Joko Widodo, dari Surakarta ke Jakarta untuk Jadi Presiden

Fimela21 Mar 2014, 10:00 WIB

joko widodo

Setahun lebih sedikit Joko Widodo memimpin Jakarta, ia membuat langkah politik yang lebih besar lagi. Langkah politik yang menimbulkan kontroversi karena dianggap mengingkari janjinya sendiri. Beberapa pihak menyarankan, ia sebaiknya menyelesaikan satu periode sebagai gubernur DKI Jakarta agar terlihat apakah ia cukup teruji untuk menangani problematika Jakarta yang memang sudah kelewat rumit. Kata serakah jabatan bahkan keluar dari beberapa pihak, yang menuding Joko Widodo nggak sabaran.

Tapi, sisanya menganggap justru ini adalah saatnya ketika ia menjadi favorit banyak orang dan memiliki catatan bersih dari korupsi.  Majalah Time versi online akhir pekan lalu menulis bahwa Joko Widodo bisa menang mutlak di pemilu Presiden tahun ini. Time bahkan memperkirakan Joko Widodo mampu meraih 30 sampai 40% dari total suara yang masuk.

Asli Surakarta, laki-laki kelahiran 1961 ini sempat mengenyam pendidikan S1 di Universitas Gajah Mada. Sebelum menjadi Walikota Surakarta, laki-laki beranak 3 ini adalah pengusaha mebel yang sukses. Awalnya sempat diragukan bisa membawa perubahan signifikan untuk Surakarta, laki-laki yang gemar mengenakan kemeja putih di segala kesempatan ini menunjukkan bahwa ia serius.

Gebrakan-gebrakannya di Surakarta menggiring Joko Widodo ke Jakarta. Pemilukada DKI 2012 dimenangkan Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama dengan mengumpulkan lebih separuh dari total suara yang masuk. Mengalahkan saingan mereka, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Dan pada 29 September 2012, Joko Widodo resmi menjadi Gubernur ke-17 DKI Jakarta

Bergabungnya Joko Widodo di bursa calon Presiden menjadikan persaingan September nanti semakin panas. Perjalanan menuju September pun tidakkan mudah bagi laki-laki yang dibilang ‘ndeso’ oleh tetangga-tetangganya di Surakarta ini.

Saat Joko Widodo resmi diumumkan menjadi calon Presiden pekan lalu, bursa saham menunjukkan penguatan yang sangat signifikan. Di sisi lain, banyak sambutan positif pula di media sosial. Banyak pribadi yang mengakui bahwa pencalonan Joko Widodo membuat mereka memiliki alasan kuat untuk memberikan suara September nanti. Yang berarti, jumlah golongan abstain pemilu nanti akan berkurang. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa cukup banyak juga yang sangat kecewa dengan keputusan majunya Jokowi sebagai calon presiden.

Nah, dari paparan ini, kamu ada di kelompok yang akan semangat menyambut pemilihan Presiden nanti, atau masih merasa ragu? September masih lama dan banyak hal masih bisa terjadi, Fimelova. Saatnya mengenali calon-calon legislatif, juga calon Presiden yang akan memikul tanggung jawab berat. Membawa mandat dari kita, nih, sebagai warga Negara.

Nusantara Fashion Festival 2020 : Fashion Talks