Apa yang Harus Dilakukan Orangtua saat Anak Terkena Leukemia?

Fimela18 Jul 2018, 14:10 WIB
Denada/copyright KapanLagi/Budy Santoso

Setiap orangtua tentu merasa sedih ketika anaknya sakit, begitu pun dengan penyanyi Denada Tambunan, yang mengetahui putri semata wayangnya didiagnosis mengidap Leukemia.

Putri cantiknya, Shakira Aurum, sudah setengah bulan lalu menjalani perawatan intensif di National University Hospital, Singapura.

“Dia (Shakira) lagi di salah satu rumah sakit di Singapura, dia lagi treatment. Dia didiagnosis dengan leukemia," tutur Denada dalam sebuah video yang diunggah Instagram gosip @lambenyinyir, Selasa (17/7/2018).

Namun, sesedih apapun Denada, ia harus tetap berbesar hati dan tegar dalam menghadapi semua yang telah terjadi. Sebab dibandingkan harus selalu bersedih, sebaiknya kita menangani anak dengan tepat ketika sudah diagnosis Leukemia.

Dijelaskan dr. Caessar Pronocitro, dokter spesial anak dari KlikDokter, penanganan setelah adanya kepastian diagnosis leukimia yang paling utama adalah melakukan kemoterapi.

Denada tetap berbesar hati dan tegar/copyright KapanLagi.com/Agus Apriyanto

“Selama kemoterapi, anak harus dihindarkan dari risiko infeksi. Selain itu, kemoterapi juga dapat menimbulkan efek samping yang tidak nyaman sehingga gejala-gejala yang muncul harus disampaikan kepada tim dokter agar dapat ditangani juga,” ujar dr. Caessar saat dihubungi Redaksi Vemale.com

Untuk itu, dr. Caesaar menyarankan agar orangtua perlu memberikan dukungan penuh dan mendampingi anak karena kemoterapi merupakan pengobatan yang membutuhkan waktu lama.

“Dukungan emosional baik dari orangtua maupun keluarga, teman, dan lingkungan akan sangat memotivasi anak untuk menguatkan diri dalam menjalani kemoterapi hingga tuntas,” tambahnya.

Dr. Endang Windiastuti, SpA(K)., MM (Paed), juga menyarankan untuk deteksi dini dengan mengenali gejala dan tanda leukemia. Namun jika sudah terdiagnosis, perawatan penting dilakukan dan memerlukan dukungan keluarga.

Leukemia bisa menyerang siapa saja termasuk anak-anak./copyright Shutterstock.com

“Keluarga agar mengikuti anjuran dokter, bila kurang mengerti jangan ragu untuk bertanya pada dokter karena kerja sama dokter, tenaga medis dan keluarga sangat dibutuhkan,” ujar dr. Endang.

Leukemia bisa menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa, seperti dikatakan dr. Enang. Walau belum ada pencegahan yang spesifik, namun tidak ada salahnya kita menjaga pola hidup sehat dan hindari makanan dengan zat kimia sehingga bisa mencegah kita terkena leukemia.

Lebih lanjut, dr. Caessar mengatakan ada berbagai jenis leukemia yang sering ditemukan pada anak-anak, yaitu leukemia akut. Ada beberapa kondisi seperti sindrom Down atau sindrom Li-Fraumeni yang penderitanya memiliki risiko lebih besar mengalami leukemia.

Selain adanya kelainan genetik, tidak ada faktor lingkungan atau gaya hidup yang diketahui mempengaruhi terjadinya leukemia.

“Paparan radiasi pada ibu hamil juga belum terbukti secara jelas melalui penelitian sebagai faktor risiko terjadinya leukemia, walaupun pemeriksaan dengan radiasi disarankan tidak dilakukan pada ibu hamil dan anak-anak kecuali sangat dibutuhkan. Maka pencegahan dari penyakit ini tidak ada,” tutup dr. Caessar.

(vem/asp/feb)