Ibu 5 Anak Donorkan Rahim pada Perempuan Lain, Ini Alasannya

Febi Anindya Kirana27 Mar 2019, 10:50 WIB
hamil

Fimela.com, Jakarta Bisa mengandung anak sendiri mungkin menjadi salah satu hal yang diharapkan banyak perempuan setelah menikah. Namun tak semua perempuan bisa merasakan hamil dan menjadi ibu. Hal ini jugalah yang dialami Aprill Lane selama bertahun-tahun sebelum memiliki lima anak seperti sekarang.

Ia mengadopsi seorang anak laki-laki setelah didiagnosis dengan "kemandulan tak terjelaskan", dan tetap berusaha selama empat tahun dengan cara fertilisasi in vitro (IVF)hingga akhirnya bisa hamil anak keduanya, bayi laki-laki yang 13 bulan lebih tua dari kakaknya.

Perempuan yang bekerja dalam bidang bioteknologi ini mencoba hamil lagi dengan menggunakan cara yang sama (IVF), dan hamil anak perempuan kembar. Tak lama setelah itu, ia hamil lagi dan melahirkan seorang bayi perempuan.

Setelah melalui semua hal ini, akhir tahun lalu ia memutuskan mendonorkan rahimnya dan telah melakukannya untuk perempuan lain agar bisa memiliki kesempatan yang sama seperti dirinya, yaitu mengandung dan memiliki anak.

Aprill Lane mengatakan,"Kemandulan terlepas dari efek fisik, secara emosional dan sosial juga membebanimu dengan sangat besar. Jika aku bisa membantu perempuan lain untuk melepaskan beban itu, maka aku akan melakukan."

Semua ini bermula saat ia dan suaminya membangun yayasan untuk membantu mereka yang juga mengalami kesulitan memiliki anak. Dari situ, April mendengar adanya transplantasi rahim yang dilakukan di klinik Baylor University Medical Center di Dallas.

 

2 of 2

Donorkahn Rahim agar Perempuan Lain bisa Punya Anak

ibu
April Lane dan keluarga

Setelah ia dihubungi pihak yang bersangkutan, ia sudah yakin benar akan sungguh-sungguh melakukannya. Ia harus melalui perjalanan panjang dari Boston, tempat tinggalnya, ke Dallas untuk menjadi pendonor.

Dr. Liza Johannesson, ahli bedah sekaligus perintis dalam hal ini mengatakan,"Hal ini sangat mengagumkan, karena ia merupakan salah satu perempuan-perempuan yang sebelumnya juga mengalami kesulitan yang sama. Dia tahu bagaimana perjuangan dan penderitaannya, dan mau menjadi pendonor."

Operasi berjalan sembilan jam dan rahim dari tubuhnya telah dipindahkan ke tubuh perempuan lain. Baik pendonor maupun penerima donor tidak dipertemukan karena alasan privasi, namun keduanya bertemu dan akrab, bahkan April menjadi ibu baptis dari anak yang dikandung perempuan yang menerima donor rahimnya.

Untuk bisa kembali pulang, April harus menghabiskan waktu seminggu untuk istirahat total dan belum boleh mengangkat benda berat selama delapan minggu, merasakan sakit luar biasa setelah biusnya hilang, ada risiko mengalami komplikasi di masa depan dan bahkan harus mengurangi banyak aktivitas dengan anak-anaknya.

Namun April mengatakan ia akan melakukannya lagi seandainya punya rahim lain. Ia tahu bagaimana penderitaan dan sedihnya perempuan yang tak bisa memiliki anak, dan bisa membantu justru membuatnya ikut bahagia.

Lanjutkan Membaca ↓