Sinopsis Selamat Tinggal karya Tere Liye

Vania Al kautsar21 Okt 2021, 10:15 WIB
Diperbarui 21 Okt 2021, 10:54 WIB
Kutipan Inspiratif Buku Becoming Bagian II

Fimela.com, Jakarta Penulis yang terkenal satu ini memiliki segudang karya yang selalu membuat pembacanya terpukau, mulai dari Bumi, Pulang, Hujan, Burlian, Bintang, Pergi, Komet, dan beberapa karya lainnya.

Tentunya bagi para suka membaca nggak mau ketinggalan denganb beberapa kisah yang diceritakan dalam novel ini yaitu salah satunya Selamat Tinggal yang rilis pada tahun 2020. Berikut sinopsis selamat tinggal karya tere liye :

Sinopsis Selamat Tinggal

Contoh Buku Non Fiksi
Ilustrasi Buku Credit: pexels.com/Annelis

Buku ini menceritakan Sintong Tinggal, salah satu mahasiswa abadi dan berhasil lulus di tahun ke-6 di salah satu fakultas sastra dengan skripsinya Sutan Pane. Sitong sendiri bekerja paruh waktu di salah satu took buku bajakan yang membuatnya tersadar bahwa penulis akan dirugikan atas tindakannya tersebut, terlebih karena ia seorang penulis yang pernah berhenti menulis karena ditinggal cinta pertamanya.

Selain menyukai menulis ia juga suka mendaki di berbagai gunung seperti, Slamet, Arjuno, Sumbing, Lawu, Merbabu, Ceremai, Sindoro, Guntur, Salah, dan banyak lainnya. Ia juga menyukai bermain gitar, wah keren banget ya. Tapi siapa disini yang penasaran dengan kisah cintanya

Di sela kesibukannya mengerjakan Penelitian ia bertemu dengan Jess dan Bunga, salah satu mahasiswa fakultas ekonomi yang mempesona. Pertemuan pertamanya yaitu di toko buku bajakannya, Sintong mulai berkenalan dengan perempuan itu, melalui konsultasi artikel Jess untuk masuk ke GM (Klub menulis di kampus). Siapa sanka pertemuan Sintong dan keduanya membuat Sintong jatuh hati, disini kita akan mengetahui bagaimana kelajutan serta konflik yang disuguhkan dalam novel ini. 

Review Selamat Tinggal

Dalam novel ini sungguh menyuguhkan cerita dengan beberapa konflik yang rumit namun mudah dipahami, Selain itu jangan percaya dengan judul buku ini. Karena tere liye berhasil menipu kita, judul yang dirasa akan memiliki kisah yang sedih justru sebaliknya, dalam novel ini membuat kita tertampar dengan sisi ceritanya.

Kutipan 

"Tulislah sesuatu yang harus dibaca banyak orang bukan yang ingin dibaca banyak orang"

" Setiap kita mendapatkan sesuatu bersiaplah melepsakannya. Karena didunia ini yang sudah milik kita saja bisa hilang, apalagi yang belum"

"Bukan perasaan yang keliru, itu selalu benar. Tapi waktunya, datang diwaktu yang keliru. Tempatnya tumbuh di tempat yang salah, Tidak akan mekar tunasnya, Apalagi berbunga. Tidak"

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by