Belajar Tolak Korupsi Lewat Film

Fimela Editor30 Jan 2012, 08:47 WIB

Next

Kita vs Korupsi

Kata korupsi sudah sangat akrab di telinga kita. Bahkan, tiap hari kasus demi kasus terungkap. Ada yang berakhir di meja hijau, banyak pula yang tak terdengar lagi kelanjutan kasusnya. Ya, korupsi memang melekat erat dalam kehidupan kita. Tapi, bukan berarti kita lantas jadi menerimanya, kan?

Berdasarkan fenomena tersebut, dibuatlah omnibus 4 film pendek ini. Maksudnya, tentu sebagai bentuk kampanye antikorupsi dengan media pop culture yang lekat dengan isu sehari-hari dan nilai-nilai dasar yang berasal dari keluarga agar lebih mudah diterima dan dipahami, agar pesannya lebih mengena dan terus diingat masyarakat. Masing-masing film ini menyajikan kehidupan sehari-hari kita yang tak lepas dari virus korupsi. Ia mengintai, mendekati, kemudian siap menelusupi kita dengan berbagai tawaran yang menggiurkan mata. Mengerikan bukan?

Busyro Muqoddas, Ketua KPK sekaligus salah satu produser eksekutif keempat film pendek antikorupsi ini, mengatakan bahwa para pejabat yang korupsi sudah tuna nurani. Jadi, tak ada rasa bersalah sama sekali, walau telah dihukum dengan berbagai cara. Oleh karena itu, pendidikan antikorupsi hendaknya mulai diterapkan di lingkungan keluarga sebagai tempat pertama kalinya anak memperoleh pendidikan moral. Film ini memang sebagai bahan refleksi keluarga. Kamu mencerminkan keluargamu. Korupsi akan terus melakukan re-generasi, turun-temurun. Kalau tidak dicegah, ia akan terus berkembang biak. Beranak pinak.

Kita versus Korupsi ingin mengubah pandangan, atau setidaknya membuka mata masyarakat tentang virus korupsi tersebut. Kalau selama ini publik diam dan memaklumi praktik korupsi di sekitarnya, kemudian menganggap urusan korupsi menjadi tugas KPK atau lembaga hukum semata, pandangan ini harus diubah. Kenapa? Karena siapa pun yang ingin menghentikan korupsi harus mengawalinya dari diri sendiri. Ini dia keempat film pendek itu:

Next

 

“Rumah Perkara

Film pendek yang disutradarai Emil Heradi ini bercerita tentang seorang lurah yang ketika berkampanye menjanjikan kesejahteraan dan mengutamakan kepentingan rakyat, tapi, ketika sudah terpilih justru melupakan janjinya dan berpihak kepada pengembang. Janda desa jadi korbannya. Karena menolak pindah dari rumahnya, janda itu sekaligus rumahnya dibakar. Ironisnya, anak kandung lurah justru tak sengaja ikut jadi korban kebakaran.

Next

 

“Aku Padamu

Di sutradarai Lasja F. Susatyo, “Aku Padamu” menceritakan sepasang kekasih yang ingin menikah diam-diam, tanpa restu dari orangtua mereka. Namun, karena si perempuan tak membawa Kartu Keluarga (KK), si pria berniat menyogok petugas KUA. Si perempuan menolaknya karena teringat nasib guru honorer di SD-nya yang tak diangkat tetap karena tidak mau memberi uang sogokan kepada ayah si perempuan itu.

Next

 

“Selamat Siang, Risa!

“Selamat Siang, Risa!” disutradarai Ine Febriyanti. Film pendek ini menceritakan perempuan bernama Risa yang menolak sogokan karena keluarganya mendidik ia untuk jujur. Ayah Risa bekerja sebagai kepala gudang. Ketika rekan-rekan kerjanya memanfaatkan gudang perusahaan yang kosong untuk menampung stok para pengepul beras, ia tak terpengaruh. Bahkan, ketika anaknya sakit parah, ayah Risa tetap menolak uang sogokan salah satu pengepul beras.

Next

 

“Psssttt… Jangan Bilang Siapa-siapa.”

 

“Psssttt… Jangan Bilang Siapa-siapa.”

Film pendek yang disutradarai Chairun Nissa ini mengangkat kehidupan anak-anak SMA yang justru mendapat pelajaran korupsi dari orangtua dan guru mereka sendiri. Bukannya risih, mereka malah merasa bangga bisa mendapat barang dan jajan dari uang hasil korupsi.

 

Itulah ulasan singkat keempat film pendek yang mengajak kita melihat kehidupan yang sesungguhnya, yang ternyata tak pernah lepas dari praktik “sogok-menyogok”. Segala sesuatu memang dimulai dari yang kecil. Kalau yang kecil dilegalkan, yang besar pun tak akan jadi masalah. Jadi, wajar, kan, kalau para petinggi negeri ini menjadikan korupsi sebagai cara asyik memperkaya diri? Sudah biasa, sih!

 

Lanjutkan Membaca ↓