Plus Minus Industri Musik Modern di Mata 2D

Altov Johar12 Jan 2017, 13:07 WIB
Diperbarui 12 Jan 2017, 13:07 WIB
[Bintang] Dian Pramana Putra

Fimela.com, Jakarta Grup 2D (Dian Pramana Poetra dan Deddy Dukun) merasakan betul plus minus perkembangan teknologi bagi industri musik. Terutama dalam hal penciptaan lagu di era sekarang ini, yang dinilai kurang memiliki nyawa.

"Dulu saya kalau mau bikin lirik harus datang ke mas Deddy. Sekarang kan nggak perlu, karena teknologi bisa langsung kirim tanpa harus datang. Jadi kurang bersinergi, dan itu yang bikin lagu jadi kurang bernyawa," ujar Dian Pramana, di Studio 5 Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, Selasa (10/1/2017).

Dian Pramana Putra (Deki Prayoga/bintang.com)

Dian khawatir kondisi ini membuat musisi terlena dan manja. Sebab, mereka tak harus bersusah payah menciptakan lagu. Salah satu gejalanya terlihat saat take vokal, yang dewasa ini bisa diakali dengan teknologi.

"Menurut aku menjadi manja. Seperti tentara yang harus tahu cara perang. Dulu kita kalau nyanyi (take) pasti ada
pengulangan. Misalnya nada tinggi nggak sampai, itu harus diulang terus sampai suara saya sakit. Sekarang kan nggak perlu karena bisa dibetulkan dengan alat," papar Dian.

Foto Preskon Melayang bersama 2D (Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun) (Dezmond Manullang/bintang.com)

Mereka juga tidak menampik dengan hal positif yang dirasakan, seiring pesatnya perkembangan teknologi. Terutama dari segi produksi musik yang relatif lebih singkat. Bahkan, siapa saja bisa memproduksi karya musik.

"Era sekarang format lagu tetap sama, ada intro, chourse, coda dan lainnya. Yang beda hanya di teknologinya saja. Zaman sekarang kita memberi data nggak perlu harus studio," pungkas Dian Pramana Poetra mewakili 2D.