Semangat dari Keluarga Paling Penting Buat Penyandang Disabilitas Merasa Berdaya

Novi Nadya26 Jan 2022, 19:18 WIB
Diperbarui 26 Jan 2022, 22:32 WIB
[Fimela] Penyandang Disabilitas

Fimela.com, Jakarta Ada 20 juta penyandang disabilitas di Indonesia, namun hanya sekitar 19 persen yang bisa kuliah, 18 persen tamat SMA dan sisanya 63 persen lulusan SMP dan SD. Kebanyakan yang tidak melek pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi berada di kawasan pedesaan.

Kendala tingkat pendidikan dan keterbatasan fisik bukan menjadi rintangan utama bagi para penyandang disabilitas berdaya. Sebab yang terpenting adalah membangun mental positif serta dukungan dari lingkungan terdekat yaitu keluarga paling dibutuhkan.

Hal itu diutarakan Hasnita Taslim, seorang tuna daksa dalam sesi IG live desainer Nina Nugroho. Hasnita Taslim sendiri merupakan penyandang disabilitas yang mendirikan perusahaan rekruitmen kerja dari kalangan penyandang disabilitas. 

Melalui bendera perusahaan PT Disabilitas Kerja Indonesia, Hasnita menjembatani perusahaan yang ingin mempekerjakan para disabilitas, seperti dirinya.

“Sampai saat ini banyak perusahaan yang mau mempekerjakan para disabilitas, tapi mereka bingung mau mulai dari mana. Mereka konsultasikan ke perusahaan kami. Misalnya, ada perusahaan yang mau mempekerjakan disabilitas, mau skill yang bagaimana. Oh, mereka butuh orang desain grafis atau yang mahir microsoft office. Oke  untuk desain grafis, talentnya tuna rungu, usianya 32 tahun. Perusahaan  kami yang mendesainkan jenis disabilitas yang cocok bekerja di perusahaan tersebut,” tutur Hasnita Taslim, Founder PT Disabilitas Kerja Indonesia, pada acara Live IG Nina Nugroho Solution #akuberdaya, bertajuk ‘Menjadi Disabilitas Berdaya’ baru-baru ini, di Jakarta.

Mengalami Kecelakaan Saat Liburan di Bali

Hasnita Taslim dan Nina Nugroho
Hasnita Taslim dan Nina Nugroho dalam sesi IG Live #AkuBerdaya

Tak hanya tuna rungu,  disabilitas yang menggunakan kursi roda pun difasilitasi oleh perusahaan milik Hasnita.

“Awalnya banyak yang bertanya, nanti bagaimana kerjanya kalau pakai kursi roda. Jadi perusahaan kami yang mendesainkan strateginya. Sehingga yang pakai kursi roda, pakai tongkat atau tuna rungu bisa kerja di perusahaan-perusahaan, di bank- bank,” lanjut wanita yang di usia 22 tahun mengalami kecelakaan yang berakibat dirinya menjadi disabilitas.

Dikatakan Hasnita, dirinya terlahir normal, tidak pernah terbetik sedikit pun jika dirinya akan menjadi cacat seumur hidup dan menyandang status sebagai disabilitas.

“Saya menjadi cacat setelah kecelakaan saat berlibur di Bali. Aku terlindas truk, kakiku patah. Tulangnya ada yang hilang karena hancur, remuk. Sampai harus operasi sebanyak 5 kali untuk transplantasi kulit dan transplantasi tulang. Selama 4 bulan aku hanya  terbaring di tempat tidur di rumah sakit. Tidak sedikit pun kakiku menyentuh lantai, aktivitasku hanya di tempat tidur,” kenang Hasnita.

Ketika dinyatakan sembuh dan kembali ke rumah, Hasnita mulai belajar menerima keadaan dirinya sebagai disabilitas dengan menggunakan alat bantu kursi roda  untuk beraktivitas. Kakinya tak lagi dapat menopang bobot tubuhnya untuk berdiri dan berjalan.

Dukungan dari Ibunda

Hasnita Taslim
Hasnita Taslim

Bersyukur dirinya mendapat dukungan yang begitu besar dari orang tuanya, terutama sang ibunda.

“Mama saya selalu bilang, sekarang ini lakukan saja sesuatu yang membuatmu bahagia. Kebetulan saya hobi main biola, jadi saya lebih banyak menghabiskan waktu di studio untuk berlatih  biola. Tapi lama kelamaan, saya juga ingin berinteraksi dengan dunia luar. Apalagi setelah saya bisa berdamai dengan keadaan. Akhirnya saya pergi ke mall, dengan menggunakan 2 tongkat. Tapi ternyata waktu keluar rumah, semua mata memandang. Rasanya saya  ingin bilang, please, jangan pandang saya, saya sama saja dengan kalian,” urai Hasnita, lagi.

Menurut Hasnita, semua itu tidak terlepas  dari bagaimana para disabilitas membangun mental positif serta besarnya  dukungan dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.

“Penyandang disabilitas itu yang terpenting adalah punya pemikiran yang positif. Sehingga dia nggak malu keluar rumah, cari-cari kerja. Nah pemikiran positif itu pertama-tama didapat dari dalam lingkungan rumah dulu. Kalau itu sudah ada, maka dia akan mudah cari kerja. Karena pemerintah sudah menyediakan lapangan kerja. Kami sebagai perusahaan rekruitmen juga memfasilitasi. Bahkan penyandang  yang tamatan SMP pun bisa cari kerja, dengan gaji UMK. Karena klien kami mulai dari tambang, bank, perkantoran  sampai kawasan industri di Cikarang. Jadi untuk lulusan SMP saja yang nggak punya keahlian, nggak bisa computer, dia cuma bisa kerja kasar,  kita tempatkan dia kerja jadi gardener. Gajinya bisa Rp4,7 juta, tunjangan savety, asuransi kesehatan dan jamsostek. Jadi yang paling penting itu adalah support positif dari keluarganya dulu. Kalau keluarga sudah mengucilkan, penyandang disabilitas susah punya semangat,” pungkas Hasnita.

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela