Menjadi Ibu Bekerja dan Bagian dari Sandwich Generation, Hatiku Terbiasa Tegar

Endah Wijayanti26 Okt 2021, 11:15 WIB
Diperbarui 26 Okt 2021, 11:15 WIB
menjadi ibu bekerja

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Tita Widya

Hampir di antara kita sebagai perempuan, pasti pernah merasa, "Kok hidupku begini ya?" "Apa keputusan yang sudah aku ambil ini benar?" "Nanti bakal kayak gimana ya, kalau aku ambil jalan itu?" bla bla bla bla. Hal-hal seperti ini sangat wajar, apalagi kita kaum perempuan yang pikirannya kadang didominasi oleh perasaan ketimbang logika. Segala efek atas keputusan, pasti dipikirkan jauh-jauh, bahkan sebelum keputusan itu dibuat. Terkadang, malah tidak ada satu pun keputusan yang diambil, karena takut akan konsekuensinya, dan beberapa malah ada yang ambil keputusan yang cenderung 'tabrak', lalu berakhir dengan segudang penyesalan.

Penyesalan. Kata yang terkadang terbit ketika melihat tanggal di kalender bergerak maju tanpa disadari. Begitu banyak rutinitas, dan kegiatan yang telah dilalui, tapi tak pernah sempat terevaluasi. Hanya sekedar menjalani.

Mungkin salah satunya adalah aku. Perempuan yang sebentar lagi menginjak kepala 3, telah memiliki satu anak berusia 3 tahun, dan sudah 3 tahun lebih menjadi seorang akuntan di salah satu perusahaan distribusi. Tidak ada yang istimewa dari semua yang aku jalani sehari-hari. Bekerja, mengasuh anakku setelah bekerja, lalu tidur. Ritme yang terbilang sangat tenang bagaikan air di sebuah danau. Namun, di balik semua yang aku kerjakan, penyesalan rasanya masih memenuhi relung hatiku. Ketika aku berbicara dengan suamiku, ia hanya berkata, "Sabar, jalani saja."

Nampaknya, memang itu jawaban yang terbaik yang ia bisa berikan saat ini. Sabar, syukur dan ikhlas. Sabar dengan rutinitas yang tiada henti. Bersyukur atas rezeki yang telah Allah turunkan, dan ikhlas dengan tumbuh kembang anakku yang banyak aku lewatkan. Mungkin ini yang jadi poin utama penyesalanku selama ini. Tentang anak.

Ada Kesedihan tapi Banyak yang Bisa Disyukuri

ibu rumah tangga bekerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Makistock

Anak yang telah aku nantikan kehadirannya, malah tak pernah mendapatkan kehadiranku disisinya. Melihat senyumnya saat menyambutku pulang, membuatku ingin menangis. Andaikan saja aku bisa, aku ingin setiap detik, setiap menit dan setiap jam selalu bersamanya. Dada rasanya sesak sekali.

Beruntung, adik ibuku yang sekarang mengasuh anakku, sangat menyayangi anakku sepenuh hati. Sehingga anakku tidak kekurangan kasih sayang dari keluarga terdekatnya. Dan tumbuh kembangnya sejauh ini masih terpantau dengan baik. Maha Suci Allah, di tengah pergulatan hatiku, engkau masih memberikan yang terbaik bagi anakku.

Jika diingat, perkembangan anakku banyak yang telah aku lewatkan. Mulai dari saat pertama kali ia 'babbling', merangkak, makan bahkan melangkah. Aku tidak menyaksikan itu semua, hanya berdasarkan cerita dari bibiku mengenai hari-hari yang ia jalani bersama anakku.

Perasaan bersalah kian memuncak. Ketika aku bersama anakku, terkadang aku peluk ia dengan erat. Dan tanpa sadar, air mataku menetes. Anakku pun berkata, "Ma, jangan nangis, aku jadi sedih, nanti hatiku jadi biru." Seketika, aku pun tersenyum karena ia menyebut bahwa hatinya akan menjadi biru. Ia adalah obat dari segala rasa sedihku saat ini. Namun, tetap saja perasaan menyesal dan bersalah selalu menghantuiku.

Aku sadar bahwa memendam perasaan seperti ini sangatlah tidak baik. Namun, aku tidak leluasa bercerita pada keluarga atau sahabatku. Aku ingin menceritakannya pada mereka yang bernasib sama sepertiku. Harus bekerja demi menghidupi ayahku yang sekarang sebatang kara. Aku tidak bisa hanya mengandalkan suami. Gajinya hanya cukup menghidupi kami dan membayar cicilan rumah. Tak banyak yang tersisa dari gajinya selama ini. Adapun yang tersisa, aku sisihkan untuk investasi pendidikan anakku kelak. Menjadi 'sandwich generation', sekaligus ibu rumah tangga, dan ibu bekerja, itulah yang aku jalani saat ini.

Berbagi dengan Sesama Ibu

working mom
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setelah bergumul dengan perasaan menyesal atas semua yang terjadi di hidupku. Aku pun bertemu dengan sebuah komunitas para ibu di sosial media. Di sana, aku banyak mendapat banyak insight baru tentang kehidupan mereka dengan berbagai macam latar belakang. Mengamati dan memahami setiap sisi cerita.

Ada yang seorang janda ditinggal suami selingkuh dan harus menghidupi anaknya sendiri. Ada juga ibu bekerja sepertiku dengan suami yang pengangguran. Dan masih banyak cerita-cerita pahit yang mereka alami. Aku sempat berpikir, mungkin apa yang aku alami memang belum seberapa dibandingkan para ibu itu.

Namun, para ibu di sana sangat terbuka, dan membuatku menceritakan keluh kesah yang aku rasakan selama ini. Alhamdulillah, mereka tidak menghakimi atau meremehkan perasaanku. Mereka memvalidasi apa yang aku rasakan. Memberikanku pelukan walau jauh.

Mereka berkata bahwa saat ini yang aku butuhkan hanya pelukan dan dukungan. Dengan berbagai dukungan dari mereka, pikiranku menjadi terbuka, bahwa aku tidak sendiri. Kita perempuan tangguh, kita bisa menghadapi semua dan menjalani berbagai badai kehidupan. Ini semua mungkin adalah bagian dari perjalanan hidup. Kita harus menjalani fase ini. Karena kita akan menemukan jalan terbaik, ketika waktunya sudah tepat.

Di Indonesia, para perempuan harus mempunyai banyak komunitas seperti ini. Diisi dengan motivasi dan dukungan satu sama lain. Perempuan yang memilih untuk bekerja dan tidak bekerja, bukan untuk di hakimi dan dinilai segala tindak tanduknya.

Pengasuhan anak dapat bekerja secara maksimal bukan karena status pekerjaan kita tapi dari kebahagiaan kita sebagai ibu. Apa pun yang ibu lakukan demi keluarga, itu adalah yang terbaik. Seiring waktu, ketika anak sudah besar, anak akan memahami apa yang ibu lakukan demi dirinya dan keluarga. Kelak, anak akan menjadi sosok anak yang tangguh dan memiliki empati. Semua berawal dari kondisi kita sebagai ibu. Jadilah ibu bahagia, yang menjalani apa pun dengan sepenuh hati.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela