Setahun Kampanye Perangi Stunting Lewat Posyandu, Efektifkah?

Novi Nadya21 Jul 2019, 20:27 WIB
Stunting

Fimela.com, Jakarta Stunting (dibaca: stan-ting) tidak sama dengan gizi buruk. Jika stunting diukur dengan tinggi badan, gizi buruk diukur dengan berat badan berdasarkan umur.

Stunting bisa dicegah sejak 1000 hari pertama kehidupan bayi yang dihitung mulai dari hari pertama konsepsi hingga anak berusia 2 tahun. Mengingat pentingnya masa keemasan tersebut, ada tiga hal yang harus diperhatikan; pola makan, pola asuh, dan sanitasi.

Lewat acara Stunting: Costs, Causes and Courses for Action bersama Senior-Advisor- Executive Officer of the President Republik Indonesia Dr. Brian Sriprahastuti ia membagikan awareness dalam kampanye memerangi stunting. Kampanye yang sudah berjalan selama setahun salah satunya pendekatan lewat Posyandu.

"Kami mengganti selembar KMS (Kartu Menuju Sehat) dengan buku sebagai referensi orangtua. Kemenkes juga melakukan penelitian selama 1 tahun hingga akhirnya dipilih strategi warna, blue, pink, green," ujar Dr. Brian Sriprahastuti di Facebook Ruang Komunal, One Pacific Place, Minggu (21/7) sore.

Warna yang dipilih dirumuskan menjadi simbol, hujau untuk food (sayuran), pink untuk pola asuh, dan biru untuk sanitasi. Selain itu, Posyandu membagikan poster untuk mengukur tinggi badan disertai dengan informasi dari ketiga warna tersebut yang bisa dibawa pulang para ibu.

 

 

 

 

Stunting
Poster Stunting (Fimela.com/Novi Nadya)

Posyandu Relevan untuk Kaum Urban

Stunting
Dr. Brian Sriprahastuti membahas stunting (Fimela.com/Novi Nadya)

"Isu stunting bukan hal baru lagi, tapi kampanye ini baru berlangsung satu tahun. Sekarang banyak demand dari komunitas yang ingin mengetahui lebih banyak tentang stunting dan pembekalan kader Posyandu untuk bisa memberikan edukasi pada para ibu," lanjutnya.

Jika kampanye perlahan sudah dirasakan manfaatnya, lantas bagaimana peran Posyandu di perkotaan? Apakah Posyandu masih relevan bagi kaum urban? 

Dr. Brian membagikan opininya yang menginisiasi digitalisasi Posyandu di perkotaan. Di mana semua orang mengakses semua informasi lewat smartphone ketimbang membawa buku.

"Kepengin, sih, nanti semua bisa diakses dari smartphone. Misalnya ada aplikasi yang memantau tumbuh kembang tanpa harus ke Posyandu," harapnya.

 

#GrowFearless with FIMELA 

Lanjutkan Membaca ↓