Di Balik Kekurangan Diri, Ada Anugerah Lain yang Tuhan Beri  

Endah Wijayanti20 Jan 2022, 11:00 WIB
Diperbarui 20 Jan 2022, 11:00 WIB
perempuan sulung

Fimela.com, Jakarta Kita semua pasti pernah merasakan perasaan tak nyaman seperti rendah diri, sedih, kecewa, gelisah, dan tidak tenang dalam hidup. Kehilangan rasa percaya diri hingga kehilangan harapan hidup memang sangat menyakitkan. Meskipun begitu, selalu ada cara untuk kembali kuat menjalani hidup dan lebih menyayangi diri sendiri dengan utuh. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Bye Insecurities Berbagi Cerita untuk Lebih Mencintai dan Menerima Diri Sendiri ini.

***

Oleh:  Mery Kurniasari

Jika bisa meminta kepada Tuhan, saya ingin terlahir sempurna tidak memiliki kekurangan. Ingin terlihat sempurna cantik, putih, dan memiliki mata yang normal. Mempunyai banyak teman dan memiliki masa sekolah yang indah, tapi hal itu mustahil.

Dari foto yang saya lampirkan tampak jelas kekurangan yang saya miliki. Ya, saya memiliki mata yang juling. Sekitar umur 6 bulan saya mengalami demam step panas tinggi yang akhirnya merusak saraf mata, tetapi ibu saya bersyukur karena tidak menjalar ke syaraf otak. Jika menjalar ke syaraf otak bisa-bisa saya menjadi idiot. Begitu vonis dokter yang merawat saya waktu itu.

 

 

 

Menjadi Korban Bullying

Mery Kurniasari
Foto masa kecil./Copyright Mery Kurniasari

Sungguh berat masa sekolah yang saya alami. Mulai dari sekolah dasar, banyak anak lelaki dan perempuan yang menjauhi karena merasa aneh melihat mata saya. Tak jarang pula mereka merundung dan menyakiti saya secara fisik. Bisa dihitung jari teman yang saya miliki hanya beberapa orang saja.

Pengalaman yang paling membekas di saat saya kelas 3 SD di saat itu pulang sekolah, saya berjalan seperti biasa mencari kendaraan umum untuk pulang ke rumah. Di tengah menunggu kendaraan datang, teman lelaki saya yang terkenal usil mulai merundung saya.

Dia menarik tas saya sampai saya terjatuh kemudian tertawa terbahak bahak, dan meninggalkan saya begitu saja. Di saat itu saya hanya bisa menangis dan menahan rasa sakit bagian pinggul karena mengalami hentakan ke aspal.

Bangkit dan Lebih Optimistis

cinta ibu dan sayang padanya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Lanjut pengalaman SMP tetap sama, saya hanya memiliki beberapa teman saja, saya selalu membungkuk jika berjalan karena takut akan dirundung. Tiap diajak bicara saya tidak berani fokus menatap lawan bicara karena pastinya mata saya tidak sinkron dan berbeda.

Saya selalu menutup diri, tetapi ibu saya yang selalu menguatkan. Beliau berkata, "Di balik kekuranganmu ada anugerah Tuhan yang lain, yakinlah bahwa dirimu sama dengan yang lain, sama-sama ciptaan Tuhan." Kata-kata ini yang selalu menguatkan, saya mencoba membuka diri pelan-pelan, mencoba bergaul dan mulai menggali potensi didalam diri.

Allhamdulillah berkat dari motivasi ibu, saya mulai berani terbuka dan mengembangkan bakat di dunia prestasi akademik. Di sekolah saya selalu mendapat peringkat 3 besar. Bahkan di saat kelulusan SMK saya mendapat predikat siswi dengan nilai terbaik di sekolah saya.

Lulus sekolah saya mudah mendapatkan pekerjaan. Saya menjadi SPG event mainan anak-anak. Saya membuktikan kepada teman-teman bahwa saya yang memiliki kekurangan ini mampu menghadapi semua masa lalu yang suram.

Tetap bangkit dan selalu bersyukur atas apa yang tuhan beri. Tuhan menciptakan semua dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tetaplah cintai dirimu sendiri.

 

 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela