleh seorang perempuan?

26. Yang lebih muda belum tentu lebih tidak tahu, belum tentu lebih pengecut dari pada kau.

27. Barang siapa tidak tahu kekuatan dirinya, tidak tahu kelemahan dirinya. Barang siapa tidak tahu kedua-duanya, dia pusing dalam ketidaktahuannya.

28. Hyang Mahadewa tahu bagaimana membikin Jagad Pramudita seimbang. Kerusuhan mengimbangi kedunguan.

29. Wanita budak paling baik hanya untuk pria budak.

30. Hidup yang berarti, dan mati lebih berarti lagi.

31. Setiap penjahat harus diperlihatkan pada mereka yang telah dijahatinya, biar orang mengerti tampang dan sanubari penjahat!

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
What's On Fimela