4 Film Indonesia Bertema Kesetaraan Gender untuk Rayakan Hari Perempuan Sedunia

Puput Puji Lestari08 Mar 2019, 17:45 WIB
[Bintang] Dian Sastrowardoyo

Fimela.com, Jakarta Sejarah mencatat awal mula tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia yaitu di tahun 1908. Sekitar 15.000 perempuan berbaris (march) di sepanjang jalanan kota New York pada tanggal 28 Februari 1908. Perempuan-perempuan ini menyadari adanya ketimpangan yang mereka alami soal pemberlakuan jam kerja, upah dan fasilitas yang berbeda yang didapatkan pekerja perempuan dengan laki-laki.

Di hari yang sama, di tahun-tahun berikutnya, para perempuan mengadakan protes yang didukung oleh partai sosialis Amerika. Mereka mengadakannya di hari Minggu terakhir setiap bulan Februari hingga tahun 1913 dan akhirnya konsensus memutuskan tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia.

 

[Fimela] Perempuan dalam dunia bisnis
Ilustrasi Perempuan dalam Dunia Bisnis | unsplash.com

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki tema berbeda untuk merayakan International Women's Day 2019 yaitu “Think equal, build smart, innovate for change". Sementara itu IWD mengambil tema #BalanceforBetter dengan tujuan melanjutkan tantangan yang mendatang dan mempercepat paritas gender.

Tema ini mangajak para perempuan di seluruh dunia untuk mempercepat perwujudan keseimbangan gender baik dalam bisnis, politik, liputan media, dan kekayaan di seluruh dunia. Kamu juga bisa merayakan Hari Perempuan Sedunia dengan nonton 4 film ini.

 

1. Kartini

Film Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo yang dirilis April 2017 menceritakan tentang kehidupan pahlawan wanita Indonesia, R.A. Kartini. Film tersebut dibintangi oleh sederet bintang papan atas Indonesia seperti Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Adinia Wirasti, Acha Septriasa, Reza Rahadian dan lain-lain.

Film ini fokus pada era kehidupan Kartini selama dipingit sampai akhirnya menikah. Dalam pingitan, Kartini tetap belajar dengan membaca buku. Setelah menikahpun, Kartini tak mau kehilangan kesempatan untuk mendidik perempuan.

 

2. 3 Srikandi

[Bintang] Adegan film 3 Srikandi
Foto Adegan film 3 Srikandi (Doc: Multivision Plus)

Film 3 Srikandi karya sutradara Iman Brotoseno ini menceritakan kisah tiga atlet panah perempuan Indonesia yang berhasil meraih emas Olimpiade yang berlangsung pada 1 Oktober 1988 di Seoul, Korea Selatan.

Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies Handayani (Chelsea Islan), dan Kusuma Wardhani (Tara Basro), punya konfliknya sendiri menjelang berlangsungnya olimpiade. Film ini menceritakan tentang bagaimana ketiganya berhasil melewati masa-masa sulit dan berbagai pertentangan batin sebelum menjadi perempuan hebat karena prestasi di bidang olahraga.

 

3. Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar

Merry Riana, Mimpi Sejuta Dollar
Film yang diambil dari kisah nyata seorang pebisnis sukses asal Indonesia bernama Merry Riana.

Diangkat dari kisah nyata, film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar mengisahkan Merry (Chelsea Islan) perempuan keturunan Tionghoa yang sedang berusaha mengatasi masalah diskriminasi di Indonesia pada tahun 1998. Merry kemudian berlabuh ke Singapura dan belajar mengikuti program student loan yang merupakan sebuah program berupa pinjaman untuk pelajar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, uang saku, hingga tempat tinggal selama berada di masa perantauan.

Meskipun harus jatuh bangun melepas trauma dari Indonesia serta berbagai hambatan yang didapat selama menempuh hidup di Singapura membuat perjalanan Merry tidak mulus.

Untuk menopang hidupnya selama di Singapura, Merry melakukan berbagai macam pekerjaan seperti menyebar brosur hingga menjadi agen asuransi. Catatan ini yang kemudian di filmkan dan menunjukkan bahwa seorang wanita bisa melalui kegagalan dan mencoba memaknai hidupnya dengan bijak.

 

4. Athirah

Film Athirah
Film Athirah (Twitter/Miles Film)

Film tentang peran seorang Ibu dari tokoh nasional bernama Jusuf Kalla menjadi sajian dari Athirah. Athirah (Cut Mini Theo) merupakan sosok wanita yang harus melawan pergolakan batin ketika sang suami Puang Aji yang berkeinginan menikahi perempuan lain.

Apalagi di tahun ‘50-an, poligami merupakan sebuah hal yang lumrah sehingga perempuan diibaratkan “merelakan” suami yang mereka cintai.

Athirah kemudian harus memilih egonya atau keutuhan keluarga yang harus tetap dijaga. Secara umum film Athirah menceritakan perjuangan seorang wanita berhadapan dengan hal-hal yang akan sangat mungkin menyakitkannya.

Lanjutkan Membaca ↓