Hidup dalam Trauma Tidak Mudah, tapi Aku Berusaha Bangkit dari Rasa Sakit

Endah Wijayanti26 Jun 2022, 17:15 WIB
Diperbarui 26 Jun 2022, 17:15 WIB
perempuan dan jiwa kuat

Fimela.com, Jakarta Di bulan Juni ini, Fimela mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

***

Oleh: Fitri Rahmawati

Banyak orang mengira dengan mejadi anak perempuan satu-satunya dalam keluarga akan mendapat limpahan banyak kasih sayang, tapi itu tidak terjadi padaku. Sedari kecil aku hidup dalam tekanan, tidak ada ketenangan dalam rumah, tidak ada kebahagiaan dalam rumah yang ada hanya amarah dan ucapan ucapan kasar dan teriakan sepanjang hari. Itulah mengapa aku lebih suka berada di luar rumah dan hanya pulang di jam-jam tertentu.

Aku bukan korban dari perceraian tapi korban keegoisan. Orang tuaku hanya hidup dalam dunia mereka sendiri, hanya memikirkan diri mereka sendiri, hanya karena masalah ekonomi aku menjadi sasaran dan pelampiasan segala amarah.

Hidup dalam trauma itu tidak mudah. Sesekali bayangan itu seperti datang menghantui hati dan pikiran. Ya trauma masa kecil itu masih membekas di hati ini sampai dengan sekarang. Rasa takut, rasa sedih, rasa kecewa semua itu masih berlanjut hingga kini,.

Memang semua itu terjadi di masa lampau tapi perlakuan mereka saat ini terkadang membuat aku mengingat masa lalu itu. Saat setelah dewasa pun aku tidak mendapatkan hakku. Aku selalu dibedakan dan diperlakukan secara tidak adil, apakah aku kecewa? Ya rasa itu itu pasti ada karena aku manusia biasa.

Aku ingin hidup normal seperti keluarga lain, saling mendukung dan saling menguatkan, saling membantu saat ada masalah dan saling membagi kebahagiaan. Aku ingin seperti keluarga lain saling membagi senyum dan canda tawa meski dengan hal-hal kecil. Aku ingin diperlakukan adil meskipun aku sudah dewasa aku juga ingin diperhatikan bukan dibiarkan.

 

Berusaha Sekuat Tenaga untuk Bertahan

perempuan dan soal serba bisa
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/teerapat+tongraar

Banyak sekali luka masa lalu yang aku miliki tapi tak ada sedikit pun dendam yang tersimpan di hati ini. Karena dari keterbatasan ini aku mampu berdiri menjadi mandiri meski tanpa dukungan aku bisa mengatasi segalanya sendiri dan menghadapi hidup sendiri.

Allah itu Maha Adil. Apa yang tidak aku dapatkan dari dalam, Allah menggantinya dengan yang lain, ya memiliki sahabat-sahabat baik yang saling mendukung itu juga merupakan anugerah.

Saat aku terjatuh dan larut dalam kesedihan hanya ada dua orang yang menguatkan aku. Mereka adalah tante iparku dan sahabatku. Mereka adalah orang yang paling mengertiku dalam berbagai hal tanpa aku harus aku ceritakan. Meski  orang lain (bukan sedarah) tapi mereka bisa lebih mengerti aku lebih dari keluargaku sendiri. Mereka adalah orang-orang yang selalu menguatkan aku dan menjagaku, mereka adalah support system-ku, aku bersyukur memiliki mereka.

Saat aku merasa lelah dan putus asa aku lebih memilih melakukan traveling. Mengganti emosi dan pikiran negatif ke arah positif dengan melakukan perjalanan jauh, menikmati pemandangan alam, udara segar, tempat baru, suasana baru, teman baru, udara sehat dan segar mampu memberikan kedamaian dan membuat pikiran kita lebih segar 

Semua luka yang pernah aku alami menjadi acuan dan motivasi. Ya aku ingin menunjukkan aku masih bisa berdiri meski tanpa dukungan. Aku ingin menjadi sukses dengan tanganku sendiri, aku ingin membahagiakan semua orang yang pernah menemani aku saat aku jatuh. 

Aku juga ingin membahagiakan orang tuaku, seburuk apa pun mereka di masa lalu mereka tetap bagian dari hidupku, dan aku sebagai anak wajib berbakti pada orangtua, tetap menghargai dan menyayangi mereka.  

 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela