Bukan Tanpa Alasan, Ini 5 Penyebab Anak-Anak Menangis!

Febi Anindya Kirana27 Mar 2019, 16:15 WIB
anak

Fimela.com, Jakarta Anak-anak terkadang memiliki emosi yang labil, terkadang ia bisa menangis dengan alasan yang tak diketahui. Sebagai orangtua, hal ini bisa menyebabkan frustasi. Harus belajar sabar jika ingin memahami anak dengan baik, terutama belajar memahami dan mengetahui apa saja sebab anak-anak menangis.

Umumnya, anak-anak menagis untuk melepaskan emosi. Penelitian tahun 2011 yang diterbitkan dalam Journal of Research and Personality menemukan bahwa ada beberapa manfaat membiarkan anak menangis, karena ini membuatnya merasa lega dan lebih baik.

Tapi jika bisa dihindari penyebabnya, akan lebih baik.

1. Kelelahan

Anak-anak menangis karena capek dan belum mendapat tidur siangnya. Karena bingung harus berbuat apa dan menunjukkan emosi seperti apa, yang paling mudah dilakukannya adalah menangis. Ini adalah tanda ia butuh istirahat.

2. Lapar

Anak bisa menunjukkan amarah tapi bisa juga menangis, karena ia lapar. Ia belum tahu bagimana cara mengungkapkannya secara verbal, atau tak tahu cara membedakan lapar dan berbagai kondisi tak enak lain dalam tubuhnya, sehingga secara sederhana yang ia lakukan adalah menangis.

3. Berada di tempat ramai

Anak bisa mengalami overstimulated karena diajak ke tempat ramai dan penuh dengan orang seperti arisan, pesta, festival dan lain sebagainya. Karena acara-acara ini berlebihan dan membuatnya bingung. Tapi anak tak tahu apa yang salah, sehingga ia menangis. Ajak pulang atau ke tempat tenang jika hal ini terjadi.

4. Ingin perhatian

Anak-anak butuh perhatian, jika ia tak mendapatkan dari orangtuanya, ia bisa kesal atau murung. Karena rasa kesepian, kehilangan perhatian dan kepedulian dari orangtuanya, anak bisa menangis.

5. Menginginkan sesuatu

Anak-anak seringkali belum mahir mengungkapkan keinginannya. Jika anak ingin jajan A atau mainan B, terkadang ia malu mengatakannya namun menginginkannya. Cobba lihat interaksi apa yang dilakukan anak sehingga ia menangis.

Orangtua memang harus peka memahami maksud anak, karena anak seringkali ingin mengungkapkan sesuatu namun tak bisa, dan pada akhirnya memilih menangis.