Usai Ketiak, Cover Majalah Priyanka Chopra Undang Kontroversi

Lanny Kusumastuti12 Okt 2016, 21:00 WIB
Diperbarui 12 Okt 2016, 21:00 WIB
Priyaka Chopra

Fimela.com, Jakarta Priyanka Chopra tengah menapaki dan menikmati popularitasnya, terlebih setelah dirinya melakukan debut di industri hiburan Hollywood. Seiring popularitasnya, Priyanka Chopra pun menuai kontroversi, setelah ketiaknya di cover majalah Maxim India, kini Priyanka kembali menuai kontroversi atas foto dirinya yang menjadi cover majalah Conde Nast Traveller (ANT). 

Kali ini bukan soal penampilan fisiknya, namun kaos yang dikenakannya dalam cover majalah tersebut menarik perhatian dan komentar netizen. Ia mengenakan kaos bertuliskan kata 'Refugee' (pengungsi), 'Immigrant' (imigran) dan 'Outsider' (orang luar), yang coret dengan garis merah. 

Priyaka Chopra kembali menuai kontroversi.  (AFP/Bintang.com)

Hal tersebut pun mengundang komentar negatif di media sosial. "Apa kamu bercanda? Ada apa dengan kaos itu! Tidak peka atas penderitaaan orang yang menjadi pengungsi," ujar akun @hannanmust di Twitter yang dilansir dari laman Hindustan Times. 

"@priyankachopra @CNTIndia kalin bisa meninggalkan tulisan traveler," tulisnya kemudian. Akun tersebut pun memprotes bahwa Priyanka bukanlah seorang traveler, meski profesi dan pekerjaan telah membuatnya pergi ke berbagai tempat. 

Priyanka pun melum mengeluarkan pernyataan apapun untuk menaggapi kontroversi cover majalah dirinya. Namun, pihak majalah, seperti dilaporkan The Indian Express telah mengeluarkan pembelaannya, dengan mengatakan bahwa mereka ingin membebaskan dunia dari rasisme, fanatisme dan prasangka buruk. Lebih lanjut disampaikan bahwa mereka ingin generasi selanjutnya dapat menikmati keindahan dunia dengan bebas tanpa adanya perbedaan. 

Priyaka Chopra kembali menuai kontroversi.  (AFP/Bintang.com)

Pihak Conde Nest Traveller pun menyampaikan alasan dipilihnya Priyanka Chopra yang menjadi cover majalah mereka. Pihak CNT menilai bahwa Priyanka adalah selebriti yang memiliki peluang untuk menjadi traveller dan duta yang sempurna. "Ini bukan tentang dia menjadi pengungsi, imigran atau orang luar. Itu tentang dirinya, seperti kita yang merasakan kekuatan sebuah perjalanan, dan kami ingin orang lain merasakannya."