Tinggal di Luar Negeri, Ada Banyak Keluarga Seperjuangan yang Menguatkan

Endah Wijayanti03 Jul 2022, 17:15 WIB
Diperbarui 03 Jul 2022, 17:15 WIB
keluarga tercinta

Fimela.com, Jakarta Di bulan Juni ini, Fimela mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

***

Oleh: Nova Ulya

Keluarga, orang-orang yang ada dan menemani kita saat suka dan duka. Keluarga tak harus berasal dari hubungan darah, namun mereka ada disaat kita lelah. Membawa senyum dan tawa, serta rela menyiapkan pundaknya saat kita berduka. Aku, menemukan arti sebuah keluarga kala berada jauh di benua yang berbeda.

Berjuang, berpetualang, jauh di benua seberang pernah aku rasakan. Menemani suami yang sedang studi di salah satu negara Eropa memberikan pengalaman tersendiri buatku. Aku, anak desa yang ingin merajut mimpi di kota. Namun, Tuhan membawaku melesat keluar benua. Bersyukur tiada terkira, karena melalui rezeki yang dititipkan ke suami aku bisa melewati fase kehidupan ini. Alhamdulillah.

Merasa senasib seperjuangan, aku dipertemukan dengan banyak keluarga di sini. Memiliki satu tujuan untuk meraih masa depan, kami merasakan arti persahabatan hingga menjadi sebuah keluarga. Teman-teman yang begitu baik, lingkungan yang positif, saling membantu, merangkul dan terus menguatkan.

Banyak cerita yang patut aku syukuri kala menemukan keluarga baru. Saat dimana tahun pertama suami harus berjuang mencapai kelulusan. Berlanjut studi atau cukup sampai di titik ini. Pressure dari supervisor membuatnya harus pulang tengah malam, ditemani dinginnya hembusan angin yang menusuk hingga ke tulang. Lelah karena lillah.  

Aku yang belum tahu apa-apa bagaimana hidup di sana, merasa sendiri namun ada keluarga baru, teman-teman yang setia dan sabar menemani. Mengajari segala hal ditengah kegundahan dalam perantauan. Hingga aku merasa, aku tidak sendiri. Ada keluarga baru di sini.

Tepat di tahun ketiga masa pendidikan suami, ada kabar yang mengagetkan. Tengah malam si kecil yang katanya susah memejamkan mata. Kenapa? Kok tumben hingga pukul 1 dini hari si kecil tak mau terpejam. Seperti merasakan kegelisahan. Adek tidak bisa tidur, katanya. Tiba-tiba ponsel berdering berulang kali tanpa henti. Aku yang selalu cuek dengan deringan ponsel, seketika beranjak ingin sekedar melirik pesan apa yang terpampang di layar.

Banyak pesan masuk dari group keluarga suami. Bukannya di Indonesia masih subuh? Iseng-iseng kulihat pesan yang tertangkap di layar ponsel. Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun… kalimat itulah yang sontak membuatku bangun. “Bapak mertua meninggal." Runtuh hati ini. Menangis sejadi-jadinya. Bingung, linglung, sejenak limbung. Benarkah? Sedih rasanya, saat jauh dari keluarga ada berita duka yang membuat kita ingin hadir disana.

Esoknya berita sudah tersebar. Teman-teman satu per satu mencoba menguatkan. Mereka ada di saat kita tak bersama keluarga. Mereka hadir saat kita berduka. Tak terasa bulir bulir bening menetes. Aku dan suami tak sendiri, ada mereka. Teman, sahabat yang menjadi keluarga.

 

Serba-Serbi Tinggal di Luar Negeri

gelar sarjana
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Melahirkan di negeri orang. Pengalaman yang takkan pernah aku lupakan. Bagaimana berjalan menyusuri lorong operasi. Gundah gulana saat harus meninggalkan si sulung bermain dan menginap dengan keluarga baru nya. Si sulung aku titipkan kepada teman yang sudah kami anggap keluarga. Ini terpaksa kami lakukan karena suami harus menemaniku di rumah sakit. Berharap segala proses yang dilalui berjalan dengan lancar, namun jalan tak semulus yang diharapkan.

Proses panjang dan melelahkan aku lalui agar si kecil hadir di dunia ini. Bersyukur Alhamdulillah bisa keluar dari ruang operasi dengan membawa bayi. Bayi kecil yang lahir ditengah perjuangan kami. Alih-alih focus pada penyembuhan pasca operasi, aku malah bingung sendiri. Selalu bertanya bagaimana kabar anakku yang di sana?.

"Adek happy, Mi," Suara kecil yang terdengar riang cukup membuatku senang. Dia baik-baik saja di sana. Lega rasanya. Terima kasih untuk teman seperjuangan, keluarga kami saat di perantauan yang dengan tulus dan sabar menemani si sulung saat kami tidak berada di sampingnya.

Memasuki tahun terakhir masa belajar. Kami dibuat ketar ketir. Uang beasiswa di ujung nadir, sementara kabar dari supervisor tak kunjung hadir. Terus berjuang agar uang yang kami punya cukup untuk menyambung hidup di sana. Namun, rencana tak sejalan dengan realita.

Tabungan sudah terkuras dan kami terpaksa pulang ke Indonesia sebelum studi dinyatakan lulus. Berat memang, tapi itu pilihan satu-satunya karena dana beasiswa belum menunjukkan tanda-tanda.

Di saat nasib terombang-ambing, satu persatu teman-teman hadir. Mereka dengan sukarela menawarkan bantuan dana agar kami tetap tinggal di sana hingga masa study selesai. Dari sini, kami merasa menjadi keluarga, saling bantu tanpa harus diminta. Merelakan sedikit dana mereka untuk membantu kami yang kesulitan biaya. Namun, setelah dipertimbangkan akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia, negara tercinta. Meski berat tapi kami harus kuat.

Segala pahit manis kehidupan di perantauan membuatku banyak belajar. Belajar arti sebuah keluarga meski bukan dari hubungan darah. Kami menemukan keluarga baru, keluarga yang terbentuk karena rasa saling membantu, saling memberi, saling percaya tanpa harus diminta.

 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela