Melati Suryodarmo Siap Suguhkan Kejutan di Hari Jadi ke-4 Museum MACAN

Novi Nadya24 Okt 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 24 Okt 2021, 12:00 WIB
[Fimela] Sweet Dreams Sweet

Fimela.com, Jakarta Museum MACAN (Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara) bersiap membuka kembali pintunya mulai 26 Oktober 2021. Dalam waktu yang berdekatan, Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara tersebut juga sedang mempersiapkan perayaan hari jadi ke-4 pada November 2021.

Salah satu penampil yang akan memeriahkan hari jadi ke-4 Museum MACAN adalah seniman performans kelas dunia Melati Suryodarmo. Performans tersebut sekaligus mengakhiri pamerannya 'Melati Suryodarmo: Why Let the Chicken Run?' yang sudah berlangsung sejak Februari 2020.

"Memenuhi janji saya, saya akan menampilkan performance karya-karya yang penting bagi saya untuk disajikan. Seperti 'I Love You', 'Transaction of Hollow', 'The Blackball', sampai 'Butter Dance'," ujarnya dalam konferensi pers virtual persiapan pembukkan kembali Museum MACAN akhir pekan lalu.

Dia menambahkan jika 'Butter Dance' menjadi salah satu karya paling lama yang membuatnya sukses melanglangbuana. Karya ini pertama kali ditampilkan di Goethe Institute pada tahun 2006.

"Jadi ini performans kedua kalau di Indonesia di usia yang jauh berbeda. Di atas 50 tahun. Tapi saya akan mencoba dengan penuh niat dan sepenuh hati," lanjut Melati.

Pandemi Ujian Mental

Nippon Paint
Jon Tan - CEO (Decorative Paints) Nippon Paint Indonesia, bersama Aaron Seeto - Direktur Museum MACAN, dan Melati Suryodarmo: ‘Why Let the Chicken Run?’ berbincang usai Press Conference pembukaan pameran tunggal Melati Suryodarmo dan Julian Rosefeldt di Museum Macan (26/2).

Melati pun mengajak para pecinta seni untuk bisa menyaksikan dedicated performance-nya sebagai bagian dari akhir pameran lebih dari 1,5 tahunnya di Museum MACAN. Ya, hingga saat ini eksibisnya masih terpajang rapi di Museum MACAN karena pandemi.

"Karya-karya saya ikut bermeditasi, menjadi penunggu MACAN. Karena masih berlangsung di Oktober 2022 sejak dibuka dari 2020, jadi sudah 1,5 tahun lebih berlangsung dengan tanda petik, ya," katanya.

Menurutnya, pandemi menjadi ujian mental baginya, sebab bagi seniman yang menjadikan media tubuh sebagai medium utama, ia mengaku kehilangan publik. Meski kini bisa diakali dengan tampil di depan kamera untuk live streaming atau dokumentasi, namun esensinya pasti akan berbeda.

"Menjadi ujian mental bagi saya. Masa pandemi banyak mengombang-ambing mental saya, jadi tambah teruji. Tapi, di balik itu saya punya kesempatan untuk berbagi lewat webinar, menulis, mengajar, konferensi, karena selama ini sibuk sekali dengan kegiatan yang terus berjalan," tutupnya.

#Elevate Women 

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela