Cerita Astrid S tentang Album Debut dan Isu Gender di Industri Musik

Nizar Zulmi16 Okt 2020, 20:08 WIB
Diperbarui 16 Okt 2020, 20:08 WIB
Astrid S

Fimela.com, Jakarta Sebuah album studio berjudul Leave It Beautiful baru saja diluncurkan oleh solois muda, Astrid S. Karya tersebut jadi album studio perdana bagi penyanyi dan pencipta lagu asal Norwegia ini setelah merilis sejumlah EP.

Astrid S bisa dibilang memiliki karier yang cukup matang dengan tujuh tahun perjalanannya di industri musik. Namanya mulai dikenal sejak mengikuti ajang pencarian bakat di negaranya, kemudian berhasil mencetak hitsnya sendiri serta berkolaborasi dengan musisi hebat lain seperti Matoma, JP Cooper hingga Shawn Mendes.

Merilis album studio perdana jadi tantangan tersendiri bagi Astrid S. Setelah tujuh tahun dan merasa lebih dewasa dalam bermusik, full album miliknya pun diluncurkan di tahun 2020.

"Aku mulai menulis lagu di album ini tepat sejak Oktober tahun lalu, dan aku sudah merencanakan untuk merilisnya tahun 2020. Ini adalah tahun yang aneh, tapi kurasa saat ini orang-orang justru ingin mendengar musik baru, dan masih banyak yang menikmatinya. Jadi aku tak ingin menunggu sampai 2021," tutur Astrid S tentang album barunya dalam sesi wawancara dengan Fimela (15/10).

Kerja Kolaborasi

Astrid S
Astrid S (Instagram astridsofficial)

Untuk memastikan karyanya punya kualitas yang tepat, Astrid S juga bekerja sama dengan penulis serta produser hebat. Beberapa di antaranya adalah Fred Ball, (penulis lagu Rihanna, Beyonce hingga Madonna), Jack & Coke (Charli XCX, Tove Lo, Carly Rae Jepsen, Rita Ora), LudvigSöderberg (Tove Lo, P!nk), dan beberapa lainnya.

Kolaborasi tersebut terjadi dengan chemistry yang baik, sehingga ia dan produser bisa saling menyatukan ide. Astrid menikmati proses itu dengan tidak memikirkannya terlalu keras.

"Kenal dan dekat dengan mereka terasa menyenangkan, untuk tahu lebih banyak tentang mereka. Kami minum bersama, atau jalan-jalan, seperti yang kita lakukan dengan teman. Aku tak ingin berusaha terlalu keras memikirkan lagunya, jadi kadang aku datang ke studio dengan ide chorus, atau kami di studio dan ngobrol tentang kehidupan, dan tiba-tiba ada celetukan yang menarik untuk dijadikan lagu. Dari situ lagu-laguku dimulai," lanjutnya.

Album Leave It Beautiful terdiri atas 10 track, termasuk sejumlah single yang sudah ia unggah sebelumnya yakni Marilyn Monroe, Dance Dance Dance hingga tembang berlirik sendu, It's OK If You Forget Me.

Tantangan Perempuan di Industri

Astrid S
Astrid S (Instagram astridsofficial)

Salah satu track di album Leave It Beautiful menyinggung tentang feminisme, yakni Marilyn Monroe. Lirik lagu tersebut menegaskan kepada para perempuan untuk berani mengekspresikan diri dan jadi apa yang mereka mau. Selama tujuh tahun kariernya, Astrid juga mengakui adanya sterotip tertentu terhadap perempuan di industri musik.

"Menurutku isu gender masih ada, dan ada bukti yang memperlihatkan ketimpangan gender seperti artis pria akan mendapat bayaran lebih besar, atau di festival mereka akan lebih banyak dapat tawaran. Tapi itu dari perspektifku sendiri, dan aku juga tak tahu rasanya menjadi seorang artis pria di industri. Namun kadang ada orang yang memandang rendah terhadapku, entah karena aku perempuan atau karena usiaku yang masih muda, tapi kurasa aku pernah mengalami hal itu," ujar penyanyi 23 tahun tersebut.

"Sebagai penulis lagu kadang aku juga merasa orang meremehkanku, dan tidak membuat laguku sendiri. Aku punya kontrol penuh untuk karierku, dan aku yang memutuskan lagu yang ingin kurilis, seperti apa cover albumnya, dan apa yang ingin kulakukan. Itu semua benar-benar aku yang memilih, dan sepertinya orang tak berpikir demikian," pungkasnya.

Simak video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓