Saking Miripnya, Aku dan Ayah Sering Berdebat tapi Kini Itu yang Kurindukan

Endah Wijayanti30 Nov 2021, 13:45 WIB
Diperbarui 30 Nov 2021, 13:55 WIB
surat ayah dan mirip berdebat

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: R

Hai, Papi.

Ulang tahun Papi sudah lewat, yaitu 23 Oktober lalu. Waktu kecil, aku suka bingung soal hadiah yang ingin kuberikan untuk Papi. Maklum, pemikiranku masih khas anak-anak, begitu terbatas. Aku tidak paham soal minat orang dewasa. Anehnya, Papi hanya tersenyum, tidak banyak meminta.

Sebenarnya, sudah lama sekali aku tidak menulis surat ini untuk Papi. Seratus hari sejak Papi berpulang pada 19 Januari 2014, aku memutuskan untuk berhenti melakukannya. Bukan karena tidak sayang, karena aku tidak perlu membuktikan apa-apa lagi. Tuhan tahu, aku akan selalu sayang Papi.

Selain itu, rasanya sulit sekali untuk kembali menulis surat seperti ini.

 

Aku dan Papi Punya Banyak Kesamaan

surat ayah dan berkumpul lagi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Kita memang tidak pernah banyak bicara soal perasaan, Papi. Aku adalah remaja pemberontak yang takkan pernah bisa dimengerti siapa pun, bahkan Papi sendiri. Papi pasti dulu sangat frustrasi. Maafkan aku yang tidak pernah menjadi sesuai ekspektasi siapa pun, kecuali diriku sendiri. Sebagai sesama Scorpio yang lebih senang mandiri, mungkin hanya butuh waktu bagi Papi untuk akhirnya bisa memahami.

Aku adalah perempuan yang membingungkan. Pasti Papi sering bertanya-tanya, apa mauku? Apa tujuan hidupku? Kenapa aku tidak bisa bersikap normal dan feminin seperti Kakak? Kenapa aku begitu keras kepala dan idealis? Kita begitu mirip, sampai rasanya sulit sekali untuk mengalah dan mulai saling mendengar. Kita lebih sering berdebat tentang banyak hal, sampai kadang aku lelah sekali.

Tapi, benarkah aku tidak pernah mendengarkan Papi? Salah besar. Papi justru pernah menyelamatkanku beberapa kali. Yang paling kuingat adalah satu siang sesudah shalat Jumat. Papi pulang membawa selebaran mengenai bahaya nikah siri. Nikah siri yang artinya “menikah secara sembunyi-sembunyi”, yang sesungguhnya tidak disukai Nabi. Karena bila sampai harus sembunyi-sembunyi, pasti ada yang salah. Pasti itu aib.

Tahu tidak, Papi? Berkat selebaran dari Papi yang dibagikan di masjid dekat rumah sesudah shalat Jumat dulu, aku jadi tidak mudah terbujuk rayuan gombal laki-laki. Papi selalu menasihati, “Lihatlah lebih dekat. Kalau berurusan dengan laki-laki, jangan hanya mendengarkan ucapannya, tapi perhatikan semua tindakannya.”

Pertama kali ngekos seorang diri sesudah Papi tiada di tahun 2014, aku pernah membawa salah satu kaos polo Papi yang berwarna hijau muda. Sayangnya, kaos itu kemudian raib di layanan penatu. Mungkin gara-gara itu kaos laki-laki dan entah siapa yang mengambilnya. Konyolnya, di kamar aku sempat menangis sendirian selama seperempat jam, sebelum akhirnya sadar itu hanya kaos. Bahkan, Mama bilang bukan kaosnya yang membuatku menangis.

 

Kini Hanya Rindu

surat ayah dan janji kepada abah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Samoliotova

Banyak hal yang ingin kuceritakan akhir-akhir ini. Beberapa tahun sesudah 2014, kadang aku masih suka memimpikan Papi. Kadang Papi hanya datang sebentar, mungkin untuk mengecek keadaanku dan memastikan aku baik-baik saja. Pada 2018 lalu, Papi datang lagi ke dalam mimpiku. Kita duduk di depan TV, anehnya menonton film “Avengers: Endgame”. Aneh, karena film itu dibuat bertahun-tahun setelah Papi tiada.

Lalu, setelah film itu berakhir, kudengar suara mobil masuk garasi. Mama dan yang lainnya pasti sudah datang dan akan senang melihat Papi lagi. Tapi, anehnya Papi malah berdiri dan mau pamit. Kata Papi sambil tersenyum padaku, “Mereka nggak apa-apa. Papi cuma ngecek kamu.”

Setelah itu, aku terbangun dan hanya bisa menangis. 

Untunglah, Papi tidak perlu merasakan era pandemi ini yang serba membingungkan. Namun, andai saja aku bisa memilih, aku ingin punya mesin waktu. Aku ingin sekali lagi mempunyai satu kesempatan untuk satu lagi percakapan dengan Papi. Kebodohan yang akan selalu kusesali adalah terlalu banyak membuang-buang waktu dengan membantah Papi. Khas manusia biasa ya, selalu menyesali yang sudah terjadi?

Saat ini, aku hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik, agar tidak terlalu mengecewakan Papi, Mama, dan yang lainnya. Aku masih menulis seperti biasa. Soal rindu, aku sekarang sudah punya penawarnya. Wajah kita sangat mirip, jadi aku tinggal berkaca. Aku juga melihat wajah Papi pada wajah Adik dan Cucu-cucu Papi.

Di era pandemi ini, aku punya hobi baru, yaitu sesekali memberi makan kucing-kucing jalanan sekitar kost tempat tinggalku. Mama yang tidak suka kucing mungkin tidak paham, tapi Papi dari dulu sangat suka kucing. Kita pernah bermain dengan dan memberi makan kucing-kucing. Mungkin, itulah salah satu dari cukup banyak momen kita pernah begitu dekat sewaktu Papi hidup.

Sudah dulu ya, Papi. Semoga beristirahat dengan tenang di sana dan Tuhan mengampuni semua dosa-dosa Papi. Semoga suatu saat nanti, kita ditakdirkan untuk bertemu dan bersama lagi. Aamiin.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela