Pameran Tenggelam Dalam Diam Ajak Masyarakat Menyelamatkan Bumi dari Krisis Iklim

angela marici28 Sep 2022, 20:30 WIB
Diperbarui 28 Sep 2022, 20:30 WIB
Pangunjung pameran

Fimela.com, Jakarta Film dokumenter hasil kolaborasi Greenpeace Indonesia bersama Watchdoc Documentary kini hadir dalam pameran “Mengabarkan Tenggelam” yang digelar pada tanggal 16 sampai 24 September 2022. Pameran ini dibuat menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat agar tidak diam ketika menyaksikan bumi yang hampir tenggelam akibat krisis iklim.

Hadirnya pameran ini menjadi salah satu contoh nyata dari dampak krisis iklim yang telah terjadi di daerah pesisir Jawa. Tak hanya itu dengan diadakannya pameran ini untuk mengajak para masyarakat untuk menolak tenggelam dan menyelamatkan bumi dari krisis iklim melalui aksi nyata yang dilakukan.

Berangkat dari sebuah perjalanan

Foto-foto indah yang terpampang dalam balutan bingkai foto dipameran berangkat dari perjalanan Irene, Doly, Asteriska, Oscar Lolang, Chitra S, The Panturas, dan Ade Putri yang menyusuri pesisir utara pulau Jawa yang mulai tenggelam. 

Dari perjalanan mereka menghadirkan sebuah dokumenter "Tenggelam Dalam Diam" yang dirilis pada Maret 2021 lalu. Fotografer Doly Harahap dan Irene Barlian bekerjasama dengan @gudskul ekosistem, membawa berbagai kisah itu ke Jakarta dalam bentuk sebuah pameran foto.

 

Diabadikan oleh fotografer handal

hasil karya foto
Potret karya foto yang ada di pameran foto "Mengabarkan Tenggelam".

Foto-foto yang ada di dalam pameran “Mengabarkan Tenggelam” merupakan karya dari para fotografer andal yakni Irene Barlian dan Dolly Harahap. Irene merupakan fotografer wanita yang berkesempatan untuk mengunjungi Semarang, Gresik, dan Pekalongan.

Melalui ketiga daerah tersebut Irene mengabadikan peristiwa yang terdampak banjir rob melalui medium fotografi. Dalam foto-foto yang diabadikan memperlihatkan secara jelas apa yang sedang terjadi di ketiga daerah tersebut. Tak hanya itu, terlihat potret dari masyarakat setempat yang bertahan, dan para pekerja yang berusaha keras memanen ikan bandeng di tambak. Karya foto landscape miliki Irene memperlihatkan kemurungan dan kesepian dari peristiwa ini.

Sedangkan, fotografer Dolly Harapan hadir mengabadikan foto yang menggambarkan perjalananya ke Muara Gembong di Bekasi, Muara Baru di Jakarta dan Pekalongan. Dengan menggunakan kamera analog-medium, Dolly menghadirkan karakter dengan aura tersendiri dari sebuah presentasi dalam buku foto yang biasa hadir di bawah meja ruang tamu menjadi bentuk artistik tersendiri untuk karyanya. 

Dalam buku foto karya Dolly berisi sepuluh halaman. Selain itu, ia berhasil mendapatkan foto bapak-bapak yang sedang menyeruput kopi di halaman rumah yang setengah banjir, anak kecil di lingkunganya, serta bangunan yang sudah tidak berpenghuni dihadirkan dengan diam dan mencekam.

Cerita dalam format video

Sambutan
Potret sambutan mengenai pameran foto "Mengabarkan Tenggelam" di Jakarta.

Potret perjalanan menyusuri daerah yang berada di pesisir Jawa pun dihadiri oleh Ade Putri yang berprofesi sebagai pencerita kuliner, ia menceritakan kembali apa yang ditemukan dalam perjalanannya di kota Gresik, Jawa Timur dalam sebuah format video berdurasi empat menit empat puluh enam detik. 

Ketika di Gresik, Ade menceritakan panen bandeng yang kini harus dilakukan dalam waktu yang tidak semestinya akibat krisis iklim. Selain itu, diperlihatkan juga para pekerja tambak yang membuat “benteng” untuk menghalangi masuknya air lautan ke dalam tambak. Hal ini dilakukan akibat krisis iklim yang terjadi dan tanpa disadari dapat menghilangkan rumah hingga mata pencaharian masyarakat Gresik, yaitu ikan bandeng. 

Disisi lain, Oscar Lolag, musisi dengan suguhan musik akustik melihat langsung kejadian yang ada di kota Pekalongan. Dalam pameran ini, Oscar hadir membuat video musik dengan membawakan dua lagu ciptaannya dari hasil perjalaanan ke kota Pekalongan yang tanpa disadari pun mengalami krisis iklim.

Satu lagu yang dibuat bertajuk “I Breathe Fire” dan membawakan “Kumbaya” sebuah lagu spiritual Afrika-Amerika yang asal usulnya masih diperdebatkan, tetapi diketahui dinyanyikan dalam budaya Gullah di pulau-pulau di lepas pantai Carolina Selatan dan Georgia, dengan ikatan dengan orang Afrika Barat yang diperbudak. Menyoroti mereka yang harus tercerabut dari daerah asal usul mereka di sepanjang Pantura akibat krisis iklim yang terjadi.

Selain itu, ada juga Asteriska yang merupakan salah satu personel band Barasuara yang berkesempatan bersama Dolly untuk mengunjungi Muara Gembong, Bekasi. Di sana Asteriska merespon keadaan yang dia lihat secara langsung dengan menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Ibu Pertiwi”.

Melalui lagu tersebut Asteriska ingin menggambarkan dengan lirih bagaimana warga yang masih bertahan di daerah terdampak krisis iklim yang berjuang dengan ikhlas di tengah kehidupan di ibu pertiwi ini yang tidak baik-baik saja.

 

Penulis: Angela Marici

#Women for Women 

 

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela