Suguhan Musik Folk-Rock di Album Perdana Everlook, Story

Nizar Zulmi10 Apr 2021, 13:45 WIB
Diperbarui 10 Apr 2021, 13:46 WIB
Everlook

Fimela.com, Jakarta Everlook, grup band independen asal Jakarta resmi merilis album perdana mereka bertajuk “Story” pada Maret 2021 kemarin. Album ini terdiri dari 12 single lagu bernuansa folk-rock yang menggambarkan dualisme dari realitas.

Story sebagai sebuah album berusaha menampilkan dua sisi realita kehidupan manusia, sisi baik yang menggambarkan kehidupan penuh warna, kebahagiaan, dan sukacita, dan bagian lainnya menggambarkan kehidupan gelap yang dipenuhi rasa hampa dan putus asa. 

“Penggambaran dua sisi kehidupan yang kontradiktif dari album pertama kami (Story) bertujuan untuk mempersembahkan beragam kisah dari berbagai situasi senang dan sulit terutama di masa pandemi seperti ini," kata Erka, vokalis Everlook.

Cerita dalam Pandemi

Project musik Everlook sendiri terbentuk sejak tahun 2019 lalu. Dan di masa pandemi ini, justru jadi kesempatan bagi mereka untuk produktif dan melempar album pertama.

“Situasi saat ini memang sulit, bahkan untuk tahu bagaimana kabar orang terdekat kita hanya bisa berbicara melalui telepon atau chatting. Di acara seperti perkawinan atau pergaulan yang biasanya dipenuhi dengan kebahagiaan dan cinta pun masih ada sisi sulit dan gelapnya, dibatas-batasi oleh protokol ini dan itu. Kita lebih sering terhubung dengan dunia maya. Jadi saya berharap "Story" ini dapat menemani dan mewakili berbagai macam emosi yang kita rasakan setiap hari baik yang positif maupun negatif sebagai bagian dari perasaan manusia," kata gitaris Everlook, Danau.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by everlook. (@everlook.project)

Dua Sisi

Sebagaimana konsep dualisme yang diusung, album ini terbagi menjadi dua. Bagian pertama dari “Story” menceritakan keindahan percintaan, ekspresi tulus, dan energi positif kehidupan. Album dibuka dengan Intro dan Running Out of Time. Diikuti lagu berikutnya berlirik “nyentrik” pada Hold On, My Love, dan Ekepupu.

Pada bagian kedua album, menggambarkan perspektif yang lebih realistis dan pragmatis dari berbagai emosi melalui Prayer of a Lover. Dilanjutkan dengan lagu yang terinspirasi dari kehidupan keluarga Erka, Come Again/Castaway. Bagian kedua album membawa pendengar berorientasi dalam suasana yang berbeda dengan menyisipkan Interlude sebagai “jeda”. Pada bagian akhir album, Everlook berpesan kepada pendengarnya untuk menerima setiap perasaan yang hadir, menafsirkannya kembali, dan perlahan menyadari emosi/perasaan manusia yang rumit.

Simak video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓