Penyakitku adalah Anugerah, Bukan Musibah

Endah Wijayanti18 Jan 2022, 09:00 WIB
Diperbarui 18 Jan 2022, 09:00 WIB
surat ayah dan rindu yang tak sampai

Fimela.com, Jakarta Kita semua pasti pernah merasakan perasaan tak nyaman seperti rendah diri, sedih, kecewa, gelisah, dan tidak tenang dalam hidup. Kehilangan rasa percaya diri hingga kehilangan harapan hidup memang sangat menyakitkan. Meskipun begitu, selalu ada cara untuk kembali kuat menjalani hidup dan lebih menyayangi diri sendiri dengan utuh. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Bye Insecurities Berbagi Cerita untuk Lebih Mencintai dan Menerima Diri Sendiri ini.

***

Oleh:  Jazzy Eka

Hipertensi di usia yang belum genap 40 tahun terkadang menjadi sebuah sumber insecure yang membuatku minder. Bagaimana tidak, di saat orang lain sibuk berkarier, menjadi orang tua yang aktif, bersosialisasi dengan lincah, aku terkadang harus bolos kerja rutin dengan alasan kontrol ke dokter.

Selain itu, ketika orang-orang tahu penyakitku, mereka seakan menertawakan, "Kamu suka marah-marah ya?" "Kamu kebanyakan stres ya?" "Kamu kebanyakan makan yang asin-asin, gaya hidup kamu tidak sehat, kamu masih muda, kok, kaya nenek-nenek sih?" dan komentar lainnya. Meskipun di sisi lain banyak juga yang mendoakan dan memberi saran untuk mengonsumi ini itu supaya bisa sembuh.

Selain persepsi orang, yang membuatku insecure juga “ketakutan” bahwa hipertensi adalah “silent killer”. Ya, sangat sering kita temukan bahwa seorang yang mengidap hipertensi, tiba-tiba terjatuh, tak sadarkan diri, dan akhirnya tidak tertolong.

Hal tersebut juga menimpa beberapa teman dekat. Hingga, aku merasa “ajalku semakin dekat.” Sungguh terkadang hal ini membuatku meminta ampun kepada Allah, karena seharusnya, sebagai orang beriman, kita memang harus mempercayai datangnya kematian yang bisa kapan saja, di mana saja, bukannya ketakutan tidak beralasan.

Namun, semakin aku mendalami agama dan membaca berbagai referensi tentang penyakitku, aku sangat bersyukur. Penyakitku adalah suatu hal yang menimbulkan banyak energi positif dalam diriku. 

1.  Memperbaiki gaya hidup

Makanan Diet
Ilustrasi/Credit: pexels.com/Farhad

Hipertensi salah satu pemicunya dari makanan sembarangan. Oleh karena itu aku selalu berusaha untuk menyediakan makanan sendiri di rumah, meskipun aku bukan seseorang yang jago masak. Dan lambat laun, aku pun menjadi tertantang untuk bisa membuat sendiri cemilan anak. Hal ini sedikit demi sedikit membuat rasa percaya diriku meningkat.

2.  Menambah empati

aku uang dan soal bekerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/mentatdgt

Setiap bulan sudah menjadi rutinitasku pergi ke rumah sakit untuk melakukan check-up tensi darah. Berada di tengah-tengah para penderita berbagai penyakit, membuat rasa empatiku terpupuk.

Ternyata banyak sekali dari mereka yang Allah uji dengan penyakit lebih berat, bahkan di usia teramat muda. Aku yang terkadang mengeluh merasa sangat malu. Hingga rasa optimisku pun semakin tumbuh untuk sembuh.

 

3.  Semakin dekat kepada Sang Pencipta

my trip story dan mengajar
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/dodotone

Menjadi seorang penderita hipertensi, membuatku semakin sadar bahwa hidup dan mati adalah mutlak hak Ia, Sang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia sungguh tak berdaya dengan ketentuan itu. Hingga kemudian aku sadar bahwa sakitku ini mungkin bentuk kasih sayangNya, supaya aku terus mendekat kepadaNya.

Kini aku menjalani hari-hariku dengan optimis. Aku semakin bersemangat untuk beraktivitas. Dan di saat penyakitku kambuh, aku hanya perlu istirahat menenangkan pikiran. Entah sampai kapan ini akan berlangsung yang terpenting aku harus bahagia dan tetap bermanfaat bagi sesama. 

 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela