Dari Keluarga Ridwan Kamil, Aku Belajar Soal Ketegaran, Keikhlasan, dan Kebaikan

Endah Wijayanti01 Jul 2022, 11:35 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 11:35 WIB
jalan jalan di taman

Fimela.com, Jakarta Di bulan Juni ini, Fimela mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

***

Oleh: Nur Isna Aulya

Beberapa waktu lalu jagat maya telah ramai dengan berita duka dari keluarga gurbernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Emmeril Kahn Mumtadz, anak pertamanya telah hanyut terbawa arus sungai Aare di Swiss saat berenang bersama adik dan kawan-kawannya.

Berita itu sontak menjadi perhatian seluruh warga Indonesia bahkan hingga warga Swiss sendiri. Jutaan doa dan ungkapan bela sungkawa terpanjat untuk lelaki kelahiran tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan itu.

Allah getarkan hati jutaan manusia untuk turut mendoakan Eril supaya ia segera ditemukan di sungai yang panjangnya hampir tiga ratus kilometer itu, begitu pun hatiku. Semenjak berita itu mengudara, aku selalu mengikuti perkembangannya. Sehari, dua hari, hingga akhirnya jasad Eril ditemukan pada pekan kedua setelah dinyatakan hilang membuat hatiku tak berhenti berharap berita baik akan datang.

Sebab aku tahu, pasti begitu remuk hati bapak Ridwan Kamil dan ibu Atalia dengan keadaan itu. Anak sulung, lelaki yang kepadanya mereka menaruh harapan besar untuk menjadi penerus keluarga telah pergi selamanya. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari pada kehilangan seorang anak. 

Selain mengikuti perkembangan berita duka itu di berbagai media massa, aku juga mengamati media sosial milik bapak Ridwan Kamil dan ibu Atalia. Bukan karena aku begitu ‘nganggur’ hingga sesempat itu selalu menengok media sosialnya, tetapi aku juga orang tua.

 

Memaknai 3 Hal Penting

pubertas anak perempuan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/prostock_studio

Aku adalah orang tua yang masih memiliki dua anak kecil dan perlu banyak belajar dari orang tua-orang tua lain untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi berbagai hal, termasuk kepada keluarga bapak Ridwan Kamil ini. Sakit sekali rasanya jika aku membayangkan anak sulungku yang akan menempuh tangga hidup selanjutnya, yang dengan bangga dan harapan besar aku doakan kesuksesannya menuntut ilmu di negeri lain lalu tiba-tiba menghilang begitu saja dan akhirnya kutemukan tak bernyawa.

Tentu itu akan meruntuhkan segala harapan yang kutanam sejak ia melihat dunia, dan mungkin aku tak sekuat bapak Ridwan Kamil dan ibu Atalia yang berusaha untuk tetap tegar meskipun wajahnya terlihat layu dan sembab, sebab mereka milik Jawa Barat yang tak hanya harus berfokus kepada keluarga, melainkan kepada masyarakat juga. Masih banyak tugas yang mereka emban sebagai pemimpin daerah. 

Hingga saat ini aku masih senang mengikuti media sosial bapak Ridwan Kamil dan ibu Atalia dan belajar tentang kehidupan kepada mereka. Dari mereka aku belajar tentang tiga hal; ketegaran, keikhlasan, dan kebaikan. Dalam menghadapi situasi seburuk apa pun, aku harus tegar meskipun hati sedih.

Sebab kesedihan yang berlarut tak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik, dan dengan menjadi tegarlah semua akan bisa dihadapi dengan bijak. Setelah berhasil tegar, aku harus ikhlas dengan keadaan.

 

Ada Kuasa yang Lebih Agung dari Segalanya

surat ayah dan pegangan tangan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/NATTAKORN+MANEERAT

Sebab semua yang ada dalam kehidupan ini pada dasarnya bukanlah atas kemauan manusia, melainkan kehendak dan pemberian Allah. Dan aku yakin bahwa segala sesuatu yang dari Allah itu pasti baik. Maka dengan ikhlas dan sabarlah aku akan mampu menerima apa pun yang Allah takdirkan dalam hidup.

Lalu jika aku telah mampu menjadi tegar dan ikhlas atas keadaan, maka selanjutnya adalah tetap melakukan kebaikan. Sebagaimana yang bapak Ridwan Kamil dan ibu Atalia lakukan. Mereka melanjutkan hidup dengan terus menebar kebaikan di tengah remuk redamnya hati yang kehilangan orang terkasih; tetap tersenyum, menyapa, dan berbagi kebaikan lain kepada semua orang. 

Siapa sangka, dari berita duka itu Allah memberikan begitu banyak hikmah di baliknya. Semua karena kebaikan yang Eril tanam semasa hidupnya; bersedekah, membahagiakan keluarga dan orang sekitar, dan kebaikan-kebaikan lain yang tak semua orang tahu tapi Allah mencatatnya dengan sempurna.

Kebaikan Eril adalah cerminan bapak Ridwan dan ibu Atalia yang mendidiknya dengan baik, dan merekalah salah satu orang tua panutanku. Mereka merawat, mendidik, dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. 

Satu hal yang Eril sampaikan untuk orang-orang di sekitarnya yang bapak Ridwan Kamil tuliskan, “Siapa ingin menjadi bunga indah di surga diiringi berjuta doa, maka taburlah berjuta benih kebaikan selama di dunia.” Aku yakin, kebaikan yang kita lakukan saat ini tidak hanya akan kembali pada diri kita sendiri, tetapi juga akan kembali pada keluarga, saudara, dan orang-orang sekitar kita.

Terima kasih Eril, bapak Ridwan Kamil dan ibu Atalia yang telah memberikan pelajaran hidup kepadaku dan (mungkin) kepada jutaan orang tua lain. Eril telah bahagia di surga-Nya, sebab tugasnya menanam benih kebaikan di dunia telah usai, dan kini ia telah menuai hasilnya dalam pangkuan kasih sayang Allah swt. 

 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela