Pekerja Indonesia di Negeri Tetangga: Antara Kebutuhan Hidup vs Harga Diri

Fimela Editor08 Nov 2012, 11:59 WIB

Next

Kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tak pernah ada habisnya. Berkali-kali mereka yang ada di negeri tertangga tersangkut kasus hukum maupun jadi korban kekerasan. Akhir Oktober lalu, munculnya iklan TKI lagi-lagi membuat publik ramai. Iklan yang diperkirakan sudah beredar sejak Agustus lalu itu berisi penawaran spesial TKI dengan harga miring.

"Kalau cuma merasa tak terima, tapi tak berbuat apa pun, mau andalkan apa untuk mempertahankan diri? Toh, kenyataannya memang banyak orang lebih memilih bekerja di negeri tetangga demi mengejar kesejahteraan finansial."

Indonesian maids now on SALE!!! Fast & Easy Application!! Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax, Deposit only RM 3,500! Price RM 7,500 nett. Begitu bunyinya. Tersinggung? Emosi? Tak terima? Tak cukup dengan protes. Untuk membela diri dan menghilangkan kesempatan pihak lain merendahkan kita adalah dengan membuktikan kualitas diri sendiri. Kalau cuma merasa tak terima, tapi tak berbuat apa pun, mau andalkan apa untuk mempertahankan diri? Toh, kenyataannya memang banyak orang lebih memilih bekerja di negeri tetangga demi mengejar kesejahteraan finansial.

Nenny Soemawinata, Managing Director Putera Sampoerna Foundation, berujar, “Kita ini negara kaya, banyak orang membidik Indonesia. Kalau bukan kita yang membenahi, siapa lagi? Masa di masa depan kita jadi bawahan dengan bos-bos dari luar negeri? Ibaratnya seperti itu.” Artinya, sebagai bangsa yang kaya kita harus mengusahakan, atau memanajemen, kekayaan negeri kita dengan baik. Dan untuk melakukannya, kita butuh kemampuan, skill maupun strategi. Sayang, SDM bangsa kita yang mampu mencapai tahap itu tak banyak bila dibandingkan dengan keseluruhan jumlah penduduk. Sementara yang lainnya kurang memiliki kesadaran untuk memberdayakan diri sendiri, sebagian lagi memilih pergi ke luar negeri, mengejar kesejahteraan pribadi, karena merasa di negaranya hal itu tak terpenuhi.

 

Next

Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah juga mengaku terkejut dengan kemunculan iklan tersebut, dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia, ia pun merasa direndahkan. Iklan perdagangan manusia secara terang-terangan itu muncul di Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia, juga koran dan ruang publik lainnya, seperti internet. Tak usah meminta siapa pun bertanggung jawab, karena kita sendiri yang harusnya melakukan introspeksi. Pelecehan terjadi, juga karena kita membuka kesempatan untuk diperlakukan seperti itu.

Linda Amalia Sari Gumelar yang ditemui dalam sebuah acara pun membeberkan fakta bahwa berdasarkan data tahun 2011, pelajar perempuan usia 15 ke atas yang menyelesaikan wajib belajar 9 tahun mencapai angka 90,5 persen, dan akan makin berkurang lagi yang melanjutkan ke bangku SMA hingga perguruan tinggi. Sementara itu, dari segi potensi, Sapto Soetarjo—talent scout ternama yang terbiasa mencari dan menyeleksi talenta di bidang entertainment sejak 13 tahun silam—menyadari perempuan Indonesia kini lebih berani berkompetisi, tak cuma di bidang entertainment. Perempuan membutuhkan pengalaman sebanyak-banyaknya di tiap bidang yang digeluti, yang menuntutnya pula untuk lebih mengekspresikan diri. Kebetulan, kesempatan perempuan untuk bereksplorasi di segala bidang lebih terbuka lebar dibandingkan laki-laki yang umumnya harus memikirkan masa depan dan bagaimana agar hidup mapan sebagai penanggung jawab hidup keluarga. Artinya, dengan potensi yang ada, didukung dengan jumlah populasi tertinggi mengalahkan jumlah laki-laki, dan kesadaran masing-masing untuk memberdayakan diri, perempuan Indonesia mampu membawa perubahan besar yang berkaitan dengan pencitraan dan eksistensi bangsa kita.

See? Pergunakan tiap kesempatan baik yang ada, Fimelova. Ingin lebih dihargai? Kita harus lebih dulu menghargai diri sendiri. Itu kuncinya. Apa lagi yang membuatmu takut bereksplorasi, dalam pekerjaan maupun pendidikan? Tak ada, kan? Bahkan, kesempatan makin terbuka lebar setelah era digital mendunia. Artinya, “dunia tanpa batas” itu pun memungkinkan kita mendapatkan segala macam informasi yang sangat bisa mendukung proses belajar kita, membekali kita dengan beragam ilmu dan keterampilan secara cuma-cuma. Setelahnya, tunjukkan kepada dunia bahwa bangsa kita, terutama perempuan Indonesia, tak hanya menang dalam hal jumlah populasi, tapi juga punya potensi yang patut dihargai, lebih dari sekadar “obralan”.

Lanjutkan Membaca ↓