Museum Wayang, Rumah Budaya untuk 6000 Lebih "Boneka"

Fimela20 Sep 2012, 06:00 WIB

Next

wayang1

Museum wayang yang berdiri di wilayah kota tua ini diresmikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin pada 17 Agustus 1975. Berkat hibah dari seorang tokoh, kompleks ini kemudian diperluas lagi pada tahun 2003 yang lalu. Sejarah bangunan ini cukup panjang. Usia ratusan tahun tercium dari beberapa bagian bangunan. Kayu lapuk, aroma kain berumur, dan hawa lembab begitu terasa.

Dibangun tahun 1912, Museum wayang awalnya adalah gereja. Gereja tua ini sendiri dibangun tahun 1640. Sempat mengalami rekonstruksi beberapa kali (termasuk karena sebuah gempa besar),museum wayang akhirnya menjadi milik pemerintah Indonesia pada tahun 1968. Begitu banyak perpindahan kepemilikan terjadi dalam rentang waktu hampir seratus tahun.

Cara paling mudah untuk menuju Museum Wayang tentunya adalah dengan kereta. Fimelova hanya perlu menaiki kereta tujuan Stasiun Jakarta Kota. Dari situ jalan kaki nggak sampai 15 menit kamu sudah bisa melihat Museum Wayang di kompleks taman Fatahillah. Museum Wayang ini tutup setiap hari libur dan hari Senin dan dibuka hari Selasa sampai Minggu mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore.

Setelah membayar tiket masuk yang sangat murah (2.000,00,- untuk dewasa, 1.000,00,- untuk pelajar, dan 600,00,- untuk anak-anak) tiap pengunjung akan diarahkan ke selasar di mana banyak wayang golek berukuran besar hingga kecil dipamerkan. Wayang-wayang itu ditata dengan baik dalam lemari-lemari kaca yang disesuaikan dengan ukuran mereka masing-masing. Perjalanan dilanjutkan ke bagian berikutnya yang sepertinya adalah bangunan asli museum ini. Perubahan suasana begitu terasa.

Next

wayang2

Pengunjung bisa menemukan plat-plat berukir dalam ukuran besar di sebuah taman kecil yang menjadi penyambung dengan bagian lain museum.  Melalui tangga kayu yang berderit kita akan menemukan bagian berikutnya. Ketidakhadiran pendingin ruangan membuat  sebagian ruangan display cukup panas.  Bagaimana wayang-wayang ini bisa bertahan dalam kondisi demikian? Karena waktu dan suhu pasti akan merongrong kelangsungan fisik mereka.

Hingga saat ini museum wayang adalah kediaman bagi kurang lebih 6000 wayang. Baik itu dari beberapa bagian nusantara di mana wayang bisa kita temukan sebagai bagian budaya lokal. Ada juga wayang-wayang luar negeri (beberapa dari negara tetangga kita) hingga Prancis dan Amerika. Menarik melihat bagaimana kultur setiap wilayah, baik itu di Nusantara, maupun belahan dunia lain menciptakan karakter tersendiri bagi setiap wayang (maupun boneka).

Minimnya jumlah pemandu museum harus menjadi perhatian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Karena pengunjung tidak bisa dibiarkan saja berjalan melihat-melihat koleksi yang ada tanpa mereka yang kompeten untuk menjelaskan. Paling tidak ikut mengawasi setiap rombongan pengunjung. Koleksi yang ada usianya sudah cukup lanjut, keteledoran sedikit saja bisa berakibat fatal untuk benda-benda bernilai historis.

Wayang Indonesia sendiri sudah diakui UNESCO sebagai “Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” di Paris pada tahun 2003. Perlindungan terhadap wayang-wayang yang ada sudah jadi kewajiban. Masih ada workshop pembuatan wayang dan pagelaran wayang secara periodik bagi mereka yang berminat. Buku-buku referensi juga tersedia di Museum Wayang bagi mereka yang ingin mendalami lagi tentang manisfestasi budaya satu ini. Yuk, ramai-ramai ke Museum Wayang. Peninggalan budaya dan hasil kreativitas manusia ini memerlukan perhatian lebih dari kita.

Lanjutkan Membaca ↓