Comicconexions, Komunikasi Kultur Komik Dua Negara

Fimela11 Sep 2012, 11:00 WIB

Next

comic1Banyak yang masih meremehkan nilai seni dari sebuah komik. Menganggap komik hanyalah konsumsi anak kecil. Apa Fimelova pernah berpikir lebih jauh? Bahwa dari komik kita pun sebenarnya bisa belajar sejarah atau memahami pergolakan politik sebuah negara? Sadar nggak, banyak film yang sukses justru diangkat dari komik yang sebelumnya sudah terkenal dan memiliki fans di berbagai belahan dunia?

Goethe Institute yang berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Menteng, baru saja mengadakan ‘Comicconexions.’ Event ini masih akan berlangsung hingga 17 September nanti. Bertujuan untuk menggabungkan  ‘komunikasi’ komik asal dua negara yakni Jerman dan Indonesia sendiri, event ini menjadi spesial.

Next

 

comic2Siapapun yang datang diajak untuk menikmati kemeriahan visual dari dunia komik itu sendiri. Deretan panel komik hasil karya seniman kedua negara dipajang di ruang pameran utama. Di sisi ruang yang lain, pengunjung pameran dapat menikmati bazar di mana komik-komik dijual, menikmati pameran mural langsung di depan mata, talkshow, sampai mencetak kaos dengan desain unik (dengan harga terjangkaum tentunya).

Melihat deretan panel komik yang dipamerkan dan dijual pengunjung acara ini bisa menemukan ragam visual asal kedua negara. Bagaimana kultur sebuah negara membentuk gaya bertutur dalam komik-komik itu sendiri. Tentunya komik tidak jauh dari seni lukis itu sendiri. Ada komik yang cukup realis, namun ada juga yang begitu abstrak.

Next

 

comic3Jerman sendiri baru mengalami perkembangan di kultur komik setelah kedua Jerman bersatu di era 1990an. Beberapa seniman komik Jerman mengembangkan cerita mereka yang orisinal, namun ada juga yang menjadikan cerita yang sudah ada sebagai inspirasi. Misalnya kisah hidup musisi Johnny Cash oleh Reinhard Kleist. “Johnny Cash: I See A Darkness” karangan Reinhard meraih kesuksesan internasional. Presentasi hitam putih kehidupan seorang musisi yang namanya masih besar bahkan hingga saat ini.

Yang sempat kami sempat datangi adalah acara peluncuran komik lokal. Sembilan buah judul komik dirilis secara bersamaan dalam waktu kurang lebih satu jam. Seniman-seniman visual ini menceritakan profil singkat mereka dan tema komik mereka yang dirilis.

Next

 

comic4Kami sempat bertemu dengan pengarang komik “Mandala Siluman Sungai Ular” yang terkenal yakni Mansur Djaman yang lebih dikenal dengan nama Man. Komik “Mandala” sudah hadir sejak tahun 1972. Mereka yang lahir dan tumbuh di era 1980an pasti sangat akrab dengan tokoh Mandala ciptaan Man tersebut.

Sejak kapan persisnya kultur komik di negara ini berkembang?  Ternyata jauh sebelum Indonesia merdeka. Menarik, kan? Komik di Indonesia ternyata sempat besar di era 1960 hingga 1970an sampai akhirnya komik-komik impor terjemahan mulai menguasai pasar. Tiga puluh tahun yang suram untuk komik lokal.

Next

 

comic5Melihat banyaknya seniman muda yang didukung oleh industri penerbitan untuk membawa komik-komik mereka ke pasar adalah sinar cerah tersendiri. Pelan-pelan minat dan bakat-bakat diberi tempat untuk berkembang. Adanya ‘Comicconexions’ tentunya dapat menjadi media untuk membakar semangat ini. menarik seniman-seniman visual, illustrator, komikus-komikus keluar dari persembunyian mereka. Membuat komik di negara sendiri, dan bukannya pindah ke luar negeri, bekerja untuk media luar – yang sekali lagi lebih menghargai bakat mereka dalam bercerita.

Tentunya masih banyak aktivitas yang bisa Fimelova ikuti di acara ini, mengingat waktu pelaksanaan yang masih panjang. Yang spesial adalah screening film dan comic workshop untuk Fimelova yang mungkin berminat mengenal dunia visual ini lebih dalam.

Lanjutkan Membaca ↓