4 Hal Sulit yang Dilalui Marsha Aruan Saat Syuting Tembang Lingsir

Syifa Ismalia26 Des 2018, 06:45 WIB
[Fimela] Marsha Aruan

Fimela.com, Jakarta Marsha Aruan Sudah sering kali bermain film horor. Terbaru, Marsha membintangi film Tembang Lingsir produksi Dee Cinema dan MD Pictures. Ada alasan tertentu yang membuatnya tertarik hingga mau main film ini.

"Memang lagi horor terus karena kebetulan film-film horor yang ditawarkan ke aku karakternya menantang begitu. Ini kan termasuk menantang karena berakting dalan diam, jadi belum pernah punya peran seperti ini, karakter seperti ini, jadi kenapa enggak dicoba," ujarnya di XXI Metropole, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Film ini menceritakan hidup Mala (Marsha Aruan) yang senantiasa beurusan dengan Tembang Lingsir, tembang yang diajarkan ibunya sejak kecil. Setelah insiden kebakaran misterius yang menewaskan ibunya, Mala kehilangan suaranya.

 

[Fimela] Teuku Rifnu Wikana
Preskon film Tembang Lingsir (Nurwahyunan/Fimela.com)

Kemudian, Mala tinggal di rumah pamannya, Om Gatot (Teuku Rifnu Wikana) dan istrinya, Tame Gladys (Meisya Siregar) bersama dua anak mereka, Daisy (Aisyah Aqilah) dan adiknya, Ronald. Di mmah tersebut, juga ada Mbok Rahma, yang mengurus keperluan mereka. Daisy, anak millenials yang super up to date, merasa terganggu dengan kehadiran Mala yang dianggapnya freak dan kampung. Sememara Ronald yang memang tidak akrab dengan kakaknya, malah senang dengan kehadiran Mala.

Namun sejak kedatangan Mala, suasana rumah tidak lagi sama. Banyak kejadian aneh yang muncul. Mbok Rahma menuduh Mala lah penyebab semua kekacauan ini. Namun, Mala merasa ada rahasia besar di dalam rumah ini yang membuat semua teror tersebut muncul.

Setiap film ada hal yang berbeda menurut Marsha Aruan. Seperti halnya di film Tembang Lingsir yang akan tayang pada 31 Januari 2019 mendatang. Menurut wanita 22 tahun itu, dalam film garapan Rizal Mantovani ini dirinya tak banyak menemukan adegan yang sulit.

Namun matanya sempat sakit hingga membuatnya menjadi sedikit terganggu saat syuting. Berikut 4 hall sulit yang dilalui Marsha Aruan saat syuting film Tembang Lingsir.

 

1. Sakit Mata

Marsha Aruan
Marsha Aruan saat membintangi film Tembang Lingsir (Istimewa)

"Sebenernya enggak susah (mainin film ini), cuman waktu itu pada saat proses syuting itu mataku sempet sakit, bukan virus atau apa tapi kayak waktu itu sempet retinanya terkoyak. Jadi matanya kalo ada yang sempet ada yang jeli mata aku yang sebelah itu warnanya merah, ada beberapa scene itu matanya sakit," Marsha Aruan usai preskon trailer film Tembang Lengsir di XXI Metropole, Jakarta Pusat, Senin (10/12/2018).

"Nah itu kesulitannya saat sakit mata itu justru, harus melihat ke arah cahaya, kan kalau sakit mata gabisa lihat cahaya terlalu langsung, jadi pas gini (lihat cahaya) harus tahan, baru tetes lagi, lihat lagi, tetes lagi, rada ribet cuman karena enggak bersuara jadi lumayan bikin waktunya jadi lebih cepet aja," tuturnya.

 

2. Jadi Gagu

[Fimela] Marsha Aruan
Preskon film Tembang Lingsir (Nurwahyunan/Fimela.com)

Tak hanya itu saja, dalam film produksi MD Picture ini, kekasih El Rumi tersebut harus menjadi orang gagu. "Pastinya yang enggak, yang enggak ada dialog malah lebih sulit. Iya (lebih terkuras energi) soalnya kan suaranya gabisa keluar jadi kayak nahan suara aja udah lebih banyak energi kayak dua kali lipat, lebih capek," tutur Marsha Aruan.

 

3. Menguras Energi

[Fimela] Preskon film Tembang Lingsir
Preskon film Tembang Lingsir (Nurwahyunan/Fimela.com)

Diakui wanita 22 tahun itu, bermain sebagai seorang gagu sangat menguras energi yang ia miliki. Sehingga ia mengaku sangat sulit saat memerankan Mala dalam film terbarunya ini.

"Pastinya yang enggak, yang enggak ada dialog malah lebih sulit. Iya (lebih terkuras energi) soalnya kan suaranya gabisa keluar jadi kayak nahan suara aja udah lebih banyak energi kayak dua kali lipat, lebih capek," tuturnya.

 

4. Terbebani

[Fimela] Marsha Aruan
Preskon film Tembang Lingsir (Nurwahyunan/Fimela.com)

Akting menjadi orang gagu, Marsha Aruan mengaku lebih terbebani dibandingkan biasanya. Hal itu dikarenakan ia harus bisa berekspresi yang meyakinkan penonton bagaimana perasannya tersebut di dalam film.

"Justru malah tambah beban karena kalau menurut aku dengan adanya dialog malah mempermudah, kalau buat aku dialog mempermudah. Tapi justru karena harus bermain dengan ekspresi sepanjang film, setiap saat, jadi menurut lebih sulit aja sih," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓