5 Tips Menangani Anak yang Makannya Sedikit atau Small Eaters

Endah Wijayanti16 Des 2019, 08:15 WIB
small eater

Fimela.com, Jakarta Bayi dan anak berusia enam bulan hingga tiga tahun ada yang mengalami masalah makan. Salah satu masalah makan adalah small eaters atau yang sering juga disebut infatile anorexia. Anak small eater makan dalam jumlah sedikit dan tidak pernah mencapai rasa kenyang. Kondisi anak yang seperti itu kerap membuat orangtua cemas.

Anak small eaters jarang menunjukkan tanda lapar. Ia juga menolak makan dalam jumlah yang cukup selama lebih dari satu bulan. Mengutip buku Mommyclopedia, 567 Fakta tentang MPASI, anak small eater bisa mengalami growth faltering. Namun, kondisinya yang makan dalam jumlah sedikit tidak disebabkan oleh kondisi medis tertentu dan tidak ada riwayat kejadian yang membuat trauma. Dia bisa tetap berkembang dengan normal.

 

Tips Menangani si Small Eater

mpasi mudik
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Untuk menangani dan mengatasi anak small eater, ada sejumlah tips yang bisa dicoba. Berikut strategi pemberian makan untuk anak small eaters.

1. Pastikan ada jeda selama tiga jam atau lebih di antara waktu makan dan kudapan.

2. Mulailah proses makan dalam 15 menit setelah makanan ditawarkan dan batasi durasinya hingga 30 menit.

3. Jika anak tidak memulai makan dalam 15 menit atau menyelesaikan makan dalam 30 menit, hentikan proses makan.

4. Jangan tawarkan kudapan atau minuman lain di antara waktu makan yang telah diatur.

5. Doronglah anak untuk makan sendiri.

Satu hal lagi yang sangat penting dalam menanangi anak small eaters adalah hindari distraksi selama makan. Ajak anak untuk menikmati proses makan dan fokus menghabiskan makanannya.

Penyebab dari masalah makan pada anak pun beragam. Bisa karena cara kita dalam memberikan makanan yang salah, kelainan struktur anatomis, masalah interaksi antara anak dan orangtua atau pengasuh, perilaku makan anak, dan perilaku yang mungkin berhubungan dengan kondisi medis tertentu. Kita perlu mencari sumber masalahnya dengan secermat mungkin agar bisa menemukan solusinya yang lebih tepat. Selain itu, perlu juga berkonsultasi ke dokter spesialis anak bila ada kondisinya mengkhawatirkan.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓