Sukses

Lifestyle

Diary Fimela: Metta dan Nova, Dua Sosok Kartini Masa Kini yang Gigih Kenalkan Jamu Indonesia hingga ke Luar Negeri

Fimela.com, Jakarta Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Perjuangan R.A Kartini kala itu rupanya menginspirasi perempuan di masa kini untuk memiliki dedikasi tinggi dan konsistensi dalam menjalankan sesuatu.  

Seperti yang dilakukan oleh dua womenpreneur Indonesia berikut ini, Metta Murdaya selaku Founder of JUARA Skincare, brand skincare asal New York yang memasukan jamu dalam berbagai produk perawatan kulitnya. Serta Nova Dewi Setiabudi selaku founder of Suwe Ora Jamu, brand jamu tradisional Indonesia yang diracik modern.

Dengan semangat Kartini, kedua sosok Kartini masa kini ini berusaha keras untuk mengenalkan jamu Indonesia hingga kancah internasional. Bahkan, beberapa bulan yang lalu Metta dan Nova menggelar roadshow di Amerika Serikat untuk mengenalkan lebih jauh tentang jamu Indonesia.

Jamu Jadi Tren di Amerika

Metta bercerita, roadshow ini dilatarbelakangi oleh tren jamu yang berkembang di Amerika Serikat. Melihat antusias warga Negeri Paman Sam terhadap jamu, Metta pun memanfaatkan peluang tersebut untuk semakin gencar mempromosikan jamu Indonesia.

“Aku tinggalnya di US dan dalam beberapa tahun ini aku melihat apalagi di pandemi Covid-19 banyak orang yang mencari produk yang bisa membuat tubuh mereka merasa enak. Salah satunya dengan mengonsumsi jamu, ini juga menjadi tren di US,” cerita perempuan berdarah Indonesia itu saat dijumpai di PIM 3, Rabu (13/4/2022).

Meskipun jamu kini menjadi tren di luar negeri, Metta justru melihat orang Amerika yang mengenalkan minuman tradisional Indonesia ini, bukan orang Indonesia. Hal inilah yang membuat Metta tergerak untuk mempromosikan jamu tradisional Indonesia melalui roadshow yang digelar bersama Nova.

“Bahkan ada orang Amerika yang membuat merek jamu. Tapi yang menjadi pertanyaan saya adalah ‘kenapa harus orang Amerika yang mengenalkan minuman tradisional kita ke luar negeri dan bukan Indonesia?’ Jadi dari sinilah mengapa roadshow itu penting,” sambungnya.

Sependapat dengan Metta, Nova sendiri mengaku sangat senang jamu Indonesia menjadi tren di luar negeri. Namun, sayangnya hanya sedikit orang yang mengetahui asal-usul jamu itu sendiri.

“Kenapa saya sampai jauh-jauh ke US? karena saya melihat semangat masyarakat di sana itu akan budaya kita itu sangat tinggi.  Namun sayangnya, tidak sampai mendalami asal-usul jamu itu sendiri,” kata Nova.

Memiliki Misi Menjadikan Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Dalam roadshow tersebut, mereka melakukan berbagai kegiatan  seperti workshop, mencicipi jamu Indonesia, hingga bertemu komunitas. Hal ini dilakukan untuk membuka wawasan tentang jamu Indonesia.

“Ketika kami mengajar di University of Louisiana di Lafayette kami bawa jamu yang di luar negeri dan Indonesia. Jadi kami suruh coba mahasiswa di sana, kami ingin mereka merasakan bahwa jamu Indonesia itu berbeda. Karena rempah-rempah yang digunakan saja sudah beda,” cerita Nova.

“Kami ingin membuka wawasan orang-orang di luar negeri bahwa Indonesia itu sangat-sangat berbeda. Bukan hanya soal minum jamu biasa, tetapi mengetahui cerita dibaliknya dan how to make yourself feel good. Jadi dari sisi itu yang kita angkat saat roadshow,” lanjutnya.

Lebih lanjut, keduanya berharap dapat membawa Jamu menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Sebab, seperti budaya Indonesia yang lain, jamu digarisbawahi sebagai warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya. Minuman tradisional ini terbukti secara historis sebagai pengetahuan asli bangsa Indonesia yang telah digunakan selama ribuan tahun dari generasi ke generasi.

Mengedukasi Lewat Buku Jamu Lifestyle

Upaya Metta dalam mempromosikan Jamu Indonesia ke kancah internasional tidak berhenti sampai disitu saja. Wanita yang masuk ke jajaran “99 Wanita Paling Berpengaruh” versi Globe Asia ini juga meluncurkan buku berjudul “Jamu Lifestyle: Indonesian Herbal Wellness Tradition”.

Buku ini, kata Metta, untuk memperkenalkan tradisi kesehatan herbal Indonesia beserta filosofi-filosofi di dalamnya. Melalui buku ini, Metta berharap dapat menjadi pengantar untuk belajar dan menjadi story teller juga untuk orang lain.

“Indonesia punya tantangan ketika ingin menjelaskan tentang jamu karena tidak punya pengantar yang asyik. Jadi buku ini harapannya bisa dibaca sekaligus bisa cerita lagi. Buku ini jadi referensi juga untuk belajar dan menjadi story teller juga,” harap Metta.

Selain menceritakan perihal jamu dari berbagai sudut pandang, buku ini juga menyuguhkan visualisasi yang apik dan mudah dipahami. Terdiri lebih dari 100 foto berwarna yang dipotret oleh fotografer profesional, buku ini juga menyuguhkan hampir 20 resep makanan serta minuman herbal serta panduan tentang bagaimana mengintegrasikan jamu dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kamu yang tertarik, kamu bisa mendapatkan buku “Jamu Lifestyle: Indonesian Herbal Wellness Tradition” ini  di Periplus, Kinokuniya, Books and Beyond, Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Juara Beauty, Suwe Ora Jamu, dan Bika Living.

#Women for Women

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading