Ayah Punya Peran Penting dalam Prosesku Menjadi Perempuan Dewasa

Endah Wijayanti01 Des 2021, 16:45 WIB
Diperbarui 01 Des 2021, 16:49 WIB
perempuan sulung tulang punggung

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Ade

Ayahku bukan orang baik, tapi ia mengajarkan kebaikan dalam setiap hela napasnya kepadaku. Ayah, sosok pahlawan yang sampai sekarang ingin aku perlihatkan pada dunia, betapa aku bangga menjadi putri kecilnya. 

Dua puluh tiga tahun yang lalu, tepat di bulan November ini, seorang gadis kecil dilahirkan ke dunia. Betapa besarnya hati Ayah kala itu, melihat putri kecilnya yang menangis di gendongan sang Ibu. Ayah kala itu berjanji, "Akan kulindungi putri kecilku ini dari segala yang akan mematahkan hatinya, akan kulindungi ia dari semua kesedihan yang kelak akan membuatnya menangis."

Waktu bergulir, tahun pun berganti, gadis kecil sudah bisa berjalan, berlari kesana kemari melepas rasa penasaran. Sore itu hujan turun dengan lebat, Ayah pulang dari pekerjaannya yang melelahkan, menjajakan dagangan di pasar yang jauh di sana.

Sang gadis kecil berlari saat mendengar pintu dibuka, memeluk Ayahnya, seolah mengatakan selamat datang Ayah, akan kuhapus lelah ayah seharian ini, terima kasih telah bekerja keras hari ini.

Ayah tersenyum, hilang sudah lelahnya, melihat putri kecil tersenyum memandangnya, memberikan peluk hangat, menggantikan rasa dingin sore di luar sana tadi. Sang gadis kecil dibawa Ayah ke dalam gendongannya, dilambungkan sedikit agak ke atas, gadis kecil tertawa, meminta ayah untuk melambungkan tubuhnya lagi.

"Sebentar, Ayah punya hadiah untuk putri kecil ayah ini, mau lihat?" Gadis kecil memandang ayah dengan mata berbinar lalu mengangguk, Ayah mengeluarkan sepasang sepatu cantik dari tas besarnya. Kata Ayah, sepatu yang cantik akan membawa kita ke tempat yang cantik pula. Gadis kecil tersenyum seakan mengerti, kelak ia akan melihat tempat yang cantik dengan sepatu baru pemberian ayah. 

Ayah yang Selalu Ada di Sisiku

surat ayah dan sinarnya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/karatama_photo

Bumi berevolusi lebih cepat rasanya, gadis kecil sekarang sudah pandai berhitung, menggumamkan perkalian, pembagian, serta perpangkatan. Ia juga sudah bisa membaca, melukis berbagai benda, hingga ikut bermacam lomba.

Setiap perkembangan, berbagai kepandaian, tak pernah luput senyum bangga hadir di wajah Ayah saat melihatnya. Ia mengajarkan berbagai hal, sebagai bekal putri kecilnya menghadapi dunia.

Ayah ingin putrinya mengenal dunia yang lebih luas, mencicip pendidikan yang lebih tinggi, bukan seperti dirinya, yang harus menelan pahit kenyataan bahwa tanpa pendidikan dunia ini terasa lebih berat untuk dilewati. 

Beranjak remaja, tibalah saat di mana gadis kecil membuat keputusan. Ia ingin ke luar kota, pendidikan di luar kota sana kata orang lebih berwarna, ia juga ingin merasakan warna itu. Keputusan merantau disampaikan pada Ayah, saat makan malam bersama kala itu.

Ada rasa tak rela dalam hati Ayah saat mendengar keputusan gadis kecil. Namun apa daya, tekadnya tetap pada satu hal, putrinya berhak mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Negeri kecil tempat bernaungnya selama ini tidak menyediakan tempat pendidikan yang layak untuk putrinya, dengan meyakinkan hati, setelah berdoa pada Yang Kuasa di sepertiga malam, Ayah mantap melepas putrinya.

"Jaga dirimu ya Nak, jaga kesehatan. Kamu boleh melupakan sejenak Ayah dan Ibumu saat kau menuntut ilmu, agar tak terpikir olehmu untuk pulang dan tidak menyerah pada pendidikanmu. Tapi saat kau memiliki rasa ingin berfoya-foya, ingat selalu ayah dan ibumu di rumah sedang membanting tulang demi pendidikan," pesan ayah saat melepas putri kecilnya untuk merantau pagi itu.

Ayah, sudah bertahun lewat sejak pertama kali ayah melepasku ke rantau orang. Iya, gadis kecil itu aku Yah, Ayah ingatkan? Gadis kecil itu sekarang sedang meniti jalan menuju kedewasaan Yah. Ia sedang belajar bagaimana menjadi dewasa yang bijaksana. Sedang mengingat betapa menyenangkan kesehariannya saat menjadi putri kecil Ayah.

Ayah, putri kecilmu ini sekarang banyak menangis Yah. Beban di pundaknya semakin berat. Semesta sering membuatnya patah, hatinya sudah tidak semulus yang dulu Yah, beberapa bagian telah remuk termakan waktu.

Namun, setiap kali suara Ayah terdengar saat sambungan telepon terhubung, rasanya hilang semua beban, pulih semua luka, surut semua tangis penuh duka. Suara ayah pelipur lara si putri kecil ini. Saat dunia menorehkan luka pada hatinya, Ayahlah yang membalut lukanya. Terima kasih, Ayah.

Tak cukup rasanya ucapan terima kasih untuk segala kasih sayang dan jerih payah Ayah untukku selama ini. Hanya doa kepada Yang Maha Kuasa, agar selalu diberikan kesehatan untuk Ayah di rumah. Ingin aku berlari, lalu memberikan peluk yang hangat untuk Ayah, mengatakan bahwa aku rindu menjadi putri kecil Ayah. 

Ayah, mengungkapkan sayang secara lisan mungkin terasa canggung untukku, tapi Ayah adalah lelaki pertama yang paling aku sayang di dunia fana ini. Terima kasih Ayah, aku sayang Ayah.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela