5 Cara Tenang Menyikapi Orang yang Suka Memendam Perasaan

Endah Wijayanti14 Jun 2022, 11:45 WIB
Diperbarui 14 Jun 2022, 11:45 WIB
surat ayah dan rindu bapak dulu

Fimela.com, Jakarta Mengelola emosi dan perasaan memang butuh keterampilan tersendiri. Bahkan butuh proses belajar yang tidak sebentar. Mengingat tiap orang punya kepribadian dan tingkat kepekaan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi, maka penting untuk bisa senantiasa terbuka untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai cara berkomunikasi yang tepat.

Kali ini kita akan membahas soal berkomunikasi dengan orang yang suka memendam perasaan atau amarah. Berkomunikasi dengan orang yang kurang lepas atau bebas dalam mengelola emosinya memang butuh strategi sendiri. Berikut ini sejumlah cara sederhana yang bisa dicoba dalam berkomunikasi lebih nyaman dengannya.

 

 

1. Bantu Mengungkapkan Perasaan secara Lisan

surat ayah dan pelukan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Kostikova+Natalia

Mengutip buku How to Love, orang yang sering marah-marah memiliki rasio terkena penyakti kardiopulmoner yang tinggi, sedangkan orang yang suka memendam amarahnya cenderung banyak terkena penyakit kanker. Saat belum bisa mengelola perasaan dan amarah dengan stabil, maka dampaknya bisa langsung ke kesehatan tubuh. Menghadapi orang yang suka memendam perasaan, kita perlu lebih sabar lagi. Bantu ia untuk mengungkapkan perasaannya secara lisan. Yakinkan dia bahwa kita bisa menerima dirinya apa adanya meski dia sedang tidak baik-baik saja.

2. Hadirkan Rasa Nyaman

surat ayah dan mirip berdebat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Mrsiraphol

Kalau orang yang kita hadapi adalah orang terdekat, maka kita bisa membantu menghadirkan rasa nyaman untuknya. Biasanya orang yang suka memendam perasaan tidak ingin membebani orang lain. Baginya, daripada menambah beban orang lain karena suatu emosi yang sedang ia rasakan, lebih baik dipendam sendiri. Padahal menyampaikan emosi dengan jujur sangat diperlukan baginya untuk mencegah ledakan emosi. Maka, kita bisa coba membantunya dengan menghadirkan rasa nyaman dengan memastikan kita akan selalu ada di sisinya baik saat suka maupun duka.

 

3. Ceritakan tentang Diri Sendiri

surat ayah dan potongan cerita
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vanatchanan+Buahom

Agar dia mau lebih terbuka, kita bisa lebih dulu terbuka dalam berkomunikasi. Kita bisa coba menceritakan tentang diri sendiri atau tentang pengalaman yang kita rasakan. Saat kita sudah mulai terbuka, dia bisa ikut terbuka karena merasa sudah diberi kepercayaan. Dapatkan kepercayaannya dengan membuka diri dalam berkomunikasi dengannya.

 

 

4. Beri Dia Ruang yang Dibutuhkan

surat ayah dan berjauhan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/pixs4u

Kadang orang yang suka memendam perasaan cenderung menyalahkan diri sendiri jika ia membuat orang lain merasa terbebani dengan emosi atau hal-hal yang sedang dia rasakan. Sehingga dia butuh waktu dan proses sendiri untuk bisa perlahan lebih terbuka. Maka, kita pun perlu memberinya ruang yang ia butuhkan untuk bisa mengelola emosi dengan lebih terbuka lagi.

 

 

5. Tak Perlu Menghadirkan Paksaan

surat ayah dan titip rindu
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Kanyanat+Kasemsook

Kita tak bisa mengubah orang lain semau kita. Tiap individu punya pembawaan dan karakter sendiri. Jadi, kita tak bisa serta merta mengubahnya menjadi orang yang kita inginkan dalam berkomunikasi. Terima dirinya apa adanya, dan bantu ia jika memang benar-benar dibutuhkan.

Semoga kita semua bisa senantiasa menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita, ya. Tetap jaga komunikasi yang nyaman juga khususnya dengan orang terdekat atau tersayang kita.

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela